Pakar UMY: Perkebunan Sawit Takkan Pernah Bisa Gantikan Hutan Alami

Minggu, 4 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Ir Lis Noer Aini, S.P., M.Si. (Dok UMY)

dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Ir Lis Noer Aini, S.P., M.Si. (Dok UMY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Perkebunan kelapa sawit tidak akan pernah bisa menggantikan fungsi hutan alami, terutama sebagai penyangga ekologi dan keberlanjutan sistem kehidupan. Penilaian itu disampaikan dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Ir Lis Noer Aini, S.P., M.Si., yang juga pakar evaluasi lahan dan tata kawasan.

Dalam wawancara di Kampus UMY, Jumat (2/1/2026), Lis menjelaskan, perbedaan paling mendasar antara hutan alami dan perkebunan sawit terletak pada struktur vegetasi dan sistem ekologinya.

Hutan alami tersusun secara multistrata, mulai dari pohon berkanopi tinggi, vegetasi menengah, semak, tanaman bawah, hingga organisme tanah. Struktur berlapis ini membentuk jejaring kehidupan yang saling terkait.

Sebaliknya, perkebunan sawit dibangun dengan sistem monokultur. Satu jenis tanaman ditanam dengan umur dan tinggi yang relatif seragam.

“Hutan itu lengkap. Dari tanaman besar sampai mikrobiologi tanah tersedia. Sementara sawit hanya memberi ruang hidup bagi jenis-jenis tertentu,” ujar Lis.

Perbedaan struktur tersebut berdampak langsung pada keanekaragaman hayati. Pada ekosistem hutan, rantai makanan berjalan lebih seimbang karena habitat dan sumber pakan tersedia secara alami.

Sistem monokultur, sebaliknya, menyebabkan banyak spesies kehilangan ruang hidup, sehingga biodiversitas menurun tajam.

Lis menambahkan, hutan juga memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon jauh lebih besar dibandingkan kebun sawit. Keberagaman ukuran pohon dan lapisan tajuk memungkinkan penyerapan karbon berlangsung berjenjang dan lebih stabil. Pada perkebunan sawit, karbon yang tidak terserap optimal oleh tanaman cenderung terlepas kembali ke atmosfer.

“Ketika karbon terlepas ke udara, gas rumah kaca meningkat. Pemanasan global pada dasarnya berawal dari deforestasi yang kita lakukan sendiri,” katanya.

Hilangnya hutan, menurut Lis, turut memicu perubahan iklim mikro maupun global. Pembukaan kawasan hutan untuk tanaman monokultur terbukti meningkatkan suhu lingkungan, menurunkan kelembapan udara, serta mempercepat degradasi ekosistem.

Meski demikian, Lis menegaskan bahwa kritik terhadap alih fungsi hutan tidak berarti menolak pengembangan ekonomi berbasis sawit. Yang menjadi persoalan adalah ketika ekspansi dilakukan dengan mengabaikan prinsip tata ruang dan keberlanjutan lingkungan. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah membagi wilayah ke dalam kawasan lindung, penyangga, dan budidaya.

“Hutan adalah sistem kehidupan, sedangkan sawit adalah sistem produksi. Jika hanya mengejar produksi tanpa menjaga sistem kehidupan, kerusakan lingkungan tak terhindarkan. Padahal keduanya bisa berjalan seimbang jika aturan tata ruang dan lingkungan benar-benar ditaati,” ujarnya. (ihd)

Berita Terkait

Pembatasan Medsos Anak, UMY: Perlu Kajian Mendalam dan Pendampingan Orang Tua
UMY Dampingi UMKM Melaka Susun Strategi Bisnis untuk Naik Kelas
Pakar UMY: Pertumbuhan 8 Persen Harus Serap Tenaga Kerja, Bonus Demografi Jadi Penentu
Ajir Hybrid untuk Kemukus, Inovasi Mahasiswa KKN UMY di Perbukitan Kulon Progo
Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama, UMY Perkuat Ikatan dengan Warga Sekitar Kampus
Malam Seribu Bulan, Dosen UMY: Hikmah Lailatul Qadar di 10 Hari Terakhir Ramadan
UMY: Pembatasan Medsos bagi Anak Perlu Dikaji Cermat, Literasi Digital Lebih Penting
UMY Berangkatkan 340 Mahasiswa Mudik Gratis 2026 hingga Lampung dan Palembang

Berita Terkait

Selasa, 31 Maret 2026 - 19:15 WIB

Pembatasan Medsos Anak, UMY: Perlu Kajian Mendalam dan Pendampingan Orang Tua

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:14 WIB

UMY Dampingi UMKM Melaka Susun Strategi Bisnis untuk Naik Kelas

Jumat, 20 Maret 2026 - 08:08 WIB

Pakar UMY: Pertumbuhan 8 Persen Harus Serap Tenaga Kerja, Bonus Demografi Jadi Penentu

Senin, 16 Maret 2026 - 21:16 WIB

Ajir Hybrid untuk Kemukus, Inovasi Mahasiswa KKN UMY di Perbukitan Kulon Progo

Senin, 16 Maret 2026 - 20:51 WIB

Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama, UMY Perkuat Ikatan dengan Warga Sekitar Kampus

Berita Terbaru

Jawa Tengah

Rp16,4 Miliar Raib, PT DYM Laporkan Kades Mulyodadi ke Polisi

Rabu, 1 Apr 2026 - 08:31 WIB

Bekasi

Rapat Banmus DPRD Bekasi Susun Agenda Kerja April 2026

Rabu, 1 Apr 2026 - 00:07 WIB