Wamendagri Bima, Dari Bogor untuk Indonesia: Inovasi Pengelolaan Sampah Plastik melalui Program CSR dan Teknologi

Senin, 13 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto membagikan pengalamannya dalam mengelola sampah kantong plastik saat menjabat sebagai Wali Kota Bogor. Hal itu ia sampaikan ketika menjadi pembicara dalam Kuliah Umum di Universitas Bina Nusantara (Binus) Internasional – JWC Campus, Jakarta, Senin (13/10/2025).

Bima menjelaskan bahwa pengelolaan sampah plastik di Kota Bogor dilakukan melalui pendekatan pencegahan dari hulu, bukan hanya penanganan di hilir. Menurutnya, langkah tersebut lebih efektif karena dapat menekan volume sampah plastik sebelum menumpuk di akhir rantai pengelolaan.

“Menurut saya yang sangat diperlukan adalah mengurangi sampah plastiknya dari hulunya, mengurangi pemakaian plastiknya dulu, karena kalau mengolahnya di ujung agak susah gitu ya,” katanya.

Sebagai bagian dari upaya itu, pada 2018 Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor meluncurkan program Bogor Tanpa Kantong Plastik (Botak). Program ini menyasar pusat perbelanjaan, toko modern, dan pasar tradisional dengan tujuan menekan penggunaan kantong plastik secara signifikan.

Namun, Bima tidak menampik bahwa pelaksanaan program tersebut menghadapi tantangan besar. Penolakan datang dari berbagai kalangan, terutama ibu rumah tangga yang telah terbiasa menggunakan kantong plastik dalam aktivitas belanja sehari-hari.

“Tidak mudah ya, awal-awal itu kita itu dikeroyok sama ibu-ibu, ya karena kata ibu-ibu, bagaimana kita biasa pakai kantong plastik belanja, susah,” ujarnya.

Bima menekankan pentingnya edukasi dan sosialisasi sebelum kebijakan dijalankan. Menurutnya, kebijakan publik yang menyangkut kebutuhan masyarakat sehari-hari memerlukan proses pembiasaan dan kesabaran. Ia menceritakan bahwa Pemkot Bogor membutuhkan waktu cukup panjang untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat.

“Kita berbulan, lama, lebih dari berbulan, rasanya setahun ya. It took a year for us to socialize, to do a campaign, reducing the plastic, jadi tidak mudah,” tegasnya.

Selain sosialisasi, Bima juga mendorong penggunaan teknologi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Pemkot Bogor saat itu menjalin kerja sama dengan pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menghadirkan mesin penukar sampah plastik (vending machine).

Inisiatif ini terinspirasi dari praktik pengelolaan sampah di Jepang. Melalui mesin tersebut, masyarakat, terutama anak muda, dapat menukar botol plastik atau kemasan air mineral dengan pulsa telepon.

“Cuma perlu waktu berapa, 3 atau 6 bulan dan kemudian itu terjadi, jadi kami punya beberapa, vending machine ini di alun-alun Kota Bogor dan beberapa titik kota,” ungkapnya.

Bima juga menegaskan bahwa penanganan sampah plastik tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemangku kepentingan, kepala daerah, hingga komunitas masyarakat. Ia menilai kolaborasi dengan komunitas berdampak besar karena komunitas mampu menjaga keberlanjutan gerakan lingkungan dan melakukan regenerasi.

“Kolaborasi dengan komunitas dengan warga itu adalah kunci, dalam arti penanganan sampah. Apalagi kalau di-support oleh international NGO untuk memastikan ada standar-standar yang tepat,” pungkasnya.

Sebagai informasi, kuliah umum tersebut turut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas masa bakti 2014–2015 Andrinof A. Chaniago serta sejumlah tokoh lainnya dan civitas academica Universitas Binus.(nr)

Sumber : Puspen Kemendagri

Berita Terkait

Satgas PRR Pastikan Bantuan Sapi Presiden Tersalurkan Tepat Sasaran ke Masyarakat Pascabencana Aceh
Muhammad Tito Karnavian Serahkan Bantuan Perbaikan Rumah Pascabencana di Aceh Tamiang
Wamendagri Ribka Tegaskan Pentingnya Integrasi SIPD Dukung Pemeriksaan BPK
Kemendagri Diminta Perkuat Peran Strategis dalam Mengawal Ekonomi Sosial Kerakyatan
49 Pejabat Dilantik, Mendagri Perkuat Tim Dukung Tugas Strategis Nasional
ALTI Targetkan Kepengurusan di 38 Provinsi dan Tampil di PON 2028
Wamendagri: Dana Desa Harus Kembali ke Rakyat dan Bebas dari Penyalahgunaan
HPN sebagai Rumah Bersama: Kritik atas Pengelolaan dan Representasi di Banten 2026

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 15:29 WIB

Satgas PRR Pastikan Bantuan Sapi Presiden Tersalurkan Tepat Sasaran ke Masyarakat Pascabencana Aceh

Jumat, 13 Februari 2026 - 14:33 WIB

Muhammad Tito Karnavian Serahkan Bantuan Perbaikan Rumah Pascabencana di Aceh Tamiang

Kamis, 12 Februari 2026 - 18:11 WIB

Wamendagri Ribka Tegaskan Pentingnya Integrasi SIPD Dukung Pemeriksaan BPK

Kamis, 12 Februari 2026 - 17:48 WIB

Kemendagri Diminta Perkuat Peran Strategis dalam Mengawal Ekonomi Sosial Kerakyatan

Kamis, 12 Februari 2026 - 15:33 WIB

49 Pejabat Dilantik, Mendagri Perkuat Tim Dukung Tugas Strategis Nasional

Berita Terbaru

Muhammadiyah meluncurkan 24 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di tujuh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), Jumat (12/2), di Ballroom The University Hotel Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (Humas UMY)

Pendidikan

Bersama UMY, Muhammadiyah Luncurkan 24 PPDS di Tujuh PTMA

Jumat, 13 Feb 2026 - 18:01 WIB