JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA — Tradisi Ciamsi turut diperkenalkan kepada masyarakat dalam rangkaian Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI 2026 yang berlangsung di Rumah Budaya, kawasan Ketandan, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mengenalkan praktik budaya Tionghoa yang sarat nilai filosofi dan refleksi kehidupan.
Ciamsi merupakan metode tradisional yang dikenal sebagai bentuk peramalan menggunakan batang-batang bambu bernomor. Angka yang keluar dari proses tersebut kemudian merujuk pada syair atau sajak tertentu yang berisi pesan moral dan nasihat kehidupan.
Dalam praktiknya, Ciamsi tidak semata dipahami sebagai ramalan mengenai masa depan. Setiap syair yang diperoleh justru mengandung nilai sastra serta ajaran moral yang dapat menjadi bahan perenungan bagi individu.
“Melalui Ciamsi, masyarakat tidak hanya mendapatkan ramalan, tetapi juga belajar tentang pesan moral melalui sajak-sajak yang ada di dalamnya,” ujar Reynald selaku Panitia PBTY
Ia menjelaskan bahwa tingkat akurasi ramalan bukan menjadi fokus utama dalam tradisi tersebut. Ciamsi lebih dimaknai sebagai sarana pengingat agar seseorang mampu mengevaluasi diri dan memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan-pesan yang muncul dalam syair, seperti ajakan memperbaiki kesalahan atau lebih berhati-hati dalam pergaulan, dinilai relevan sebagai refleksi diri, bukan sebagai kepastian atas masa depan.
Panitia PBTY menekankan bahwa kegiatan ini juga bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tradisi Ciamsi tidak dipandang sebagai praktik tahayul, melainkan bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai filosofi dan pembelajaran hidup.
Melalui kehadiran tradisi Ciamsi di PBTY XXI, pengunjung diharapkan dapat mengenal lebih dekat kekayaan budaya Tionghoa sekaligus mengambil hikmah dari pesan-pesan kehidupan yang disampaikan melalui sastra tradisional tersebut.
Kegiatan Ciamsi dapat disaksikan dan diikuti langsung oleh masyarakat selama penyelenggaraan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta di Rumah Budaya Ketandan. (Aga)






