‎Peringatan Bulan Down Syndrome Jogja Guncang Alun-Alun Kidul dengan Pesan Inklusi

Minggu, 26 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎JOGJAOKE.COM, Jogja – Ratusan peserta memadati Alun-Alun Kidul Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam Karnaval, Edukasi, dan Unjuk Karya Down Syndrome Awareness Month (DSAM) 2025, Minggu (26/10/2025).

‎Kegiatan kolaborasi Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) DIY dan FK-KMK UGM ini mengusung tema “We Care, We Share”, sebagai ajakan membangun masyarakat yang inklusif dan peduli terhadap keberagaman.

‎“Kami ingin masyarakat melihat anak dengan Down Syndrome bukan dari keterbatasannya, tetapi dari semangat dan potensi yang mereka miliki,” ujar Siti Nurjanah, S.Pd.SD, Ketua PIK POTADS DIY.

‎Ia menegaskan kegiatan ini bukan sekadar perayaan, melainkan gerakan sosial penuh makna.

‎“Kami membagikan leaflet, stiker, hingga bendera sebagai sarana edukasi publik. Tapi yang paling penting adalah interaksi langsung di ruang terbuka ini. Anak-anak bisa berlatih mandiri, percaya diri, dan menunjukkan kemampuan mereka,” imbuhnya.

‎Siti juga menuturkan, moto “Aku Ada, Aku Bisa, Down Syndrome Hebat” mencerminkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki ruang untuk bersinar di masyarakat.

‎“Kami berharap masyarakat bisa lebih memberi ruang agar anak-anak kami bisa berkembang tanpa pandangan miring. Mereka anak-anak yang mampu dan unik, ketika dididik dan dilatih, mereka bisa seperti anak-anak lainnya,” tuturnya.

‎Anak-anak yang tampil datang dari berbagai daerah, mulai Gunungkidul, Kulon Progo, hingga wilayah lain di DIY.

‎Sementara itu, relawan komunitas Sadar Belajar, Izal, mengingatkan bahwa empati adalah kunci dalam memahami perbedaan.

‎“Yang kurang empati, yang kadang punya kekurangan, juga kita. Jadi, siapa yang sebenarnya perlu dibenahi?” ujarnya.

‎Ia menegaskan bahwa Down Syndrome bukanlah penyakit atau aib.

‎“Itu cuma cara Tuhan menulis kisah yang berbeda di tubuh dan jiwa seseorang,” katanya.

‎Izal bahkan menambahkan dengan puitis, “Kalau hidup ini ibarat lagu, maka mereka adalah nada-nada unik yang bikin harmoni jadi indah.”

‎Dari kalangan akademisi, dr. Widya Wasityastuti, Dosen FK-KMK UGM sekaligus Koordinator Seremoni DSAM 2025, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata pengabdian kampus bagi masyarakat.

‎“Inklusi bukan hanya menerima perbedaan, tetapi membangun kebersamaan,” ujarnya.

‎Menurutnya, keterlibatan mahasiswa lintas kampus dan komunitas sosial menjadi wujud nyata empati generasi muda.

‎“Kegiatan ini sejalan dengan nilai-nilai pendidikan kesehatan yang humanistik dan berbasis masyarakat,” tutupnya.

(waw)

Berita Terkait

‎Nuzulul Qur’an Teguhkan Cahaya Peradaban Saat Dunia Dilanda Krisis
UMY Dampingi Wirokerten Transformasi Digital Desa Wisata Berbasis Keamanan Siber
‎Pria Bersurjan dan Kebaya Syiar Budaya, Ngemong Generasi Muda
‎Relawan MBG DIY Bersatu, 5.000 Orang Ikrar Benahi Layanan
‎BGN Ancam Hentikan Operasional Dapur MBG Tanpa Sertifikat Higiene Sanitasi
Disperindag DIY Genjot IKM Naik Kelas Lewat Pameran Kerajinan
Korem 072 Pamungkas Siagakan 850 Personel Antisipasi Bencana dan Mudik
‎KAI-TNI Bergerak! Bersih Vandalisme Jembatan Kewek Demi Wajah Jogja

Berita Terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

‎Nuzulul Qur’an Teguhkan Cahaya Peradaban Saat Dunia Dilanda Krisis

Minggu, 8 Maret 2026 - 14:32 WIB

UMY Dampingi Wirokerten Transformasi Digital Desa Wisata Berbasis Keamanan Siber

Sabtu, 7 Maret 2026 - 18:43 WIB

‎Pria Bersurjan dan Kebaya Syiar Budaya, Ngemong Generasi Muda

Sabtu, 7 Maret 2026 - 17:56 WIB

‎Relawan MBG DIY Bersatu, 5.000 Orang Ikrar Benahi Layanan

Sabtu, 7 Maret 2026 - 17:05 WIB

‎BGN Ancam Hentikan Operasional Dapur MBG Tanpa Sertifikat Higiene Sanitasi

Berita Terbaru