Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Universitas UMY, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, dalam Pelatihan Etika dan Komunikasi bagi Staf UMY yang digelar di Gedung Ar Fachruddin A, Kamis (11/12).
Bachtiar menekankan bahwa nilai pelayanan telah lama menjadi inti ajaran Islam.
“Hadis tentang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya memuliakan tamu menunjukkan bahwa pelayanan bukan sekadar urusan administratif, tetapi ibadah. Kalau pelayanan itu diniatkan sebagai ibadah, maka ada pahalanya,” ujar Bachtiar.
Ia menjelaskan, standar komunikasi yang baik, sikap ramah, serta kemampuan menciptakan kenyamanan merupakan elemen penting dalam prinsip hospitality Islam.
Bahkan, ajaran Islam memberikan batasan etis dalam menjamu tamu hingga tiga hari pertama, periode ketika tuan rumah dianjurkan memberi layanan terbaik.
Bachtiar menilai nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan kebutuhan pelayanan kampus saat ini.
Sikap tidak ramah, respons lambat, atau pelayanan yang tidak komunikatif, katanya, dapat merusak citra institusi. Terlebih di era media sosial, keluhan mahasiswa dapat dengan cepat viral dan berdampak luas.
“Begitu mahasiswa tak nyaman, mereka bisa langsung unggah keluhan di TikTok atau platform lain. Dampaknya bukan hanya pada unit pelayanan terkait, tetapi reputasi UMY secara keseluruhan,” ujarnya.
Karena itu, UMY mendorong pembiasaan pelayanan prima agar menjadi karakter melekat bagi seluruh staf. Sikap ramah, sabar, dan komunikatif diharapkan berkembang menjadi akhlakul karimah yang mencerminkan nilai keislaman dalam praktik profesional modern.
“Saya berharap seluruh staf mampu menginternalisasi nilai pelayanan prima sebagai identitas institusi. Dengan begitu, profesionalitas modern dapat berjalan selaras dengan etika keislaman dalam setiap interaksi dengan mahasiswa, tamu, dan publik,” kata Bachtiar. (ihd)