Sholawat Jawa Semarakkan Hadeging Nagari, Iman dan Budaya Menyatu

Kamis, 30 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎JOGJAOKE.COM, Sleman – Suasana khidmat dan meriah menyelimuti peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat ke-279 di Dusun Sambisari, Kalurahan Purwomartani, Kapanewon Kalasan, Sleman.

‎Warga setempat menggelar beragam kegiatan, mulai dari tahlil hadiningrat, pengajian, hingga pagelaran sholawat Jawa yang memadukan keindahan seni dan kekhusyukan doa.

‎“Ini bukan sekadar perayaan, tetapi bentuk rasa syukur atas berdirinya nagari yang kita cintai,” ujar Takmir Masjid Kagungan Dalem Sambisari, saat ditemui di sela kegiatan, Kamis (30/10/2025).

‎Rangkaian acara diawali lantunan sholawat Jawa dari kelompok Madyo Laras yang membawakan tembang-tembang seperti Ajering Negoro, Siroh Nabawi, Sekar Kinanthi, hingga Sulthon Syarif.

‎Irama lembut gamelan berpadu dengan suara para sesepuh menambah nuansa spiritual yang mendalam.

‎“Sholawat Jawa ini sarat makna, setiap baitnya menyimpan nasihat dan keteladanan Nabi,” ungkap Gus Faiq Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, yang turut hadir memberikan tausiah.

‎Kemeriahan semakin terasa ketika grup hadroh Ainun Jannah tampil memukau.

‎Jamaah dari berbagai kalangan—mulai dari ibu rumah tangga, remaja, aparat militer, hingga pegawai kejaksaan—terlihat larut dalam lantunan sholawat.

‎“Kami merasa damai dan bangga bisa ikut menjaga tradisi ini,” tutur Rini, salah satu jamaah, dengan mata berbinar.

‎Masjid Kagungan Dalem Sambisari yang berdiri tak jauh dari Candi Sambisari menjadi saksi perpaduan unik antara warisan budaya dan spiritual masyarakat setempat.

‎Dalam sambutan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibacakan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda DIY, Faishol Muslim, ditegaskan bahwa Yogyakarta berdiri bukan karena pedang dan kekuasaan, tetapi karena doa dan pengabdian.

‎“Masjid Sambisari menjadi bukti bagaimana tanah bersejarah dapat menjadi pusat iman dan budaya. Di sinilah masa lalu dan masa depan berpadu—iman menjadi pijar, budaya menjadi cahaya,” ucapnya penuh makna.

‎Ia menambahkan, keteguhan nagari ini selama hampir tiga abad tidak dibangun oleh tembok, melainkan oleh nilai-nilai luhur yang diwariskan dari Sultan Hamengku Buwono I hingga kini.

(waw)

Berita Terkait

‎Sarasehan Budaya Ungkap Pesan Leluhur Tegal Menjaga Alam
BGN DIY Buka Hotline Lapor Mas Kareg, Awasi Program MBG
‎Nuzulul Qur’an Teguhkan Cahaya Peradaban Saat Dunia Dilanda Krisis
UMY Dampingi Wirokerten Transformasi Digital Desa Wisata Berbasis Keamanan Siber
‎Forum Inklusi Muhammadiyah Dorong Kemandirian Akar Rumput dan Solidaritas Ramadan
‎Pria Bersurjan dan Kebaya Syiar Budaya, Ngemong Generasi Muda
‎Relawan MBG DIY Bersatu, 5.000 Orang Ikrar Benahi Layanan
‎BGN Ancam Hentikan Operasional Dapur MBG Tanpa Sertifikat Higiene Sanitasi

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 11:46 WIB

‎Sarasehan Budaya Ungkap Pesan Leluhur Tegal Menjaga Alam

Senin, 9 Maret 2026 - 11:56 WIB

BGN DIY Buka Hotline Lapor Mas Kareg, Awasi Program MBG

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

‎Nuzulul Qur’an Teguhkan Cahaya Peradaban Saat Dunia Dilanda Krisis

Minggu, 8 Maret 2026 - 14:32 WIB

UMY Dampingi Wirokerten Transformasi Digital Desa Wisata Berbasis Keamanan Siber

Minggu, 8 Maret 2026 - 11:45 WIB

‎Forum Inklusi Muhammadiyah Dorong Kemandirian Akar Rumput dan Solidaritas Ramadan

Berita Terbaru

OPINI

Advokat sebagai Penjaga Rasionalitas Hukum di Abad ke-21

Selasa, 10 Mar 2026 - 10:23 WIB