JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Pemerintah Kota Yogyakarta memprediksi lonjakan kunjungan wisatawan yang signifikan pada masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Pada periode puncak akhir tahun tersebut, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Yogyakarta diperkirakan mencapai sekitar dua juta orang.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan, secara statistik jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke Kota Yogyakarta setiap tahun selalu menembus angka 10 juta orang. Hingga Oktober 2025, jumlah kunjungan tercatat telah mencapai sekitar 7–8 juta wisatawan, sehingga sisa kunjungan diperkirakan terjadi pada November dan Desember, terutama saat libur Nataru.
“Dari tahun ke tahun wisatawan domestik itu sekitar 10 juta. Sampai bulan Oktober kemarin sudah 7 juta sampai 8 juta. Sehingga puncaknya di akhir tahun ini bisa mencapai sekitar 2 juta,” kata Hasto, Minggu (14/12/2025).
Menurut Hasto, pola kunjungan wisatawan tersebut cenderung konsisten dan sulit dihindari. Lonjakan pada akhir tahun menjadi fase puncak yang hampir selalu berulang setiap tahun.
“Secara statistik itu sulit ditolak. Polanya seperti itu, reguler. Selalu di atas 10 juta kunjungan,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan, Pemkot Yogyakarta menyiapkan sejumlah opsi kantong parkir tambahan. Salah satu lokasi yang diwacanakan adalah kawasan Kridosono. Namun, Hasto menegaskan, penggunaan Kridosono sebagai kantong parkir belum bersifat permanen dan hanya akan dibuka dalam kondisi terpaksa.
“Belum ditetapkan secara pasti. Itu hanya alternatif. Kalau memang dalam kondisi terpaksa, Kridosono bisa kita buka dan difungsikan sebagai kantong parkir,” katanya.
Selain Kridosono, Pemkot juga menyiapkan lokasi cadangan lain, antara lain kawasan Menara Kopi, yang dirancang untuk menampung bus kecil maupun kendaraan pribadi. Skema pengaturan arus masuk kendaraan pun telah disusun agar tidak terjadi penumpukan di satu titik.
“Kendaraan dari arah Kridosono diharapkan masuk ke kiri menuju Menara Kopi. Bus-bus kecil dan kendaraan pribadi bisa masuk ke sana. Skenarionya seperti itu,” ujar Hasto.
Ia mengakui, persoalan klasik saat malam puncak pergantian tahun adalah keterbatasan kantong parkir. Ketika kawasan Malioboro ditutup secara situasional karena kepadatan, area parkir sirip kerap terisi penuh dan sulit dikendalikan.
“Itu yang selalu menjadi masalah, kantong parkirnya tidak mencukupi,” kata Hasto. (ihd)






