Pelaku Rantai Pasok Didorong Perkuat Integrasi Data untuk Tingkatkan Daya Saing

Kamis, 4 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Giuseppe Timperio, Manajer Riset The Logistics Institute-Asia Pacific (TLI-AP), National University of Singapore (NUS)

Dr. Giuseppe Timperio, Manajer Riset The Logistics Institute-Asia Pacific (TLI-AP), National University of Singapore (NUS)

JOGJAOKE.COM, Tantangan logistik di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur maupun transportasi, tetapi juga minimnya pertukaran data antar pelaku rantai pasok. Kondisi tersebut membuat sistem distribusi barang rentan mengalami inefisiensi dan sulit beradaptasi ketika terjadi gangguan. Padahal, bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang mengandalkan berbagai moda transportasi, koordinasi dan visibilitas informasi menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran arus barang.

Menurut Dr. Giuseppe Timperio, Manajer Riset The Logistics Institute-Asia Pacific (TLI-AP), National University of Singapore (NUS), _Freight flow management_ tidak hanya berbicara tentang pergerakan barang, tetapi juga mencakup keseluruhan rantai pasok mulai dari proses desain, produksi, pengadaan bahan baku, hingga barang diterima oleh konsumen. Dalam proses tersebut, terdapat banyak pihak yang terlibat mulai dari pemasok, produsen, distributor, hingga pengecer yang masing-masing memiliki sistem dan kepentingan berbeda.

“Dalam rantai pasok terdapat begitu banyak pemangku kepentingan yang terlibat dan masing-masing memiliki sistem, data, serta prioritasnya sendiri. Yang kami lihat saat ini adalah masih sangat sedikit platform, protokol, maupun insentif yang memungkinkan para pelaku tersebut berbagi data satu sama lain,” ungkap Giuseppe dalam acara _One-Day Workshop on Multi-Mudal Freight Flows in Indonesia,_ Kamis (4/6) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Banyak organisasi telah berhasil mengoptimalkan operasionalnya masing-masing. Namun, keberhasilan tersebut belum tentu menghasilkan sistem logistik yang efisien secara keseluruhan. Menurutnya, salah satu persoalan utama dalam rantai pasok modern adalah setiap pihak cenderung berfokus pada target organisasinya sendiri tanpa melihat keterkaitan dengan aktor lain dalam jaringan distribusi.

“Ketika koneksi di antara mereka tidak berjalan dengan baik, kita tidak bisa mengatakan bahwa sistem secara keseluruhan sudah optimal. Karena itu, kita perlu melihat pergerakan barang sebagai satu sistem yang saling terhubung,” ujar Giuseppe.

Kurangnya koordinasi tersebut semakin terlihat ketika terjadi disrupsi. Giuseppe mencontohkan pandemi Covid-19 yang memicu lonjakan permintaan terhadap masker dan hand sanitizer. Ketika informasi tidak terhubung dengan baik, gangguan yang muncul pada satu titik dapat menyebar dan bahkan membesar di sepanjang rantai pasok atau yang dikenal sebagai _bullwhip effect_ .

“Ketika terjadi lonjakan permintaan masker saat pandemi, informasi itu bergerak ke distributor, produsen, hingga pemasok bahan baku. Karena tidak ada informasi yang terintegrasi, setiap pihak mulai memesan lebih banyak, memproduksi lebih banyak, dan menyimpan lebih banyak stok. Pada akhirnya terjadi duplikasi persediaan dalam jumlah besar. Beberapa tahun setelah pandemi, kita bahkan melihat stok hand sanitizer berlebih karena sebelumnya diproduksi jauh melebihi kebutuhan sebenarnya,” ungkapnya.

Untuk itu, tantangan logistik saat ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan kinerja masing-masing organisasi. Diperlukan koordinasi yang lebih baik antar pemangku kepentingan agar informasi dapat mengalir secara efektif di sepanjang rantai pasok. Dengan demikian, gangguan yang terjadi pada satu titik tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan mengganggu distribusi barang secara keseluruhan.

Kegiatan workshop ini diselenggarakan UMY bekerja sama dengan _The Logistics Institute – Asia Pacific (_ TLI-AP) dan National University of Singapore (NUS). Workshop tersebut menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi untuk mendiskusikan tantangan serta peluang pengembangan sistem logistik dan rantai pasok di Indonesia.

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Geger Pantai Wediombo! Warga Berburu Teri, Sekali Pulang Bawa 4 Kilogram
Dirgahayu Kota Yogyakarta ke-270. Yogyakarta Otentik-Konkret, Maju dan Sejahtera.
Korem 072/Pamungkas Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta “Otentik, Konkret, dan Terus Bergerak untuk Jogja yang Semakin Istimewa.”
Pemkab Bandung Perjuangkan Tambahan Anggaran PBI Rp50 Miliar demi Layanan Kesehatan 12 Bulan Penuh
‎HUT Kota Yogyakarta ke-270 Memanas, 118 Pelajar Taman Dewasa Ramaikan Karnaval Budaya
MRC No One Knows dan Perjalanan Panjang dari Rakit Bambu ke Gelaralam
Suahasil Jadi Menkeu Gantikan Purbaya, Pasar Menanti Gebrakan Bereskan Fiskal Nasional
Adu Racik Barista Lampung Meriahkan Festival Krakatau XXXV

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:59 WIB

Geger Pantai Wediombo! Warga Berburu Teri, Sekali Pulang Bawa 4 Kilogram

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:03 WIB

Dirgahayu Kota Yogyakarta ke-270. Yogyakarta Otentik-Konkret, Maju dan Sejahtera.

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Korem 072/Pamungkas Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta “Otentik, Konkret, dan Terus Bergerak untuk Jogja yang Semakin Istimewa.”

Rabu, 30 September 2026 - 15:12 WIB

Pemkab Bandung Perjuangkan Tambahan Anggaran PBI Rp50 Miliar demi Layanan Kesehatan 12 Bulan Penuh

Rabu, 30 September 2026 - 12:52 WIB

‎HUT Kota Yogyakarta ke-270 Memanas, 118 Pelajar Taman Dewasa Ramaikan Karnaval Budaya

Berita Terbaru