JOGJAOKE.COM, Yogyakarta – Perkembangan robot humanoid yang semakin pesat mulai membawa teknologi robotika lebih dekat ke dunia kerja. Kemampuan berjalan, menjaga keseimbangan, mengenali objek, menerima instruksi, hingga memindahkan barang kini terus berkembang. Namun, Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pakar Human-Robot Interaction, Dr. Muhamad Yusvin Mustar, S.T., M.Eng., menilai robot humanoid belum sepenuhnya mampu menggantikan manusia sebagai pekerja serbaguna.
Perkembangan tersebut berlangsung ketika penggunaan robot di dunia industri terus meningkat. International Federation of Robotics (IFR) mencatat stok robot industri yang beroperasi di pabrik global mencapai sekitar lima juta unit pada 2025, meningkat sembilan persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada September 2026, IFR juga melaporkan pengiriman robot layanan profesional meningkat 24 persen menjadi hampir 250 ribu unit.
Tren tersebut menunjukkan bahwa otomatisasi semakin menjadi bagian dari aktivitas kerja. Namun, peningkatan penggunaan robot tidak serta-merta berarti manusia akan sepenuhnya tersingkir dari dunia kerja.
Robot Lebih Dahulu Mengambil Alih Tugas Repetitif
Dalam wawancara daring, Jum’at (9/10/2026), Yusvin menjelaskan bahwa robot humanoid saat ini sudah cukup dekat untuk diterapkan di lingkungan industri, terutama pada pekerjaan yang terstruktur dan memiliki pola berulang. Robot dapat menjalankan tugas dengan baik ketika urutan pekerjaan dan kondisi lingkungan relatif dapat dikendalikan.
Namun, kemampuan tersebut berbeda dengan manusia yang dapat beradaptasi ketika menghadapi situasi tidak terduga.
“Dalam waktu dekat, saya melihat humanoid lebih realistis digunakan sebagai pekerja semiotonom yang tetap berada di bawah pengawasan manusia, bukan sepenuhnya menggantikan manusia sebagai pekerja general purpose,” jelasnya.
Menurut Yusvin, pekerjaan yang paling berpotensi diotomatisasi adalah pekerjaan yang repetitif, terstruktur, berat, berisiko, dan memiliki pola kerja yang jelas. Pekerjaan tersebut antara lain memindahkan barang, mengambil dan meletakkan komponen, loading-unloading, pekerjaan gudang, penyortiran, hingga sebagian proses perakitan sederhana.
Meski demikian, ia menilai yang lebih dahulu berubah bukanlah profesi secara keseluruhan, melainkan sebagian tugas di dalam profesi tersebut.
“Satu pekerjaan manusia bisa terdiri dari banyak tugas, dan mungkin hanya beberapa tugas saja yang nantinya diserahkan kepada robot humanoid,” ujarnya.
Perkembangan tersebut semakin dipercepat oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Jika sebelumnya robot lebih banyak bekerja berdasarkan program yang telah ditentukan, kini AI memungkinkan robot mengenali lingkungan, memahami instruksi bahasa, memilih tindakan, dan menyesuaikan respons terhadap kondisi yang dihadapi.
Namun, Yusvin menekankan bahwa tantangan robotika bukan sekadar membuat AI semakin pintar, melainkan menerjemahkan kecerdasan tersebut menjadi tindakan fisik yang aman. Integrasi AI dengan persepsi, kontrol gerak, mekanik, sensor, dan sistem keselamatan inilah yang berkembang dalam konsep embodied intelligence atau physical AI.
AI dan Robot Mengubah Komposisi Pekerjaan
Karena itu, Yusvin memandang kehadiran robot humanoid lebih tepat dilihat sebagai perubahan komposisi pekerjaan daripada semata-mata ancaman pengangguran.
Menurutnya, setidaknya ada tiga kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, pekerjaan tertentu benar-benar tergantikan. Kedua, robot menjadi alat bantu manusia. Ketiga, pekerjaan manusia mengalami perubahan bentuk.
Pekerja yang sebelumnya melakukan pemindahan material secara manual, misalnya, dapat beralih menjadi operator, pengawas, teknisi, atau pengelola beberapa robot sekaligus.
Pandangan tersebut sejalan dengan gambaran perubahan pasar kerja global. World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan 170 juta pekerjaan baru dapat tercipta hingga 2030, sementara 92 juta pekerjaan terdampak disrupsi. Secara bersih, perubahan tersebut diproyeksikan menghasilkan tambahan 78 juta pekerjaan.
WEF juga mencatat bahwa robot dan sistem otonom menjadi salah satu teknologi yang akan mengubah dunia usaha hingga 2030. Dalam konteks tersebut, perubahan juga menunjukkan pergeseran dalam Human-Robot Interaction (HRI). Interaksi manusia dan robot tidak lagi sekadar berfokus pada penggunaan mesin, tetapi berkembang menuju kolaborasi dan human-robot teaming (HRT), ketika manusia dan robot bekerja sebagai satu tim dengan kemampuan yang berbeda.
Reskilling Jadi Kunci Menghadapi Otomatisasi
Bagi Indonesia, perubahan tersebut perlu dipersiapkan secara serius karena sebagian tenaga kerja masih berada pada pekerjaan fisik, operasional, dan repetitif.
Jika robot humanoid semakin murah dan efisien, pekerjaan seperti operator produksi sederhana, pekerja gudang, material handling, dan perakitan berulang berpotensi terdampak. Namun, Yusvin menilai otomatisasi tidak selalu berujung pada pengurangan tenaga kerja. Persoalannya terletak pada bagaimana transisi dikelola.
“Kalau otomatisasi dilakukan tanpa persiapan tenaga kerja, kita bisa menghadapi kesenjangan keterampilan dan pengangguran struktural. Tetapi jika dibarengi dengan reskilling dan upskilling, pekerja dapat beralih menjadi operator robot, teknisi pemeliharaan, pengawas sistem otomatis, teknisi sensor, atau tenaga pendukung otomasi,” tuturnya.
Untuk menghadapi perubahan tersebut, Yusvin menilai pekerja masa depan perlu memiliki robot literacy, yakni kemampuan memahami, mengoperasikan, mengawasi, dan bekerja bersama sistem robotik.
Di sisi lain, pemerintah dan dunia industri juga perlu menyiapkan regulasi yang mendorong responsible automation atau otomatisasi yang bertanggung jawab. Regulasi tidak harus melarang penggunaan robot, tetapi memastikan keselamatan, human in the loop untuk pekerjaan berisiko tinggi, penilaian dampak terhadap tenaga kerja, serta program reskilling sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan.
Hal tersebut sejalan dengan kajian terbaru IFR yang menilai dampak robot terhadap pekerjaan tidak semata-mata berupa penggantian tenaga manusia. Otomatisasi juga dapat meningkatkan produktivitas, menciptakan tugas dan jenis pekerjaan baru, serta mendorong daya saing perusahaan.
“Prinsipnya bukan melarang otomatisasi, tetapi memastikan bahwa inovasi tetap berjalan, keselamatan terjaga, dan tenaga kerja tidak ditinggalkan dalam proses transisi teknologi,” pungkas Yusvin. (lsi)
Sumber : Humas Umy






