JOGJAOKE.COM, Sleman – Festival Bregada Rakyat DIY 2026 menghadirkan persaingan menarik dengan melibatkan 18 kelompok yang pernah meraih gelar juara, Minggu (18/10/2026).
Festival tahunan ke-15 ini berlangsung di Youth Centre Yogyakarta, Tlogoadi, Mlati, Sleman, mengusung tema Gumregah Gumregut Tanpa Surut sebagai penguat semangat pelestarian budaya.
Pembina Bregada Rakyat DIY, Widihasto Wasana Putra, menyebut festival tersebut menjadi momentum penting untuk merawat seni keprajuritan rakyat yang tumbuh di masyarakat.
“FBR merupakan kegiatan rutin tahunan Sekber Keistimewaan DIY yang didukung Dinas Kebudayaan DIY,” terang Widihasto dalam keterangannya.
Menurut dia, penyelenggaraan festival yang memasuki tahun ke-15 ini menjadi bagian upaya memperkuat ekosistem seni keprajuritan berbasis kampung, padukuhan, desa, hingga sekolah menengah atas.
Festival tahun ini dipusatkan di Sleman setelah penyelenggaraan sebelumnya berlangsung di kompleks Gua Selarong, Bantul, bertepatan dengan momentum 200 tahun Perang Jawa.
Widihasto menjelaskan lokasi festival sengaja berpindah-pindah di wilayah DIY agar semakin banyak masyarakat mengenal, menyaksikan, sekaligus terlibat dalam pelestarian bregada rakyat.
“Keberadaan seni keprajuritan rakyat atau dikenal dengan bregada rakyat ini hanya ada di DIY. Keberadaannya tidak ada di daerah lain,” ungkapnya.
Ia menilai bregada rakyat bukan sekadar pertunjukan baris-berbaris, melainkan salah satu penanda keistimewaan Yogyakarta yang menyimpan nilai sejarah, kebersamaan, dan identitas budaya.
“Bregada juga menjadi ajang konsolidasi masyarakat sipil menjaga kebersamaan, persatuan sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya,” kata Widihasto menegaskan.
Festival dimulai pukul 13.00 WIB dari Lapangan Getas, Tlogoadi, Mlati. Peserta kemudian menyusuri Jalan Kebon Agung sebelum mencapai garis finis di Youth Centre Yogyakarta.
Sebanyak 18 kelompok dijadwalkan menampilkan kemampuan terbaik mereka di hadapan lima juri dari Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, budayawan, seniman, dan wartawan.
Penilaian mencakup tata lampah atau baris-berbaris, tata busana, tata musik, serta penghayatan dan penjiwaan yang memperkuat karakter setiap kelompok bregada.
Panitia akan memilih lima penyaji utama yang berhak memperoleh piala serta total uang pembinaan sebesar Rp36 juta sebagai apresiasi atas penampilan peserta.
Persaingan antarkelompok diperkirakan menarik karena peserta merupakan bregada yang memiliki pengalaman meraih gelar juara, sehingga kreativitas dan kekompakan menjadi perhatian utama.
Tak hanya menjaga tradisi, Widihasto menyebut keberadaan bregada rakyat turut menggerakkan perekonomian perajin perlengkapan adat, mulai busana hingga peralatan musik tradisional.
“Mulai dari blangkon, topi bregada, surjan, beskap, kebaya, kain batik, keris, tombak hingga peralatan musik seperti tambur, suling, kendang dan aksesori lainnya,” paparnya.
Ia memberikan gambaran sederhana mengenai dampak ekonomi tersebut. Jika satu personel membutuhkan perlengkapan busana senilai Rp1 juta, satu kelompok beranggotakan 30 orang membutuhkan Rp30 juta.
“Sudah Rp30 juta. Tinggal dikalikan jumlah bregada di DIY yang jumlahnya ada ratusan kelompok,” jelas Widihasto mengenai peluang ekonomi bagi para perajin.
Tema Gumregah Gumregut Tanpa Surut mengandung pesan kebangkitan kesadaran budaya, kesungguhan bekerja, kegigihan berjuang, serta semangat pantang mundur menghadapi tantangan perubahan zaman.
Dalam tema tersebut, gumregah dimaknai sebagai kebangkitan kesadaran bahwa kebudayaan merupakan jati diri, sumber nilai, dan kekuatan masyarakat untuk mencintai warisan leluhur.
Sementara itu, gumregut menggambarkan kesungguhan dan daya juang mencapai tujuan, sedangkan tanpa surut menegaskan komitmen melestarikan budaya di tengah perubahan zaman.
Delapan belas peserta berasal dari berbagai wilayah, antara lain Pakem, Tegal Panggung, Mlati, Sindurejan, Dlingo, Kasihan, Sorosutan, Sedayu, Tahunan, Bantul, Depok, Gamping, Imogiri, dan Warungboto.
Melalui festival ini, penyelenggara berharap seni bregada rakyat semakin dikenal generasi muda, sekaligus memperkuat persatuan masyarakat dan menjaga identitas budaya Yogyakarta secara berkelanjutan.(waw)






