Jurnalis Toraja Ukir Prestasi Akademik, Lulus Cumlaude di Universitas Negeri Yogyakarta

Senin, 29 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang wisudawati berpose bahagia mengenakan toga lengkap dengan selempang predikat kelulusan

Seorang wisudawati berpose bahagia mengenakan toga lengkap dengan selempang predikat kelulusan "Cum Laude" di depan gedung olahraga Universitas Negeri Yogyakarta (GOR UNY)

JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA – ‎SLEMAN – Perjuangan panjang penuh air mata mengantarkan Kristiani Tandi Rani meraih gelar magister dengan predikat cumlaude di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Perempuan kelahiran Sangalla, Tana Toraja, 7 Juni 2000 itu lulus dengan IPK 3,89 hanya dalam 1 tahun 6 bulan.

Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan kisah tentang perjuangan melawan perundungan, keterbatasan ekonomi, hingga kerasnya medan liputan sebagai jurnalis.

“Banyak orang hanya melihat saya lulus cumlaude. Padahal, gelar ini lahir dari perjuangan yang sangat panjang,” ujarnya, Senin (29/6/2026).

Perjalanan Kristiani dimulai dari masa kecil yang penuh luka. Sejak duduk di bangku SD hingga kelas III SMP, ia menjadi korban perundungan yang membuatnya kehilangan kepercayaan diri.

Bahkan, ia mengaku sempat berada di titik terendah dalam hidupnya.

“Obat kedaluwarsa sudah ada di tangan saya. Saya benar-benar ingin mengakhiri hidup. Tetapi nenek mengetuk pintu kamar. Saat itu saya berpikir, kalau Tuhan masih memberi kesempatan hidup, berarti saya harus mengembangkan bakat yang saya punya,” kenangnya.

Ia kemudian memberanikan diri mengikuti seleksi penyiar radio di RPK FM Tana Toraja.

“Di sanalah saya belajar mengenal diri sendiri dan berani berbicara di depan umum,” katanya.

Keberanian itu membawanya menekuni dunia jurnalistik hingga bergabung dalam tim peluncuran Tribun Toraja saat kuliah.

Cobaan kembali datang ketika ia harus menjalani operasi akibat penyakit di bagian perut. Dokter bahkan sempat menduga dirinya mengidap kanker.

“Dua bulan saya hanya menunggu mati. Saya berhenti bermimpi. Tetapi ketika saya masih hidup, saya kembali ingat cita-cita melanjutkan S2,” tuturnya.

Ia mengaku biaya pendaftaran S2 akhirnya terbantu dari uang liputan yang diberikan Kepala Dinas Kesehatan saat itu.

“Beliau mungkin tidak sadar, tetapi bagi saya itu adalah jawaban doa,” ungkapnya.

Kesempatan melanjutkan studi membawanya ke UNY. Demi membayar biaya kuliah, Kristiani menerima pekerjaan sebagai jurnalis di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

Di daerah dengan akses yang sulit itu, ia tetap mengikuti kuliah daring sambil meliput menggunakan speedboat, mengejar sinyal internet, hingga menulis tesis di sebuah bekas kantor Dinas Pariwisata yang ia sebut sebagai “Universitas Mahakam Ulu”.

“Saya kuliah sambil liputan, mengejar sinyal, naik speedboat, menulis tesis di bekas kantor dinas, lalu kembali bekerja. Rasanya benar-benar berdarah-darah. Gelar ini saya persembahkan untuk Mahakam Ulu,” tegasnya.

Saat kembali menetap di Yogyakarta untuk menyelesaikan tesis, perjuangan belum berhenti. Karena belum mahir mengendarai sepeda motor, ia mengandalkan Trans Jogja untuk berangkat kuliah maupun liputan sehingga mendapat julukan “jurnalis busway” dari rekan-rekannya.

“Saya bersyukur memiliki teman-teman yang selalu membantu. Ketika lokasi liputan jauh dari halte, mereka bergantian menjemput dan mengantar saya. Kebersamaan itu menjadi kekuatan terbesar selama saya kuliah,” katanya.

Di tengah kesibukan tersebut, ia juga aktif melayani di Gereja Mawar Sharon serta Persekutuan Mahasiswa Kristen Magister dan Doktoral (Permata) UNY.

Selain lulus cumlaude, Kristiani juga menorehkan berbagai prestasi, di antaranya lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Muda pada usia 23 tahun, meraih penghargaan Penulis Hard News Terbaik IV dari BRI, serta masuk lima besar Insto Jurnalis Competition.

Baginya, gelar magister bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk terus berkarya.

“Seseorang tidak ditentukan oleh seberapa berat masa lalunya, tetapi oleh keberaniannya untuk terus melangkah ketika hidup berkali-kali mengujinya. Saya percaya mimpi bisa tumbuh dari tempat yang paling jauh sekalipun,” pungkasnya. (ady)

Berita Terkait

Polisi Sambangi Warga Rentan Pandeyan, Keamanan Lingkungan Diperkuat
UMY Dorong Peneliti Hilirkan Hasil Riset untuk Masyarakat dan Industri
Siswi Karo Alami Gangguan Ingatan Usai Diduga Keracunan MBG, Ini Penjelasan Dosen Neurologi UMY
Mahasiswa UMY Kembangkan Wisata Budaya di Sambirejo, Bidik Wisatawan Tak Sekadar Singgah di Tebing Breksi
Perkuat Sinergi Pertahanan, Dandim 0601/Pandeglang Dampingi Kunker Menhan di Yonif TP 842/BS
Jateng-DIY Perkuat Kolaborasi Pariwisata, Dorong Wisatawan Tinggal Lebih Lama
Gempa Uji Kesiapsiagaan dan Ketahanan Bangunan Hadapi Guncangan
DPRD DIY Soroti Minimnya Anggaran Mitigasi, Tak Sebanding Potensi Bencana 

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 18:04 WIB

Polisi Sambangi Warga Rentan Pandeyan, Keamanan Lingkungan Diperkuat

Jumat, 11 September 2026 - 14:13 WIB

UMY Dorong Peneliti Hilirkan Hasil Riset untuk Masyarakat dan Industri

Kamis, 10 September 2026 - 14:42 WIB

Siswi Karo Alami Gangguan Ingatan Usai Diduga Keracunan MBG, Ini Penjelasan Dosen Neurologi UMY

Kamis, 10 September 2026 - 14:00 WIB

Mahasiswa UMY Kembangkan Wisata Budaya di Sambirejo, Bidik Wisatawan Tak Sekadar Singgah di Tebing Breksi

Kamis, 10 September 2026 - 11:47 WIB

Perkuat Sinergi Pertahanan, Dandim 0601/Pandeglang Dampingi Kunker Menhan di Yonif TP 842/BS

Berita Terbaru

Nasional

Kemendagri: Informasi Pendefinisian Ulang OAP Tidak Benar

Jumat, 11 Sep 2026 - 16:31 WIB