JOGJAOKE.COM, Jogja – Ekonomi kreatif Yogyakarta kembali mendapat dorongan kuat setelah pelantikan DPPW Gekrafs DIY berlangsung meriah dengan semangat kolaborasi dan aksi nyata untuk pertumbuhan usaha lokal.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menyampaikan selamat kepada Sis Sarah yang dipercaya memimpin kepengurusan DPPW Gekrafs DIY periode mendatang yang membawa energi baru.
Wawan mengatakan, Yogyakarta memiliki tantangan unik karena wilayah Kota Yogyakarta hanya sekitar 32,8 kilometer persegi tanpa kekayaan sumber daya alam yang harus terus dikembangkan.
“Kita tidak punya gunung, laut, kebun, atau tambang. Kekuatan utama kita adalah sumber daya manusia dan industri kreatif,” katanya untuk kemajuan Yogyakarta dan Indonesia, Jum’at (2/10/2026).
Karena itu, Wawan berharap Gekrafs DIY mampu menjadi role model pengembangan ekonomi kreatif yang dapat dicontoh daerah lain secara nasional dan memperkuat jejaring DIY.
Menurut Wawan, kekuatan tersebut harus diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, asosiasi, pelaku usaha, kampus, serta berbagai ekosistem kreatif lainnya di berbagai subsektor DIY lokal.
“Jangan hanya seremonial atau retorika. Sat-set, langsung action, dan tunjukkan program konkret yang manfaatnya dirasakan pelaku ekonomi kreatif,” ujarnya bagi pelaku usaha kreatif DIY.
Wawan juga menyambut hadirnya
Gekrafs Kampus sebagai wadah generasi muda untuk mengembangkan gagasan, kreativitas, jejaring, serta peluang usaha baru berkelanjutan yang adaptif masa kini.
Ia mendorong Gekrafs memanfaatkan fasilitas pemerintah, termasuk PDIN, Taman Pintar, Umbulharjo, dan Gedung Seni yang berada dalam ekosistem kebudayaan dan ruang kolaborasi kreatif bersama.
“Silakan bersinergi dengan pemerintah. Banyak fasilitas yang bisa dikolaborasikan untuk melahirkan karya kreatif, inovasi, dan kegiatan yang berdampak,” katanya untuk memperkuat ekosistem kreatif Yogyakarta.
Kolaborasi juga diarahkan bersama IAI, komunitas fotografi, Customfest, festival film, serta berbagai asosiasi yang memiliki potensi memperluas jejaring ekonomi kreatif membuka peluang promosi sektor.
Wawan meminta pengurus segera berkonsolidasi dan bersilaturahmi ke kabupaten serta kota se-DIY agar program ekonomi kreatif berjalan lebih terintegrasi dan mempercepat pertukaran gagasan antarwilayah.
Mari sowan ke kabupaten dan kota. Satukan program, jangan berjalan sendiri-sendiri, sehingga ekosistem ekonomi kreatif DIY semakin kuat dan terhubung, pesannya bagi pelaku kreatif.
Kehadiran wisatawan pada akhir pekan, menurut Wawan, menjadi peluang besar karena tiket transportasi dan akomodasi menuju Yogyakarta sering habis dan mendongkrak transaksi dan transaksi.
Momentum tersebut dapat dimanfaatkan pelaku ekonomi kreatif melalui kuliner, fesyen, seni, desain, pertunjukan, hingga berbagai produk kreatif berbasis kearifan lokal yang memberi nilai tambah.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Gekrafs Kawendra Lukisman membuka sambutannya dengan pantun tentang keramahan Malioboro dan semangat ekonomi kreatif menyapa seluruh tamu yang hadir.
Kawendra kemudian mengajak seluruh hadirin meneriakkan jargon, “Ekonomi Kreatif! Masa Depan Indonesia!” untuk membangkitkan semangat bersama di Yogyakarta bersama seluruh hadirin.
Ia memberikan penghormatan kepada
Wawan Harmawan sebagai Ketua Dewan Pembina Gekrafs DIY, sekaligus mengapresiasi jajaran OPD dan perwakilan daerah yang hadir pada acara tersebut.
Kawendra menyebut jaringan Gekrafs kini berkembang hingga 18 negara, dengan perwakilan yang telah hadir di Rusia, UEA, Arab Saudi, Portugal, Italia di dunia internasional.
“Ada anggota Gekrafs yang mendirikan restoran Indonesia di Rusia dan mengelola kuliner di Burj Khalifa. Ini bukti ide kreatif bisa mendunia,” katanya memperkuat kuliner.
Kawendra menegaskan Yogyakarta mempunyai embrio kreativitas kuat berbasis kearifan lokal dan gagasan, sehingga peluang menembus pasar global sangat terbuka bagi pelaku kreatif lokal lainnya.
Ia juga memperkenalkan program Astra Karya untuk mendukung pendanaan, pendampingan, serta pemasaran, sekaligus mendorong Gekrafs DIY memiliki flagship program tahunan untuk memperkuat ekosistem DIY.
“Jangan menjadi wadah gaya-gayaan. Jadilah gerbong kemanfaatan, punya program unggulan, dan buat Yogyakarta menjadi top of mind ekonomi kreatif nasional,” tegasnya sebagai identitas kreatif.(waw)






