Transportasi Darat Jadi Tulang Punggung Distribusi Barang di Indonesia

Kamis, 4 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif The Logistics Institute-Asia Pacific (TLI-AP), National University of Singapore (NUS), Singapura, Dr. Robert de Souz

Direktur Eksekutif The Logistics Institute-Asia Pacific (TLI-AP), National University of Singapore (NUS), Singapura, Dr. Robert de Souz

JOGJAOKE.COM, Ketergantungan yang tinggi terhadap transportasi jalan dinilai masih menjadi hambatan utama efisiensi logistik Indonesia. Di tengah karakteristiknya sebagai negara kepulauan, distribusi barang nasional masih didominasi angkutan jalan, sementara pemanfaatan kereta api dan angkutan laut belum optimal.

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif The Logistics Institute-Asia Pacific (TLI-AP), National University of Singapore (NUS), Singapura, Dr. Robert de Souza, dalam _One-Day Workshop on Multi-Modal Freight Flows in Indonesia_ yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (4/6). Menurutnya, kondisi tersebut memicu kemacetan, tingginya biaya distribusi, dan terbatasnya konektivitas antardaerah sehingga Indonesia perlu bertransformasi menuju sistem logistik yang terintegrasi dan multimoda.

“Indonesia sedang melakukan lompatan besar dari sistem logistik yang terfragmentasi menuju sistem yang lebih terintegrasi. Tantangannya bukan hanya membangun infrastruktur baru, tetapi bagaimana seluruh moda transportasi dapat terhubung dan bekerja sebagai satu jaringan. Ketika konektivitas itu tercipta, biaya logistik dapat ditekan, konektivitas meningkat, dan sistem distribusi menjadi jauh lebih efisien,” ujar Robert.

Robert menilai persoalan tersebut paling terlihat di Pulau Jawa yang menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional. Dengan sekitar 57,5 persen penduduk Indonesia tinggal di Jawa, sebagian besar aktivitas distribusi barang juga terkonsentrasi di wilayah tersebut. Namun, lebih dari 90 persen pergerakan barang masih mengandalkan transportasi jalan.

Ketidakseimbangan tersebut, membuat jaringan logistik menghadapi tekanan yang semakin besar. Kemacetan lalu lintas, biaya operasional yang tinggi, hingga kerusakan infrastruktur menjadi konsekuensi dari dominasi transportasi jalan dalam sistem distribusi nasional. Kondisi ini turut berkontribusi pada tingginya biaya logistik Indonesia yang masih mencapai sekitar 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

“Ketika sebagian besar distribusi barang bertumpu pada jalan raya, maka kemacetan dan biaya tambahan akan terus muncul dalam rantai pasok. Padahal Indonesia memiliki pilihan moda lain yang lebih efisien untuk pengiriman barang dalam jumlah besar dan jarak jauh. Karena itu, keseimbangan antarmoda menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing logistik nasional,” tegasnya.

Meski demikian, Robert menegaskan transportasi jalan tetap memiliki peran penting dalam sistem logistik nasional. Namun, untuk pengiriman barang berkapasitas besar dan jarak jauh, kereta api dan angkutan laut dinilai lebih efisien sehingga pemanfaatan setiap moda perlu disesuaikan dengan fungsinya.

“Truk tetap menjadi bagian penting dalam rantai pasok, tetapi perannya perlu direposisi. Untuk perjalanan utama dengan jarak yang panjang, kereta api dan angkutan laut menawarkan efisiensi yang lebih baik. Sementara transportasi jalan dapat difokuskan untuk mendukung kebutuhan first mile dan last mile sehingga setiap moda digunakan sesuai keunggulannya masing-masing,” pungkas Robert.

Melalui integrasi antarmoda tersebut, Robert meyakini Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sistem logistik yang lebih efisien, kompetitif, dan berkelanjutan. Penguatan konektivitas antara transportasi jalan, kereta api, dan laut akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan jaringan logistik nasional yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat konektivitas antarpulau.

Kegiatan workshop ini diselenggarakan UMY bekerja sama dengan _The Logistics Institute – Asia Pacific (_ TLI-AP) dan National University of Singapore (NUS). Workshop tersebut menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi untuk mendiskusikan tantangan serta peluang pengembangan sistem logistik dan rantai pasok di Indonesia.

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Langkat Gelar Sugiat Santoso Cup, Dorong Semangat Sportivitas Sambut HUT RI
‎FJI Desak Aparat Usut Dugaan Tukar Hafalan Dengan Miras
AMPHIBI Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Dini Lewat Sosialisasi dan Aksi Penghijauan di SDN 013829 Ledong Timur
Yusharto Huntoyungo: Kolaborasi Jadi Kunci Penguatan Inovasi Daerah di Bantul
48 Pelajar Wonosobo Digembleng Jadi Paskibra Tangguh Berkarakter Nasionalis
Polemik Konferensi Sungai Trawas, Kritik Mengarah pada Kepatutan dan Tata Kelola Prosedur
Motor Tabrak Mobil Box, Dua Kendaraan Terbakar Hebat di Magelang
BRI: Kemudahan Finansial untuk Semua Kalangan

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:06 WIB

Langkat Gelar Sugiat Santoso Cup, Dorong Semangat Sportivitas Sambut HUT RI

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:12 WIB

‎FJI Desak Aparat Usut Dugaan Tukar Hafalan Dengan Miras

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:04 WIB

AMPHIBI Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Dini Lewat Sosialisasi dan Aksi Penghijauan di SDN 013829 Ledong Timur

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:24 WIB

Yusharto Huntoyungo: Kolaborasi Jadi Kunci Penguatan Inovasi Daerah di Bantul

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:08 WIB

48 Pelajar Wonosobo Digembleng Jadi Paskibra Tangguh Berkarakter Nasionalis

Berita Terbaru