Ucapan ‘Shalom’ di Penutup Pidato Prabowo Menggema hingga Israel

Rabu, 24 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan pidatonya dalam sidang majelis umum PBB, Selasa (23/9/2025) waktu New York. (Reuters)

Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan pidatonya dalam sidang majelis umum PBB, Selasa (23/9/2025) waktu New York. (Reuters)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta – Ada satu kata yang menjadi sorotan dunia internasional ketika Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, pekan ini. Kata itu adalah “Shalom”, yang meluncur di pengujung pidatonya.

Bagi publik Indonesia, salam itu biasa saja. Presiden menutup dengan rangkaian salam nasional: Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom, Om shanti shanti shanti om, Namo Buddhaya. Namun, bagi media internasional, terutama Israel, ucapan itu punya gema yang lebih luas.

Harian The Times of Israel menuliskan tajuk yang gamblang: “At UN, Indonesian president says guaranteeing Israel’s security is key to peace, ends speech with, ‘Shalom’.” Media tersebut menekankan dua hal: Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan fakta bahwa Indonesia tak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan dunia harus menghormati hak Israel untuk hidup aman. “Kita juga harus mengakui, kita juga harus menghormati, dan kita juga harus menjamin keselamatan dan keamanan Israel. Hanya dengan begitu kita dapat mencapai perdamaian sejati,” ujarnya.

Di sisi lain, Prabowo menambahkan, jika Israel mengakui Palestina, “Indonesia akan segera mengakui Negara Israel.” Pernyataan ini, menurut pengamat hubungan internasional, membuka ruang baru bagi diplomasi Indonesia di kawasan yang selama puluhan tahun dirundung konflik.

Tak berhenti di situ, Prabowo juga menyatakan kesiapan Indonesia mengirim hingga 20.000 personel pasukan penjaga perdamaian PBB untuk membantu mengamankan Gaza. “Kami percaya pada PBB. Kami akan terus melayani di mana perdamaian membutuhkan penjaga—bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan pasukan di lapangan,” katanya.

Pidato itu menegaskan garis sikap Indonesia: perdamaian tidak boleh lahir dari kekuatan semata. “Indonesia menginginkan perdamaian yang menunjukkan bahwa kekuatan tidak dapat menghasilkan kebenaran,” ujarnya.

Dan kata penutup “Shalom”—bersanding dengan salam dari berbagai agama di Indonesia—menjadi simbol yang dibaca dengan tafsir berbeda di panggung dunia. Sebuah kata sederhana, yang bisa membuka babak baru diplomasi Indonesia. (ihd)

Berita Terkait

UMJ Press dan APPTIMA Perkuat Peran Indonesia di International Publishers Congress 2026
Jerman Buka Jalan bagi Tenaga Kerja Indonesia untuk Bekerja, Belajar, hingga Tinggal Permanen
Perkuat Reputasi di Asia Tenggara, UMY Bangun Kemitraan Strategis dengan Universitas di Laos
Sumpah Hashim Petaka Pemantik Prahara. Saya PWI, Saya Dasco
PSEL Bantargebang Ditargetkan Segera Dibangun, Ketua DPRD Bekasi Tinjau Langsung Teknologi Wangneng
Pemkot Bekasi Dorong Tenaga Kerja Lokal Ambil Peran di Proyek PSEL Bantargebang
Banding Thailand Dikabulkan, Tujuh Pemain Takraw Terhindar dari Proses Disiplin ISTAF
Dosen Hukum UNPAM Serang Perluas Wawasan Global Melalui Forum ILO

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 07:13 WIB

UMJ Press dan APPTIMA Perkuat Peran Indonesia di International Publishers Congress 2026

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:24 WIB

Jerman Buka Jalan bagi Tenaga Kerja Indonesia untuk Bekerja, Belajar, hingga Tinggal Permanen

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:22 WIB

Perkuat Reputasi di Asia Tenggara, UMY Bangun Kemitraan Strategis dengan Universitas di Laos

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:13 WIB

Sumpah Hashim Petaka Pemantik Prahara. Saya PWI, Saya Dasco

Minggu, 28 Juni 2026 - 19:28 WIB

PSEL Bantargebang Ditargetkan Segera Dibangun, Ketua DPRD Bekasi Tinjau Langsung Teknologi Wangneng

Berita Terbaru