JOGJAOKE.COM, Sleman — Uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di SD Negeri Soprayan, Sleman, menuai kritik karena siswa dilibatkan melayani pembagian makanan kepada teman-temannya.
Uji coba berlangsung pada 5–16 Oktober 2026 dan melibatkan 59 siswa kelas IV hingga VI. Wakil Kepala Sekolah SDN Soprayan, Murwoko, menjelaskan bahwa siswa mengantre tertib di meja saji sebelum membawa makanan kembali ke kelas.
Pelaksanaan prasmanan menjadi sorotan setelah enam siswa mengenakan alat pelindung diri (APD) dan bertugas membagikan makanan kepada teman-temannya.
Ketua LSM Sarang Lidi, Yuliani Putri, mempertanyakan pelibatan siswa sekolah dasar dalam pelayanan makanan yang seharusnya ditangani petugas. “Anak-anak datang ke sekolah untuk menuntut ilmu, bukan untuk dipekerjakan membagi makanan,” tegasnya.
Menurut Yuliani, pembagian makanan merupakan tanggung jawab petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), bukan siswa yang datang untuk belajar. “Tugas pelayanan seharusnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab petugas SPPG,” ujarnya.
Yuliani juga mengingatkan bahwa keterlibatan siswa sebagai pramusaji berpotensi mengganggu jam pelajaran dan mengurangi waktu istirahat. “Menjadi pramusaji berpotensi membuat siswa terlambat masuk kelas dan kehilangan waktu istirahat,” katanya. Menurutnya, waktu istirahat semestinya digunakan anak-anak untuk bermain, memulihkan tenaga, dan menyegarkan pikiran sebelum kembali belajar.
Direktur Caksana Institut, Wasingatu Zakiyah, turut menyoroti mekanisme tersebut. Ia menilai kebutuhan tenaga tambahan seharusnya dipenuhi dengan cara lain tanpa membebani siswa sekolah dasar. “Jika butuh tenaga tambahan, sekolah bisa melibatkan pengelola kantin atau ibu-ibu wali murid. Bukan memanfaatkan tenaga anak SD,” tegasnya.
Zakiyah juga meminta pelaksana tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa sistem prasmanan lebih unggul daripada pembagian makanan menggunakan kotak. “Jangan terburu-buru mengklaim sistem prasmanan pasti lebih baik daripada sistem kotak,” ujarnya. Ia mendorong evaluasi berdasarkan pelaksanaan nyata.
Istirahat Siswa Ditambah
Murwoko mengakui mekanisme prasmanan membutuhkan waktu distribusi lebih lama dibandingkan pembagian makanan langsung ke kelas. Untuk mengatasinya, sekolah menambah waktu istirahat pertama dari 10 menit menjadi 30 menit, lalu memangkas istirahat kedua menjadi 10 menit. Penyesuaian itu dilakukan agar kegiatan makan bersama tetap berjalan tanpa mengubah pemenuhan jam pelajaran maupun waktu kepulangan siswa.
Selama uji coba, sekolah mengevaluasi ketepatan takaran gizi, ketertiban antrean, kenyamanan siswa, dan efektivitas mekanisme pembagian makanan.
Uji coba serupa juga berlangsung di SD Muhammadiyah Bantar, Banguncipto, Sentolo, Kulon Progo, dengan melibatkan 47 siswa kelas V dan VI. SPPG terkait disebut mampu memproduksi hingga 2.458 porsi MBG setiap hari untuk penerima manfaat di wilayah layanannya.
Sistem prasmanan dirancang agar siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan, sehingga potensi makanan tersisa (food waste) dapat ditekan melalui pengaturan porsi.
Namun, kritik terhadap pelibatan siswa menunjukkan bahwa keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari distribusi makanan, tetapi juga dari perlindungan hak anak. Evaluasi menyeluruh diperlukan agar sistem prasmanan benar-benar memenuhi kebutuhan gizi, menjaga kenyamanan siswa, dan tidak mengganggu kegiatan belajar. (ady)






