JOGJAOKE.COM, Umbulharjo — Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmen memperluas layanan HIV/AIDS yang ramah dan inklusif. Dalam peringatan Hari AIDS Sedunia 2025 di Grha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta, Selasa (2/12), Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan apresiasi kepada UPKM Bethesda YAKKUM atas konsistensi dalam memperkuat layanan kesehatan bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV/ODHA).
Acara ini sekaligus menjadi penanda kesepakatan bersama untuk memperkuat layanan HIV/AIDS inklusif. Berbagai pihak menandatangani komitmen tersebut, mulai dari Pemerintah Kota Yogyakarta, UPKM Bethesda YAKKUM, Dinas Kesehatan, DP3AP2KB, Yayasan Kebaya, hingga PKBI Kota Yogya.
Hasto menilai penanganan HIV/AIDS membutuhkan keseriusan kolektif karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia—aset utama Kota Yogyakarta. Ia menyoroti bahwa target nasional Akhiri AIDS 2030 hanya dapat tercapai apabila seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama, tidak berhenti pada slogan.
Ia mengingatkan potensi tumpang tindih infeksi HIV dengan Tuberkulosis (TB), termasuk TB MDR yang lebih kompleks. “Saya berharap ini jos, jangan hanya omong saja. HIV/AIDS di Jogja potensi tumpang tindihnya dengan TB cukup besar, dan keduanya harus ditangani bersama secara serius,” ujarnya.
1.777 Kasus HIV Positif Sejak 2004
Data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat sebanyak 1.777 kasus HIV positif dan 340 kasus AIDS terlayani di fasilitas kesehatan sejak 2004 hingga triwulan III 2025. Dua pertiga di antaranya merupakan pasien dari luar wilayah administrasi kota, menjadikan penanganan kesehatan di Kota Yogyakarta turut berperan bagi daerah sekitar.
Hasto menekankan pentingnya keterbukaan data secara agregat untuk meningkatkan kewaspadaan publik tanpa membongkar identitas pasien. “Data tidak boleh dimatikan. Harus dihidupkan agar masyarakat waspada. Yang penting tidak menyebut nama dan alamat,” katanya.
Program temuan kasus dini (active case finding) serta kepatuhan terapi ARV menjadi fokus penanganan saat ini. Pemerintah Kota menggerakkan 169 bidan dalam program Satu Kampung Satu Bidan serta 495 Tim Pendamping Keluarga untuk memperkuat edukasi, pemantauan pengobatan, hingga pendampingan psikososial bagi ODHIV/ODHA.
“Jangan sampai mereka diisolasi secara sosial. Mereka butuh pendampingan, bukan dijauhi,” ucap Hasto.
YAKKUM Perkuat Layanan dan Edukasi Masyarakat
Direktur UPKM Bethesda YAKKUM, Wahyu Priosaptono, menyebut kolaborasi menjadi kunci mempercepat penanggulangan HIV/AIDS. Menurutnya, kerja bersama dapat menutup keterbatasan sumber daya sekaligus menekan stigma serta diskriminasi.
Di tingkat layanan kesehatan, pihaknya meningkatkan kualitas Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP) dengan menggandeng puskesmas dan Dinas Kesehatan. Di wilayah kelurahan, pemberdayaan komunitas dilakukan melalui pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA) serta penguatan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).
“Mereka kita latih agar nantinya dapat menjadi fasilitator atau narasumber di RT, RW, dan kampung wilayah masing-masing,” kata Wahyu. (ihd)






