JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Putusnya jaringan komunikasi akibat banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada penghujung November lalu menyisakan kecemasan panjang bagi para perantau.
Di Yogyakarta, situasi itu dirasakan pula oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Chairul Arif Pasaribu (19), asal Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Arif mengisahkan masa-masa ketika ia kehilangan kontak dengan keluarganya hampir sepekan penuh. Tanggal 24 November 2025 tercatat jelas di benaknya. Kala itu, pesan dari adiknya masuk, mengabarkan bahwa air mulai naik di kota yang berdekatan dengan desa mereka. Tidak lama berselang, semua komunikasi terputus.
“Besoknya saya chat lagi, tapi sudah centang satu. Lalu ada kabar dari teman perantau kalau kondisi kota sudah parah. Tapi keluarga di kampung tidak ada yang bisa dihubungi. Saya benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi,” ujarnya saat ditemui Humas UMY, Kamis (11/12/2025).
Situasi jaringan yang sempat lumpuh di sebagian wilayah pesisir membuat banjir dan longsor terasa seperti bencana ganda, bahaya fisik dan hilangnya kabar. Arif menyebut hampir tak bisa tidur, memantau linimasa media sosial, dan menunggu siaran resmi pemerintah daerah untuk mencari serpihan informasi.
Kabar baru ia peroleh hampir satu minggu kemudian. Jaringan telepon yang tersendat akhirnya kembali tersambung, mempertemukannya kembali dengan suara keluarga. Dari penuturan mereka, rumah orang tuanya termasuk yang terendam cukup parah. Letaknya dekat sungai yang meluap setelah tanggul jebol.
“Keluarga sempat mengungsi, tapi alhamdulillah semuanya selamat. Barang-barang banyak yang rusak. Air sempat setinggi mata kaki dan membawa lumpur,” ujarnya.
Kerusakan tak hanya menimpa permukiman. Sejumlah jembatan kecil yang menjadi penghubung antardusun di Kecamatan Sorkam ikut putus, membuat distribusi bantuan tersendat. Hujan yang masih turun hingga pekan ini memicu kekhawatiran banjir susulan dan memaksa warga memilih bertahan di dataran tinggi saat cuaca memburuk.
Situasi ekonomi pun terdampak. Di wilayah bencana, harga bahan pangan melonjak tajam. Arif menyampaikan laporan keluarganya bahwa minyak goreng menembus Rp50.000 per liter, sementara sebagian warga belum dapat bekerja karena akses dan situasi yang belum pulih.
“Di sana semua serba mahal. Keluarga saya harus hemat sekali, karena belum tahu kapan keadaan kembali normal,” tuturnya.
Meski pikiran terpecah antara kuliah dan kecemasan, Arif tetap berusaha mengikuti perkuliahan seperti biasa. Ia menyebut tugas kampus membuat dirinya tetap terikat pada rutinitas, meski batinnya terus tertinggal ke kampung halaman.
Melihat kerusakan yang meluas, Arif berharap ada pembenahan yang lebih serius pada tata kelola lingkungan di wilayah rawan bencana. Ia menuturkan kegelisahan banyak warga mengenai alih fungsi lahan dan aktivitas industri di hulu sungai.
“Dari cerita masyarakat, beberapa lahan berubah jadi kebun sawit, juga ada penambangan emas di daerah tetangga kampung dan dekat Danau Toba. Warga percaya itu mempengaruhi kondisi sungai sampai ke desa kami. Saya berharap pemerintah lebih peduli dan memperbaiki regulasinya,” katanya.
Bagi Arif dan para perantau lain, bencana kali ini menyisakan pelajaran pahit: betapa rentannya kehidupan ketika komunikasi terputus dan ruang hidup tak lagi aman dari ancaman cuaca ekstrem. Namun, lewat suara keluarga yang akhirnya kembali ia dengar, Arif memilih bertahan menjaga harapan, sembari menunggu daerahnya pulih kembali. (ihd)






