JOGJAOKE.GOM, Yogyakarta — Menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2026, Kota Yogyakarta kembali bersiap menyambut lautan manusia. Sekitar tujuh juta orang diperkirakan akan melintas di kota ini pada penghujung tahun, menjadikan Jogja bukan sekadar tujuan wisata, melainkan simpul pertemuan beragam harapan akan liburan yang aman dan nyaman.
Di tengah kepadatan yang nyaris menjadi ritual tahunan, Pemerintah Kota Yogyakarta menempatkan kesehatan sebagai perhatian utama. Sejumlah pos kesehatan didirikan di titik-titik strategis, mulai dari kawasan Titik Nol Kilometer, Pos Teteg Malioboro, hingga Puskesmas Jetis. Kehadiran pos-pos ini diharapkan menjadi penyangga pertama bila wisatawan atau warga mengalami gangguan kesehatan di tengah keramaian.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyebut, antisipasi tidak berhenti pada pos kesehatan semata. Pemerintah kota juga menyiagakan alat pacu jantung di lima titik berbeda, terutama di kawasan yang rawan padat pengunjung. “Kalau Malioboro sangat crowded dan terjadi kondisi darurat seperti serangan jantung, alat pacu jantung tidak hanya berada di pos kesehatan, tetapi juga di titik-titik tertentu agar mudah dijangkau,” ujar Hasto, Rabu (17/12).
Langkah tersebut mencerminkan pengalaman kota ini dalam mengelola denyut wisata yang tak pernah benar-benar berhenti. Malioboro, Titik Nol Kilometer, dan kawasan sekitarnya bukan hanya ruang publik, tetapi juga ruang temu yang sarat risiko ketika kepadatan mencapai puncaknya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani menuturkan, pos kesehatan akan beroperasi mulai 23 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Di luar itu, layanan kegawatdaruratan tetap disokong oleh rumah sakit pemerintah dan swasta yang siaga 24 jam selama masa libur panjang.
Bagi Yogyakarta, libur akhir tahun bukan sekadar soal jumlah kunjungan. Ia adalah ujian tentang bagaimana kota ini merawat manusia,bbaik yang datang untuk berwisata maupun yang tinggal dan menjaga keseharian. Di antara hiruk-pikuk kamera, langkah kaki, dan lampu kota, kesiapsiagaan kesehatan menjadi cara Jogja menjaga denyutnya tetap stabil. (ihd)






