Bukan Cuma Biar Rapi, Guru Besar UMY Ingatkan Pentingnya Fungsi dan Efek Jangka Panjang Pasang Behel

Sabtu, 13 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Guru Besar UMY bidang ortodonti, Prof. Dr. drg. Tita Ratya Utari, Sp.Ort saat menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan guru besarnya di UMY

Guru Besar UMY bidang ortodonti, Prof. Dr. drg. Tita Ratya Utari, Sp.Ort saat menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan guru besarnya di UMY

JOGJAOKE.COM, Selama ini, banyak orang mengira keberhasilan pasang behel atau perawatan ortodonti hanya diukur dari seberapa rapi dan indahnya susunan gigi setelah kawat dilepas. Namun, pandangan ini dikritik oleh Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. drg. Tita Ratya Utari, Sp.Ort.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar di Gedung AR Fachruddin A UMY, Sabtu (13/6/2026), Prof. Tita mengingatkan bahwa merapikan gigi tidak boleh mengorbankan fungsi kesehatan mulut yang lain. Menurutnya, hasil yang rapi harus bisa bertahan seumur hidup dan nyaman digunakan untuk mengunyah.

“Tujuan utama merapikan gigi seharusnya tidak berhenti pada penampilan, tetapi juga memastikan fungsi sistem pengunyahan berjalan harmonis dan hasil perawatan dapat bertahan dalam jangka panjang,” ujar Prof. Tita dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk *“Ortodonti Berbasis Fungsi dan Stabilitas: Paradigma Keilmuan Menuju Keberlanjutan Oklusi di Era Modern”*.

Gigi, Otot, dan Sendi Adalah Satu Tim

Prof. Tita menjelaskan bahwa mulut kita memiliki sistem yang saling terhubung—mulai dari gigi, gusi, otot rahang, sendi rahang (sendi di dekat telinga), hingga sistem saraf. Semuanya bekerja seperti satu tim yang terintegrasi.

Jika dokter hanya fokus menggeser gigi agar rapi tanpa memikirkan bagaimana gigi atas dan bawah bertemu saat mengunyah (*oklusi*), komponen lain seperti otot atau sendi rahang bisa terganggu. Keseimbangan inilah yang menentukan apakah hasil behel akan awet atau tidak.

Mengapa Gigi Bisa Bergeser Lagi Setelah Behel Dilepas?

Salah satu masalah yang sering ditakuti pasien adalah *relaps*, yaitu kondisi di mana posisi gigi kembali berantakan atau bergeser ke posisi semula setelah alat behel dilepas.

Menurut Prof. Tita, gigi bergeser lagi bukan sekadar karena kesalahan teknis dokter, melainkan proses alami tubuh. Ketika gigi dipaksa pindah tempat, jaringan gusi dan tulang rahang di sekitarnya butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan posisi barunya.

“Faktor pertumbuhan wajah, cara otot mulut bergerak, hingga kondisi biologis masing-masing orang sangat memengaruhi risiko gigi bergeser kembali,” tambahnya. Oleh karena itu, rencana agar gigi tidak bergeser lagi harus sudah dipikirkan matang-matang oleh dokter sejak awal pemeriksaan, bukan baru dipikirkan saat behel mau dilepas.

Teknologi Digital Cuma Alat Bantu, Bukan Pengganti Dokter

Di era modern ini, dunia merapikan gigi sudah sangat canggih. Dokter gigi kini dibantu oleh pemindaian digital tiga dimensi (3D), kecerdasan buatan (*artificial intelligence*/AI), hingga program komputer yang bisa memprediksi pertumbuhan rahang pasien.

Teknologi ini memang membuat diagnosis jadi jauh lebih akurat. Namun, Prof. Tita memberikan catatan penting: secanggih apa pun teknologinya, itu hanyalah alat bantu.

Keputusan akhir tetap ada di tangan dokter yang harus memahami kondisi biologis unik setiap pasien. Tanpa keahlian klinis dokter, gigi yang terlihat rapi di komputer belum tentu sehat dan bertahan lama di dalam mulut pasien yang sebenarnya.

Melalui orasinya, Prof. Tita berharap dunia kedokteran gigi di Indonesia semakin berfokus pada kesehatan jangka panjang pasien, bukan sekadar estetika sesaat.

“Keberhasilan merapikan gigi bukan cuma tentang posisi gigi yang rapi hari ini, tetapi bagaimana fungsi kunyah dan kestabilannya tetap terjaga hingga bertahun-tahun ke depan,” pungkasnya.

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Geger Pantai Wediombo! Warga Berburu Teri, Sekali Pulang Bawa 4 Kilogram
Dirgahayu Kota Yogyakarta ke-270. Yogyakarta Otentik-Konkret, Maju dan Sejahtera.
Korem 072/Pamungkas Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta “Otentik, Konkret, dan Terus Bergerak untuk Jogja yang Semakin Istimewa.”
Pemkab Bandung Perjuangkan Tambahan Anggaran PBI Rp50 Miliar demi Layanan Kesehatan 12 Bulan Penuh
‎HUT Kota Yogyakarta ke-270 Memanas, 118 Pelajar Taman Dewasa Ramaikan Karnaval Budaya
MRC No One Knows dan Perjalanan Panjang dari Rakit Bambu ke Gelaralam
Suahasil Jadi Menkeu Gantikan Purbaya, Pasar Menanti Gebrakan Bereskan Fiskal Nasional
Adu Racik Barista Lampung Meriahkan Festival Krakatau XXXV

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:59 WIB

Geger Pantai Wediombo! Warga Berburu Teri, Sekali Pulang Bawa 4 Kilogram

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:03 WIB

Dirgahayu Kota Yogyakarta ke-270. Yogyakarta Otentik-Konkret, Maju dan Sejahtera.

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Korem 072/Pamungkas Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta “Otentik, Konkret, dan Terus Bergerak untuk Jogja yang Semakin Istimewa.”

Rabu, 30 September 2026 - 15:12 WIB

Pemkab Bandung Perjuangkan Tambahan Anggaran PBI Rp50 Miliar demi Layanan Kesehatan 12 Bulan Penuh

Rabu, 30 September 2026 - 12:52 WIB

‎HUT Kota Yogyakarta ke-270 Memanas, 118 Pelajar Taman Dewasa Ramaikan Karnaval Budaya

Berita Terbaru