Lifestyle Inflation Dinilai Jadi Penghambat Utama Kebiasaan Menabung

Rabu, 24 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Menabung masih menjadi tantangan bagi banyak masyarakat, termasuk mereka yang telah memiliki penghasilan tetap. Tidak sedikit orang yang merasa pendapatannya selalu habis setiap bulan sehingga sulit menyisihkan uang untuk kebutuhan masa depan. Padahal, kegagalan menabung tidak selalu disebabkan oleh rendahnya pendapatan, melainkan juga dipengaruhi oleh cara seseorang mengelola keuangannya.

Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Satria Utama, S.E.I., M.E.I., menjelaskan bahwa persoalan menabung merupakan masalah klasik yang banyak ditemui, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah. Kondisi tersebut sering terjadi karena pendapatan yang diperoleh hampir selalu habis untuk memenuhi kebutuhan dan pengeluaran rutin sehari-hari.

“Permasalahan klasik masyarakat kelas menengah adalah pendapatan yang terasa selalu habis untuk berbagai kebutuhan. Akibatnya, banyak orang merasa sulit menyisihkan uang untuk masa depan karena menganggap bulan berikutnya akan kembali memperoleh penghasilan, sehingga menabung tidak menjadi prioritas,” ujarnya, Rabu (24/6).

Menurut Satria, akar persoalan tersebut tidak semata-mata terletak pada besarnya penghasilan. Dalam banyak kasus, kegagalan menabung justru dipengaruhi oleh perilaku keuangan (financial behavior) yang kurang sehat. Ketika pendapatan meningkat, sebagian orang cenderung menaikkan standar hidup dan pengeluarannya, sementara porsi tabungan tidak ikut bertambah.

Fenomena tersebut dikenal sebagai lifestyle inflation, yaitu kondisi ketika kenaikan pendapatan diikuti peningkatan konsumsi untuk memenuhi berbagai kebutuhan maupun keinginan. Akibatnya, ruang untuk menabung tetap sempit meskipun kemampuan finansial sebenarnya telah meningkat.

“Banyak keluarga yang sebenarnya memiliki penghasilan cukup, tetapi tetap kesulitan menabung. Permasalahannya bukan pada pendapatan, melainkan pada perilaku konsumsi. Ketika penghasilan bertambah, yang meningkat justru pengeluaran konsumtif, sedangkan tabungan tidak bertambah secara signifikan,” jelasnya.

Selain perilaku konsumtif, Satria juga menyoroti pentingnya memiliki tujuan keuangan yang jelas. Menurutnya, banyak orang menabung hanya karena menganggapnya sebagai kebiasaan baik, tanpa memiliki target yang spesifik. Padahal, tujuan yang terukur dapat menjadi motivasi sekaligus panduan dalam mengelola keuangan.

“Menabung itu seperti melakukan perjalanan. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan lebih mudah kehilangan motivasi dan berhenti di tengah jalan ketika menghadapi berbagai hambatan atau kebutuhan mendesak,” katanya.

Lebih lanjut, Satria menjelaskan bahwa kebiasaan menabung juga sering terganggu karena masyarakat belum memiliki perlindungan keuangan yang memadai. Ketika muncul kebutuhan mendadak, seperti biaya kesehatan, kerusakan kendaraan, atau kebutuhan keluarga lainnya, tabungan yang telah terkumpul terpaksa digunakan sehingga nilainya kembali berkurang bahkan habis.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa menabung bukan hanya soal kemampuan menghasilkan uang, tetapi juga kemampuan mengelola, melindungi, dan mengarahkan pendapatan sesuai prioritas keuangan.
Karena itu, masyarakat perlu mulai memandang tabungan sebagai kebutuhan penting yang berkaitan dengan masa depan, bukan sekadar pilihan yang dilakukan jika masih terdapat sisa uang di akhir bulan.

“Sering kali orang berpikir menabung dilakukan dari uang yang tersisa. Padahal, pola pikir seperti itu membuat tabungan hanya menjadi niat yang sulit diwujudkan. Menabung harus menjadi prioritas sejak awal, bukan menunggu seluruh kebutuhan dan keinginan terpenuhi terlebih dahulu,” tegas Satria.

Ia menambahkan bahwa disiplin mengelola keuangan, menetapkan tujuan yang jelas, serta mengendalikan gaya hidup menjadi kunci utama dalam membangun kebiasaan menabung yang berkelanjutan.

“Pendapatan yang besar tidak otomatis membuat seseorang mampu menabung. Yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola pendapatannya secara bijak dan konsisten,” pungkasnya. (gla)

Sumber : Humas UMY 

Berita Terkait

Polisi Sambangi Warga Rentan Pandeyan, Keamanan Lingkungan Diperkuat
UMY Dorong Peneliti Hilirkan Hasil Riset untuk Masyarakat dan Industri
Siswi Karo Alami Gangguan Ingatan Usai Diduga Keracunan MBG, Ini Penjelasan Dosen Neurologi UMY
Mahasiswa UMY Kembangkan Wisata Budaya di Sambirejo, Bidik Wisatawan Tak Sekadar Singgah di Tebing Breksi
Perkuat Sinergi Pertahanan, Dandim 0601/Pandeglang Dampingi Kunker Menhan di Yonif TP 842/BS
Jateng-DIY Perkuat Kolaborasi Pariwisata, Dorong Wisatawan Tinggal Lebih Lama
Gempa Uji Kesiapsiagaan dan Ketahanan Bangunan Hadapi Guncangan
DPRD DIY Soroti Minimnya Anggaran Mitigasi, Tak Sebanding Potensi Bencana 

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 18:04 WIB

Polisi Sambangi Warga Rentan Pandeyan, Keamanan Lingkungan Diperkuat

Jumat, 11 September 2026 - 14:13 WIB

UMY Dorong Peneliti Hilirkan Hasil Riset untuk Masyarakat dan Industri

Kamis, 10 September 2026 - 14:42 WIB

Siswi Karo Alami Gangguan Ingatan Usai Diduga Keracunan MBG, Ini Penjelasan Dosen Neurologi UMY

Kamis, 10 September 2026 - 14:00 WIB

Mahasiswa UMY Kembangkan Wisata Budaya di Sambirejo, Bidik Wisatawan Tak Sekadar Singgah di Tebing Breksi

Kamis, 10 September 2026 - 11:47 WIB

Perkuat Sinergi Pertahanan, Dandim 0601/Pandeglang Dampingi Kunker Menhan di Yonif TP 842/BS

Berita Terbaru

Nasional

Kemendagri: Informasi Pendefinisian Ulang OAP Tidak Benar

Jumat, 11 Sep 2026 - 16:31 WIB