JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Ketimpangan distribusi tenaga medis dan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan spesialis masih menjadi persoalan struktural dalam sistem kesehatan nasional. Situasi ini menuntut penguatan pendidikan dokter spesialis agar layanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih merata dan berkelanjutan.
Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Ir. Slamet Riyadi, S.T., M.Sc., Ph.D., mengatakan, peran perguruan tinggi menjadi kunci dalam menjawab tantangan tersebut. Hal itu ia sampaikan dalam Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode LXXXVII Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY, Rabu (28/1/2026), di Convention Hall Gedung Erwin Santosa RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Pada periode ini, sebanyak 18 dokter baru resmi diambil sumpahnya. Dengan tambahan tersebut, UMY telah meluluskan total 4.278 dokter. Menurut Slamet, capaian ini mencerminkan konsistensi UMY dalam mencetak tenaga medis yang siap mengabdi di berbagai wilayah dengan karakter dan tantangan kesehatan yang beragam.
Namun, kontribusi pendidikan kedokteran, kata dia, tidak cukup berhenti pada pencetakan dokter umum. Dunia kedokteran Indonesia masih dihadapkan pada persoalan pemerataan tenaga medis, sekaligus tuntutan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan layanan kesehatan yang semakin kompleks.
“Karena itu, penguatan pendidikan dokter, terutama pendidikan dokter spesialis, menjadi keniscayaan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, UMY telah memperoleh Surat Keputusan pendirian 10 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Langkah ini dinilai sebagai komitmen institusional untuk mendukung penguatan sistem kesehatan nasional secara berkelanjutan, khususnya dalam menjawab kekurangan tenaga medis spesialis di berbagai daerah.
Slamet juga menekankan bahwa sumpah dokter bukan sekadar penanda kelulusan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab profesional yang panjang. Profesi dokter, menurutnya, menuntut komitmen sebagai pembelajar sepanjang hayat.
“Seorang dokter harus terus belajar dan memperbarui ilmunya demi keselamatan pasien serta kemaslahatan umat, bangsa, dan negara,” katanya.
Sejalan dengan visi UMY, para dokter lulusan diharapkan mampu memadukan kompetensi medis dengan nilai-nilai keislaman dan etika profesi. Penguasaan ilmu pengetahuan, lanjut Slamet, perlu berjalan beriringan dengan kepekaan nurani dan tanggung jawab moral dalam praktik pelayanan kesehatan.
UMY, melalui pendekatan tersebut, menegaskan posisinya tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun layanan kesehatan yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan. (ihd)






