JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memperluas kiprah internasionalnya melalui program pengabdian masyarakat bertajuk ‘Peningkatan Literasi AI bagi Aparatur dan Bisnis sebagai Fondasi Implementasi Agile Digital Governance dalam Layanan Publik’. Program ini digelar di Mindanao State University – Iligan Institute of Technology, kawasan Mindanao, Filipina.
Kegiatan yang berlangsung di Colleges of Art and Social Sciences tersebut menjadi upaya konkret menjembatani kesenjangan literasi digital di kawasan ASEAN, khususnya pada sektor publik dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Program ini dipimpin Ratih Herningtyas bersama Helen Dian Fridayani. Ratih menjelaskan, pemilihan Mindanao dilandasi kesamaan tantangan dengan sejumlah daerah berkembang di Indonesia, terutama terkait rendahnya literasi teknologi.
“Pemahaman terhadap kecerdasan buatan masih terbatas, baik di sektor pemerintahan maupun UMKM. Padahal, AI menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi layanan dan daya saing ekonomi,” ujarnya.
Program yang dirancang berlangsung sepanjang 2026 ini tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga pendampingan berkelanjutan agar implementasi teknologi tidak berhenti pada tahap awal.
Mengusung pendekatan Community-Based Participatory Training (CBPT), peserta dilibatkan secara aktif dalam praktik penggunaan teknologi kecerdasan buatan. Sejumlah platform seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Microsoft Copilot digunakan dalam pelatihan, termasuk materi prompt engineering dan desain layanan berbasis AI.
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah lokakarya pembuatan chatbot yang dipandu Aldryan Bagaskara Mahendro. Teknologi ini dinilai relevan untuk mendukung otomasi layanan administratif serta meningkatkan kualitas layanan pelanggan bagi UMKM setempat.
Hasil awal program menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan peserta. Berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test, terjadi lonjakan pemahaman, baik dalam strategi bisnis berbasis AI maupun pengelolaan layanan publik yang lebih efisien.
“Peserta kini lebih percaya diri dalam menghadapi transformasi digital. Ini menjadi modal penting untuk membangun ekosistem yang adaptif dan inklusif,” kata Helen.
Sebagai luaran, UMY menyiapkan modul pelatihan, video diseminasi, serta publikasi ilmiah agar model program ini dapat direplikasi di wilayah lain.
Lebih dari sekadar peningkatan kapasitas, program ini juga mencerminkan diplomasi pendidikan Indonesia di tingkat global. Melalui kolaborasi lintas negara, UMY mempertegas peran strategisnya dalam mendorong transformasi digital yang berkelanjutan di kawasan ASEAN. (ihd)






