Mainan Lama, Cuan Baru: Kidulting Menyerbu Dunia Bisnis

Rabu, 22 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Antonius Satria Hadi, PhD – Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta
JOGJAOKE.COM, Yogyakarta – ‎‎Fenomena kidulting, ketika orang dewasa menikmati hal-hal yang identik dengan masa kecil seperti mainan, kartun, atau koleksi karakter animasi, kini menjadi tren global yang menjanjikan.
‎
‎Di tengah tekanan hidup modern, nostalgia menjadi ruang pelarian emosional yang menenangkan. Tak heran, banyak merek memanfaatkan kekuatan kenangan masa kecil ini untuk membangun ikatan emosional dengan konsumen.
‎
‎“Konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga perasaan yang membuat mereka bahagia,” ungkap pakar pemasaran emosional, Jonah Berger.
‎
‎Dalam konteks bisnis, kidulting bukan sekadar tren konsumsi, melainkan peluang besar.
‎
‎Brand besar seperti Uniqlo hingga Taro Snack telah membuktikan bahwa sentuhan nostalgia mampu menghidupkan kembali daya tarik produk lama.
‎
‎“Desain jadul menciptakan rasa kedekatan dan kenangan positif,” ujar seorang pelaku industri kreatif di Jakarta.
‎
‎Bahkan, muncul café bertema kartun, museum mainan, hingga merchandise edisi retro yang ramai dikunjungi generasi dewasa muda.
‎
‎Hal ini menunjukkan bahwa kenangan masa kecil dapat menjadi fondasi strategi pemasaran yang efektif dan menguntungkan.
‎
‎Namun, di balik potensi besar tersebut, pelaku bisnis harus berhati-hati. Nostalgia adalah pedang bermata dua.
‎
‎Jika tidak dilakukan dengan riset dan keaslian, kidulting bisa terasa dipaksakan dan kehilangan maknanya.
‎
‎“Kuncinya ada pada keotentikan—produk harus jujur terhadap nilai emosional yang dibawa,” tegas Antonius Satria Hadi.
‎
‎Artinya, pelaku bisnis perlu memahami psikologi konsumen, bukan sekadar meniru tren global.
‎
‎Kidulting membuktikan bahwa dalam dunia serba digital, manusia tetap merindukan kesederhanaan masa lalu.
‎
‎Dari mainan hingga fesyen, dari camilan jadul hingga film klasik, nostalgia kini menjadi strategi pemasaran yang kuat.
‎
‎Bagi pelaku usaha di Indonesia, fenomena ini adalah peluang emas untuk menciptakan produk yang bukan hanya laku, tapi juga menghangatkan hati konsumen.
‎
‎Karena pada akhirnya, bisnis terbaik adalah yang mampu menyentuh sisi manusiawi pelanggan.

(waw)

Berita Terkait

Satoria Hotel Yogyakarta Genap 9 Tahun, Tumbuh Bersama Lewat Aksi
Peringati HUT ke-81 TNI, Danrem 072/Pamungkas Pimpin Ziarah ke Makam Pahlawan
Peringati HUT ke-81 KAI, Daop 6 Yogyakarta Gelar Upacara di Campus Darman Prasetyo
Wujud Kepedulian, Joglo Resto Njeron Beteng Bantu Mahasiswa NTT Tetap Kuliah di Yogyakarta
14 Tahun The Rich Jogja Hotel, Beyond Running Jadi Ajang Perayaan dan Kebersamaan
Kolam Koi Picu Gejolak, Warga Sampangan Desak Ditutup Total
Target 150 Ribu Siswa, Dosen UMY Ingatkan Pemerintah Soal Ketimpangan Pendidikan
Malioboro Semarak Kirab Kebangsaan, Pesan Persatuan Menggema Jelang HUT ke-81 RI

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:55 WIB

Satoria Hotel Yogyakarta Genap 9 Tahun, Tumbuh Bersama Lewat Aksi

Senin, 28 September 2026 - 15:57 WIB

Peringati HUT ke-81 TNI, Danrem 072/Pamungkas Pimpin Ziarah ke Makam Pahlawan

Senin, 28 September 2026 - 15:39 WIB

Peringati HUT ke-81 KAI, Daop 6 Yogyakarta Gelar Upacara di Campus Darman Prasetyo

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Wujud Kepedulian, Joglo Resto Njeron Beteng Bantu Mahasiswa NTT Tetap Kuliah di Yogyakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:07 WIB

14 Tahun The Rich Jogja Hotel, Beyond Running Jadi Ajang Perayaan dan Kebersamaan

Berita Terbaru