Ketua BPKN Dorong Kolaborasi Kampus dan Industri, Ajak Guru Besar Turun ke Lapangan

Sabtu, 24 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Ketua BPKN RI, rof. Dr. H. Muhammad Mufti Mubarok, S.H., S.Sos., M.Si., menjadi pembicara dalam Simposium Nasional yang digelar oleh Keluarga Alumni UMY (KAUMY)

Foto Ketua BPKN RI, rof. Dr. H. Muhammad Mufti Mubarok, S.H., S.Sos., M.Si., menjadi pembicara dalam Simposium Nasional yang digelar oleh Keluarga Alumni UMY (KAUMY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta – Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) RI, Prof. Dr. H. Muhammad Mufti Mubarok, S.H., S.Sos., M.Si., mendorong para guru besar terlibat langsung dalam kegiatan industri. Keterlibatan tersebut dinilai penting untuk mempertemukan pengembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan dunia usaha.

Dorongan itu disampaikan Mufti dalam Simposium Nasional yang menjadi bagian dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KAUMY) di kampus UMY, Sabtu (24/10/2026).

Menurutnya, hubungan perguruan tinggi dan industri di Indonesia masih perlu diperkuat agar hasil riset dapat dikembangkan menjadi solusi yang dapat diterapkan.

“Saya melihat perguruan tinggi ini masih seperti kutub utara dan kutub selatan dengan industri. Profesor-profesor kita ini masih di menara gading, kadang-kadang. Beda dengan profesor di luar negeri yang hari-harinya di pabrik,” ujar Mufti.

Guru Besar Perlu Terlibat dalam Pengembangan Industri

Mufti menilai keterlibatan akademisi di lapangan merupakan bagian dari upaya memperkuat penerapan ilmu pengetahuan. Melalui interaksi langsung dengan pelaku industri, peneliti dapat memahami persoalan produksi, kebutuhan teknologi, dan tantangan pengembangan usaha.

Ia berharap guru besar dari berbagai bidang keilmuan dapat membangun kerja sama secara berkelanjutan dengan industri. Dengan demikian, pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat menjadi dasar bagi penyelesaian persoalan nyata.

Menurut Mufti, sinergi akademisi dan pengusaha diperlukan untuk memperkuat industri nasional. Kerja sama tersebut dapat mempertemukan kemampuan riset perguruan tinggi dengan pengalaman serta kebutuhan pelaku usaha.

Ia mencontohkan perkembangan industri mobil listrik di negara lain sebagai pengingat pentingnya kesiapan teknologi dan perencanaan jangka panjang. Dalam pandangannya, Tiongkok telah mempersiapkan fondasi industrinya selama puluhan tahun, sementara Indonesia perlu terus meningkatkan kapasitas teknologi dan produksinya.

Paten dan Standardisasi untuk Memperkuat Daya Saing

Mufti turut menekankan pentingnya perlindungan kekayaan intelektual dan standardisasi dalam pengembangan produk dalam negeri. Menurutnya, inovasi perlu diikuti upaya menjaga mutu agar produk Indonesia memiliki daya saing.

Mufti, yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Bidang Perlindungan Usaha dan Hukum UMKM dan Koperasi Kadin Indonesia, menyampaikan bahwa dirinya memiliki sejumlah paten dan memimpin 16 perusahaan di sektor energi.

Berdasarkan pengalamannya, ia menilai pengembangan usaha membutuhkan keterhubungan antara riset, inovasi, dan kebutuhan pasar. Ia juga menyoroti peran paten serta Standar Nasional Indonesia (SNI) dalam mendukung pengembangan produk.

Menurutnya, potensi sumber daya Indonesia perlu diolah menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, penguatan riset, perlindungan kekayaan intelektual, dan pemenuhan standar yang relevan perlu berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan industri.

Perluas Jejaring Internasional dan Kesiapan Bisnis Alumni

Mufti juga mengajak perguruan tinggi Muhammadiyah memperluas jejaring internasional, antara lain melalui kunjungan ke Universitas Hong Kong. Ia berharap guru besar dan mahasiswa dapat memanfaatkan kerja sama lintas negara untuk bertukar pengetahuan serta mengembangkan peluang kolaborasi.

Selain akademisi, alumni perguruan tinggi didorong lebih aktif membangun usaha dan menyiapkan model bisnis. Mufti memperkirakan persaingan akan semakin ketat sehingga kesiapan perlu dibangun sejak sekarang.

“Karena itu, para alumni agar bergerak cepat. Saya melihat peluang berbisnis hanya terbuka lebar hingga 2027, sebelum persaingan makin ketat. Karena itu, alumni perguruan tinggi perlu menyiapkan model bisnis dan industri sejak akhir 2026,” pungkas Mufti. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Sarkemfest Sulap Selasar Stasiun Yogyakarta Jadi Pusat Budaya
Mahasaba Purbakala Nusantara Gaspol, Siapkan Festival Kebudayaan Generasi Muda
Bupati Harda Kukuhkan KISS, Targetkan Senam Merata di Sleman
Wabup Sleman Apresiasi 56 Wisudawan Beasiswa Pintar, Rayhan Langsung Kerja
SPBU Mijahan Tolak Ambulans Isi Pertalite, Pengawas Akhirnya Minta Maaf
Pria Eksibisionis Ditangkap Warga Jogja, Celana Sengaja Dilubangi
Riset Tujuh Bulan, DARWISY Ungkap Tantangan Menghidupkan Masa Kecil Ahmad Dahlan
DARWISY Bongkar Masa Kecil Ahmad Dahlan, Sisi Lain Sang Pendiri Muhammadiyah Terungkap

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:19 WIB

Sarkemfest Sulap Selasar Stasiun Yogyakarta Jadi Pusat Budaya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:11 WIB

Mahasaba Purbakala Nusantara Gaspol, Siapkan Festival Kebudayaan Generasi Muda

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:04 WIB

Bupati Harda Kukuhkan KISS, Targetkan Senam Merata di Sleman

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:59 WIB

Wabup Sleman Apresiasi 56 Wisudawan Beasiswa Pintar, Rayhan Langsung Kerja

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:49 WIB

Pria Eksibisionis Ditangkap Warga Jogja, Celana Sengaja Dilubangi

Berita Terbaru

Yogyakarta

Sarkemfest Sulap Selasar Stasiun Yogyakarta Jadi Pusat Budaya

Minggu, 25 Okt 2026 - 15:19 WIB

Yogyakarta

Bupati Harda Kukuhkan KISS, Targetkan Senam Merata di Sleman

Minggu, 25 Okt 2026 - 15:04 WIB