Dosen UMY: Redenominasi Rupiah Perlu Penguatan Ekspor untuk Stabilitas Ekonomi

Kamis, 13 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Agus Tri Basuki, S.E., M.Si. (Dok UMY)

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Agus Tri Basuki, S.E., M.Si. (Dok UMY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Agus Tri Basuki, S.E., M.Si., menilai kebijakan redenominasi rupiah perlu diiringi dengan langkah konkret memperkuat sektor ekspor agar stabilitas ekonomi nasional terjaga.

“Kalau pemerintah ingin nilai rupiah tetap kuat dan redenominasi berjalan stabil, maka ekspor harus digencarkan. Ekspor yang tinggi akan memperkuat kurs rupiah,” ujar Agus saat ditemui di Gedung AR Fachruddin UMY, Kamis (13/11).

Menurut Agus, peningkatan ekspor memiliki efek berganda terhadap perekonomian nasional. Selain memperkuat nilai tukar, ekspor juga mendorong peningkatan tabungan nasional, memperkuat APBN, dan membuka lapangan kerja baru. Ia mencontohkan Singapura sebagai negara yang berhasil menjadikan ekspor sebagai tulang punggung ekonomi.

“Singapura itu unik. Hampir seluruh aktivitas ekonominya berbasis ekspor dan impor. Barang keluar-masuk sangat efisien, dan itu membuat APBN mereka kuat,” jelasnya.

Agus menilai, Indonesia perlu melakukan transformasi ekspor dari komoditas mentah menuju produk industri bernilai tambah tinggi dan berteknologi canggih. Langkah tersebut, katanya, akan meningkatkan daya saing serta memperluas penyerapan tenaga kerja.

“Kita tidak bisa terus mengandalkan ekspor bahan mentah. Harus mulai beralih ke produk industri dan teknologi. Dengan begitu, kita bisa menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat fondasi ekonomi,” katanya.

Selain ekspor, Agus menekankan pentingnya stabilitas politik dan pengendalian inflasi sebagai faktor pendukung utama pertumbuhan ekonomi. Ketidakseimbangan di dua sektor itu, menurutnya, akan berdampak langsung pada industri dan daya beli masyarakat.

“Stabilitas ekonomi dan politik itu saling terkait. Kalau pengangguran tinggi dan inflasi tak terkendali, permintaan barang menurun, industri pun akan melemah,” ujarnya.

Ia menambahkan, redenominasi seharusnya bukan sekadar penyesuaian angka dalam sistem keuangan, melainkan momentum memperkuat struktur ekonomi nasional.

“Redenominasi tanpa ekspor yang kuat itu seperti kapal tanpa mesin. Pemerintah perlu fokus pada penciptaan produk-produk baru untuk pasar global agar kurs rupiah dan kepercayaan publik terhadap ekonomi nasional tetap terjaga,” pungkasnya. (ihd)

Berita Terkait

Dosen Bahasa Arab UMY Dorong Literasi Mahasiswa Al-Azhar Lewat Workshop Penulisan di Kairo
Dosen UMY Soroti Kasus Amsal Sitepu, Alarm bagi Masa Depan Industri Kreatif
Pembatasan Medsos Anak, UMY: Perlu Kajian Mendalam dan Pendampingan Orang Tua
UMY Dampingi UMKM Melaka Susun Strategi Bisnis untuk Naik Kelas
Pakar UMY: Pertumbuhan 8 Persen Harus Serap Tenaga Kerja, Bonus Demografi Jadi Penentu
Ajir Hybrid untuk Kemukus, Inovasi Mahasiswa KKN UMY di Perbukitan Kulon Progo
Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama, UMY Perkuat Ikatan dengan Warga Sekitar Kampus
Malam Seribu Bulan, Dosen UMY: Hikmah Lailatul Qadar di 10 Hari Terakhir Ramadan

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 16:45 WIB

Dosen Bahasa Arab UMY Dorong Literasi Mahasiswa Al-Azhar Lewat Workshop Penulisan di Kairo

Kamis, 2 April 2026 - 21:17 WIB

Dosen UMY Soroti Kasus Amsal Sitepu, Alarm bagi Masa Depan Industri Kreatif

Selasa, 31 Maret 2026 - 19:15 WIB

Pembatasan Medsos Anak, UMY: Perlu Kajian Mendalam dan Pendampingan Orang Tua

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:14 WIB

UMY Dampingi UMKM Melaka Susun Strategi Bisnis untuk Naik Kelas

Jumat, 20 Maret 2026 - 08:08 WIB

Pakar UMY: Pertumbuhan 8 Persen Harus Serap Tenaga Kerja, Bonus Demografi Jadi Penentu

Berita Terbaru