JOGJAOKE.COM, Sebuah mimpi masa kecil yang dahulu hanya disaksikan melalui layar televisi akhirnya menjadi kenyataan bagi Ananto Isworo, S.Ag., alumni Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pada 11 Juni 2026, ia menerima penghargaan Kalpataru Adya 2026 kategori Perintis Lingkungan, penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup yang diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Muhammad Jumhur Hidayat.
“Dulu waktu masih SD saya melihat penghargaan Kalpataru di TVRI pada masa Presiden Soeharto. Saat itu rasanya seperti mimpi yang sangat jauh di langit. Saya tidak pernah membayangkan suatu hari berada di posisi yang sama menerima penghargaan tersebut,” ungkap Ananto saat diwawancarai secara daring, Rabu (17/6/2026).
Bagi Ananto, penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan penguat semangat untuk terus bergerak dalam dakwah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Berawal dari Keprihatinan terhadap Kampung yang Dipenuhi Sampah
Perjalanan Ananto di bidang lingkungan bermula dari keprihatinannya terhadap kondisi Kampung Brajan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, pada 2005. Saat itu, lingkungan kampung belum tertata dengan baik. Sampah berserakan di berbagai sudut, sementara kasus demam berdarah kerap muncul akibat banyaknya kaleng dan botol bekas yang menjadi sarang nyamuk.
Di tengah berbagai keluhan warga terkait biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan hidup lainnya, Ananto yang saat itu belum mampu membantu secara finansial justru menemukan gagasan sederhana yang kemudian membawa perubahan besar.
“Saya tidak meminta uang kepada warga. Saya hanya meminta sampah mereka,” kenangnya.
Dari gagasan tersebut lahirlah Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eko-Masjid, sebuah model pemberdayaan masyarakat yang mengubah sampah menjadi sumber dana sosial. Sampah yang semula dianggap tidak bernilai dipilah dan dijual, kemudian hasilnya digunakan untuk membantu biaya pendidikan anak-anak, memberikan bantuan sembako bagi janda dan keluarga kurang mampu, hingga mendukung kebutuhan kesehatan warga.
“Dengan sedekah sampah, kaya maupun miskin berada pada posisi yang sama. Semua bisa bersedekah,” ujarnya.
Dari “Ide Gila” Menjadi Gerakan Nasional
Gerakan yang secara resmi dimulai pada 9 Juli 2013 tersebut menjadi titik balik perjalanan hidup Ananto. Di tangan pria yang kemudian dikenal sebagai “Ustaz Sampah Indonesia” itu, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber energi sosial dan filantropi.
Konsep membawa sampah ke masjid untuk dipilah dan diolah menjadi sumber bantuan kemanusiaan sempat dianggap tidak lazim. Bahkan, sejumlah media internasional menilai gagasan tersebut sebagai sesuatu yang unik dan tidak biasa. Namun bagi Ananto, masjid justru merupakan tempat yang tepat untuk mengubah sesuatu yang dianggap kotor menjadi manfaat bagi sesama.
“Masjid adalah tempat manusia yang merasa memiliki kekurangan dan dosa untuk memperbaiki diri. Sampah yang dianggap kotor juga bisa dibersihkan, diberi nilai baru, lalu menjadi manfaat bagi pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan,” jelasnya.
Seiring waktu, gerakan tersebut berkembang menjadi GRADASI (Gerakan Sedekah Sampah Indonesia) yang kini direplikasi oleh berbagai komunitas lintas agama, sekolah, perguruan tinggi, hingga rumah ibadah di berbagai daerah di Indonesia.
Bekal Komunikasi dari KPI UMY
Ananto mengakui bahwa keberhasilannya mengembangkan gerakan lingkungan tidak lepas dari bekal yang diperoleh selama menempuh pendidikan di KPI UMY. Menurutnya, ilmu komunikasi membantunya menerjemahkan pesan-pesan agama yang sering kali dianggap abstrak menjadi bahasa yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat.
“Al-Qur’an dan hadis adalah bahasa langit. Tugas kita menerjemahkannya menjadi bahasa manusia yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Kemampuan berbicara di depan publik dan menyusun pesan yang dipelajari selama kuliah membuatnya mampu menjelaskan konsep sedekah sampah kepada berbagai kalangan, mulai dari masyarakat akar rumput hingga akademisi. Ia meyakini bahwa aksi nyata jauh lebih kuat dibandingkan sekadar retorika.
“Seribu kata kadang tidak cukup meyakinkan orang. Tetapi satu aksi nyata bisa membuat masyarakat percaya,” tambahnya.
Sedekah Sampah untuk Palestina dan Gunungkidul
Tantangan terbesar yang dihadapi Ananto selama mengembangkan gerakan ini adalah membangun kepercayaan masyarakat bahwa sampah memiliki nilai ekonomi dan sosial yang besar. Untuk membuktikannya, ia menghadirkan berbagai aksi nyata.
Salah satunya melalui program Sedekah Sampah untuk Palestina yang berhasil menghimpun dana hingga Rp9 juta dari hasil pengelolaan sampah masyarakat. Gerakan serupa juga dilakukan saat wilayah Gunungkidul mengalami krisis air bersih.
Melalui program Sedekah Sampah Akbar untuk Air Bersih Gunungkidul, masyarakat berhasil mengumpulkan dana yang kemudian diwujudkan dalam pengiriman 50 truk tangki air bersih ke wilayah Tepus, Rongkop, dan Girisubo.
“Ketika masyarakat melihat bukti nyata, mereka mulai yakin bahwa sampah bisa membantu banyak persoalan kemanusiaan,” ujarnya.
Ajak Mahasiswa Menjadi Penggerak Lingkungan
Sebagai alumni UMY, Ananto menaruh harapan besar kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, mahasiswa memiliki kekuatan melalui kreativitas dan penguasaan media digital yang mampu mengubah gerakan kecil menjadi kampanye yang berdampak luas.
“Kalau hari ini kita tidak peduli lingkungan, 10 sampai 50 tahun ke depan kita sendiri yang akan memanen dampaknya. Sebaliknya, kalau mulai peduli hari ini, kita juga yang akan menikmati manfaatnya di masa depan,” tuturnya.
Ananto juga mengenang salah satu kolaborasi yang pernah dilakukan bersama mahasiswa UMY melalui kampanye #SedekahSkripsi, yaitu gerakan mengumpulkan kertas bekas skripsi untuk diolah menjadi sumber dana sosial. Program tersebut mendapat respons positif dan menunjukkan bahwa gerakan lingkungan dapat dikembangkan melalui pendekatan kreatif yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Lingkungan adalah Amanah
Setelah menerima Kalpataru Adya 2026, Ananto berkomitmen untuk terus memperluas gerakan sedekah sampah, khususnya di lingkungan sekolah dan lembaga pendidikan Muhammadiyah. Menurutnya, pendidikan lingkungan perlu dibangun sebagai kebiasaan hidup, bukan sekadar untuk mengejar penghargaan.
“Orientasinya bukan Kalpataru, bukan Adiwiyata, atau penghargaan lainnya. Orientasinya hanya satu: bumi adalah amanah dari Allah yang harus kita jaga,” tegasnya.
Ia juga berharap kampus-kampus, termasuk UMY, terus mengembangkan sistem pengelolaan sampah mandiri dan pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap keberlanjutan lingkungan.
Bagi Ananto, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan teknis pengelolaan sampah, melainkan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sebuah amanah yang harus dijalankan melalui ilmu, aksi nyata, dan kepedulian yang berkelanjutan.
Sumber : Humas Umy






