Cahaya Pradipta Menangi Sayembara, Hadirkan Gerbang Ikonik Perbatasan DIY Megah

Jumat, 24 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, ‎Jogja – Berawal dari semburat matahari pagi Rongkop, mahakarya “Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan DIY” resmi menjuarai Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY 2026. Karya rancangan Marcelo Diaz Octavianus tersebut memikat perhatian dewan juri hingga memperoleh persetujuan langsung Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai kehormatan.

Pengumuman pemenang ditetapkan melalui rapat pleno final di Ruang Gadri Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (20/7/2026), menandai berakhirnya kompetisi bergengsi tersebut resmi. Sayembara yang digelar Pemda DIY melalui Biro Tata Pemerintahan Setda DIY menghadirkan gagasan penanda perbatasan memadukan tradisi, keistimewaan, serta modernitas berkelanjutan.

Ketua Dewan Juri, Prof. Ar. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., mengatakan, “Kesan pertamanya sangat kuat, bentuknya unik dan spektakuler.” Ia menambahkan, “Karakter visualnya hidup, baik saat diterpa cahaya matahari maupun pendar lampu malam, sehingga menghadirkan identitas Yogyakarta yang kuat.”

Menurut Ikaputra, karya Marcelo berhasil menyisihkan 124 desain terbaik dari sekitar 400 peserta yang mengikuti sayembara nasional dengan persaingan sangat ketat. Secara konseptual, Cahaya Pradipta mengangkat simbol pendaran sinar sebagai penuntun perjalanan sekaligus menyampaikan pesan hangat, “Selamat datang di Yogyakarta,” kepada pengunjung.

Desain futuristik tersebut dinilai mampu mempertemukan nilai budaya, filosofi keistimewaan, serta perkembangan arsitektur modern dalam satu karya monumental yang membanggakan daerah. Gapura megah itu direncanakan berdiri di perbatasan Kapanewon Rongkop, Gunungkidul, dengan Pracimantoro, Wonogiri, menggunakan pendanaan melalui Dana Keistimewaan atau Danais resmi.

Sekretaris DPUPRKP Gunungkidul, Eli Martono, menyatakan, “Desain ini sangat berpotensi menjadi ikon baru sekaligus magnet kawasan timur Gunungkidul bagi wisatawan.” Eli menegaskan, “Gerbang ini akan melengkapi ikon Geopark Patuk, I Love Gunungkidul Semin, serta canting Batik Tancep Ngawen yang terkenal.”

Keberadaan gerbang baru tersebut diharapkan memperkuat citra kawasan perbatasan sebagai wajah pertama Daerah Istimewa Yogyakarta yang berkarakter, ramah, dan berbudaya tinggi. Selain menjadi pembatas administratif, bangunan monumental itu diproyeksikan menghadirkan pengalaman visual berkesan bagi masyarakat maupun wisatawan yang melintasi jalur perbatasan setiap hari.

Bagi para pengembara, gerbang tersebut menjadi simbol penyambutan penuh kehangatan, menghadirkan kesan mendalam sebelum menikmati pesona budaya dan keistimewaan Yogyakarta secara menyeluruh. Melalui Cahaya Pradipta, Yogyakarta kembali menunjukkan bahwa inovasi, budaya, dan arsitektur dapat berpadu indah menciptakan identitas daerah yang membanggakan Indonesia selamanya.(waw)

Berita Terkait

‎GPM Yogyakarta Tegaskan Marhaenisme Bukan Kendaraan Politik Pribadi Kekuasaan
OTT Rektor Unsoed Jadi Alarm Keras Kampus Negeri Yogyakarta
Rayakan HUT RI ke-81, KAWAL Indonesia Bergerak Bersihkan Lingkungan Bersama Masyarakat
Desil DTSEN Bisa Berubah, Pakar UMY: Jangan Dianggap Label Mutlak Kesejahteraan
Pasien BPJS Tunggu 8 Jam di IGD RSCM, Dosen UMY Soroti Patient Flow Rumah Sakit
GPM Tegaskan Independensi, Marhaenisme Tetap Jadi Garis Perjuangan Organisasi
Ekonomi Digital Makin Beragam, Pemkot Yogyakarta Masukkan Kreator Konten dalam Pendataan UMKM
Pameran Batik Kontemporer Prawirotaman Angkat Karya dan Kreativitas Pembatik Muda

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:19 WIB

‎GPM Yogyakarta Tegaskan Marhaenisme Bukan Kendaraan Politik Pribadi Kekuasaan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:15 WIB

OTT Rektor Unsoed Jadi Alarm Keras Kampus Negeri Yogyakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:28 WIB

Rayakan HUT RI ke-81, KAWAL Indonesia Bergerak Bersihkan Lingkungan Bersama Masyarakat

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:54 WIB

Desil DTSEN Bisa Berubah, Pakar UMY: Jangan Dianggap Label Mutlak Kesejahteraan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:47 WIB

Pasien BPJS Tunggu 8 Jam di IGD RSCM, Dosen UMY Soroti Patient Flow Rumah Sakit

Berita Terbaru

Yogyakarta

OTT Rektor Unsoed Jadi Alarm Keras Kampus Negeri Yogyakarta

Sabtu, 22 Agu 2026 - 13:15 WIB