JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Perjalanan menuju cita-cita menjadi dokter bagi Qul Robbi Alfina Rohmah tidak selalu ditempuh melalui jalan yang lapang. Bahkan, untuk mengikuti seleksi beasiswa, ia harus lebih dulu mencari sesuatu yang kini dianggap sederhana: sinyal internet.
Dari tempat tinggalnya di Sumatera Selatan, Fina menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan jaringan yang memungkinkan dirinya mengikuti tahapan seleksi. Keterbatasan akses internet tidak membuatnya mengurungkan niat. Ia tahu, kesempatan untuk kembali meraih beasiswa tidak datang setiap waktu.
Setahun sebelumnya, Fina pernah gagal mendapatkan beasiswa. Kegagalan pada 2025 itu tidak serta-merta membuat cita-citanya menjadi dokter padam. Ia memilih mengisi masa jeda dengan bekerja sebagai guru sekaligus staf tata usaha di Sekolah Perkebunan Kelapa Sawit Sumatera Selatan.
Pengalaman itu justru menjadi bagian dari perjalanan yang membuatnya semakin siap ketika kesempatan kedua datang.
Fina kembali mengikuti seleksi beasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada 2026. Setelah melewati berbagai tahapan, namanya akhirnya dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa Dokter dan Dokter Gigi UMY Tahun Akademik 2026/2027.
“Ada pahit manis yang kami rasakan bersama. Perjuangan untuk mendapatkan beasiswa dokter ini sangat terasa bagi kami,” kata Fina saat menyampaikan sambutan sebagai perwakilan penerima beasiswa di hadapan ribuan orangtua dan wali mahasiswa baru UMY.
Kini, langkah Fina menuju bangku pendidikan kedokteran terbuka. Baginya, menjadi dokter bukan semata-mata tentang mendapatkan gelar atau menjalani sebuah profesi.
“Menurut saya menjadi seorang dokter bukan hanya tentang profesi, tetapi merupakan salah satu perpanjangan tangan yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan jiwa yang membutuhkan,” ujarnya.
Cita-cita itu pula yang membuat perjuangan mencari sinyal dan kegagalan dalam seleksi sebelumnya terasa layak dijalani.
Bukan Sekadar Angka
Kisah Fina menjadi salah satu wajah dari upaya UMY memperluas akses pendidikan tinggi. Tahun ini, UMY menyalurkan beasiswa senilai Rp34.159.205.850 bagi mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027.
Beasiswa tersebut diserahkan secara simbolis dalam agenda Silaturahmi Orang Tua/Wali Mahasiswa Baru UMY 2026 di Gedung Sportorium UMY, Sabtu (5/9/2026). Sekitar 3.000 orangtua dan wali mahasiswa baru hadir dalam kegiatan tersebut.
Tidak hanya untuk calon dokter. Beasiswa diberikan melalui beragam kategori, mulai dari Beasiswa Dokter dan Dokter Gigi, Hafidz, Kartu Indonesia Pintar (KIP), Talenta Atlet, Seni dan Sains, Qori’, Tapak Suci, Sepak Bola, KAUM, hingga Beasiswa Mahasiswa Asing.
Nilai puluhan miliar rupiah itu bukan sekadar angka dalam laporan perguruan tinggi. Di baliknya terdapat ribuan kesempatan bagi anak-anak muda untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan potensi masing-masing.
Sekretaris Universitas UMY Dr Bachtiar Dwi Kurniawan mengatakan, dukungan terhadap mahasiswa tidak berhenti pada pemberian beasiswa. Kampus juga berupaya membangun lingkungan pendidikan yang memungkinkan mahasiswa berkembang melalui pembelajaran, pengembangan bakat, serta berbagai kegiatan kemahasiswaan.
“UMY terus berupaya membangun ekosistem pendidikan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang, baik melalui proses pembelajaran, pengembangan bakat, maupun berbagai aktivitas kemahasiswaan,” kata Bachtiar.
Dalam pertemuan dengan orangtua dan wali mahasiswa baru tersebut, UMY juga memperkenalkan visi dan misi universitas, jajaran pimpinan, fasilitas mahasiswa, capaian prestasi, aktivitas sosial, serta hasil placement test mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027.
Titipan Seorang Ayah
Di balik langkah Fina menuju pendidikan kedokteran, ada keluarga yang ikut menempuh perjalanan panjang itu. Ayahnya, Juminin, bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit.
Bagi Juminin, kesempatan yang diperoleh putrinya bukan hanya kabar menggembirakan. Ada pula tanggung jawab yang kini berpindah. Dalam kegiatan silaturahmi orangtua mahasiswa baru UMY, ia secara simbolis menitipkan Fina kepada universitas.
“Kami menyerahkan anak kami untuk dibimbing, untuk dibina. Bukan hanya sebagai wakil orangtua, tetapi sekaligus menjadi wali di sini karena kami bertemu dengan anak kami bukan cuma satu atau dua tahun, mungkin sampai empat tahun, lima tahun,” ujar Juminin.
Ia tidak hanya berharap Fina mampu mengikuti perkuliahan dengan baik. Lebih dari itu, ia ingin putrinya tumbuh sebagai pribadi yang berakhlak dan mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Mudah-mudahan dari bimbingan para pembina ataupun semua jajaran Universitas Muhammadiyah ini, anak kami Fina bisa menjadi anak yang pintar, mengerti tentang agama, mengerti segala bidang yang digelutinya, dan menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, serta agama,” katanya.
Bagi Fina, kepercayaan itu menjadi alasan lain untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan. Beasiswa yang diterimanya bukan hanya membuka pintu menuju pendidikan kedokteran, tetapi juga menjadi pengingat bahwa ada perjuangan panjang di belakangnya.
Ada kegagalan yang pernah ia rasakan. Ada pekerjaan yang dijalani sambil menunggu kesempatan. Ada perjalanan jauh untuk mencari sinyal. Dan ada keluarga yang terus memberikan dukungan.
Semua pengalaman itu kini menjadi bekal untuk memasuki tahap baru dalam hidupnya.
Fina percaya, keberhasilan tidak selalu menjadi milik mereka yang sejak awal memiliki jalan paling mudah. Kesempatan dapat ditemukan oleh mereka yang bersedia terus mengetuk pintu, bahkan setelah pintu sebelumnya tertutup.
“Kesuksesan bukan diraih hanya oleh orang-orang pintar, tetapi kesuksesan juga dapat dimiliki oleh orang yang terus berusaha,” ujar Fina. (ihd)






