Menyingkap Rahasia Kitab Ilahi dalam Peringatan Maulid Nabi 1448 H

Rabu, 26 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mu’inan, S.H.I., M.S.I.
Penghulu KUA Mantrijeron Kota Yogyakarta

PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H kembali menyapa umat Islam di tengah himpitan krisis spiritual dan disrupsi zaman. Dalam tradisi pemikiran Islam, maulid bukan sekadar romantisme historis atas kelahiran seorang figur besar, melainkan momen redeskripsi atas relasi antara Sang Pencipta, Sang Rasul, dan umat manusia. Salah satu artikulasi paling mendasar dalam relasi ini adalah amalan shalawat.

Landasan Argumentasi Dalil.

Secara teologis, keutamaan agung shalawat terangkum dibeberapa kitab hadis dan kitab klasik salah satunya kitab Tanbīh al-Ghāfilīn bi Ahadītsi Sayyid al-Anbiyā’ wa al-Mursalīn karya al-Faqīh Abū Laits As-Samarqandi. Beliau mencatat redaksi teks sebagai berikut:

وروي عن أنس بن مالك رضي الله تعالى عنه، عن النبي ﷺ، أنه قال: «من صلى علي صلاة واحدة، صلى الله عليه عشر صلوات، وحط عنه عشر خطيئات». وإذا أردت أن تعرف أن الصلاة على النبي ﷺ أفضل من سائر العبادات، فانظر وتفكر في قول الله سبحانه وتعالى: ﴿إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما﴾، ففي سائر العبادات أمر الله تعالى عباده بها، وأما الصلاة على النبي ﷺ فقد صلى عليه بنفسه أولا، وأمر ملائكته بالصلاة عليه، ثم أمر المؤمنين بأن يصلوا عليه، فثبت بهذا أن الصلاة على النبي ﷺ أفضل العبادات.
“Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: ‘Barangsiapa bersalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bersalawat kepadanya (memberi rahmat) sepuluh kali, dan menghapus darinya sepuluh kesalahan (dosa).’ Karena itu jika engkau ingin mengetahui bahwa bersalawat kepada Rasulullah SAW lebih utama daripada ibadah-ibadah lainnya, maka perhatikan dan renungkanlah firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56). Pada ibadah-ibadah lainnya, Allah SWT (hanya) memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakannya. Adapun dalam hal bersalawat kepada Rasulullah SAW, Allah SWT memulainya dari Diri-Nya sendiri terlebih dahulu, lalu memerintahkan para malaikat-Nya untuk bersalawat kepadanya, kemudian memerintahkan orang-orang beriman untuk bersalawat kepadanya. Maka dengan ini, terbukti bahwa bersalawat kepada Rasulullah SAW merupakan ibadah yang paling utama.”

Inti dari pada redaksi di atas menegaskan bahwa dalam ibadah-ibadah lain, Allah SWT hanya memerintahkan hamba-Nya untuk melaksanakannya. Namun dalam shalawat, Allah SWT memulainya dari Diri-Nya sendiri terlebih dahulu, dilanjutkan oleh para malaikat-Nya, baru kemudian diserukan kepada orang-orang beriman.

Analisis Hermeneutika Al-Qur’an: Rahasia Ya’ An-Nidā’ di Tengah Ayat.

Secara struktur kebahasaan (qawa’id lughāwiyyah) dan kaidah tafsir—sebagaimana yang kerap digarisbawahi oleh Al-Hāfiz Ibnu Katsir ketika membedah Surah Al-Ahzab ayat 56—terdapat keunikan struktur yang amat mendalam pada susunan kalimat ayat tersebut:

﴿إنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
Secara sintaksis, ayat ini diawali dengan kalimat berita (khabar): “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi…” Baru kemudian di tengah-tengah ayat disisipkan huruf panggilan/seruan (Ya’ An-Nida’): “Wahai orang-orang yang beriman…”

Para mufassir menjelaskan bahwa dalam kaidah khithāb (objek pembicaraan) Al-Qur’an, ketika Ya’ An-Nida’ dijatuhkan di tengah-tengah ayat setelah sebuah pernyataan deklaratif, maka kelompok yang dipanggil setelah Ya’ An-Nida’ itulah (Al-Mukhathab) yang dibebani kewajiban (taklif) atau paling tidak lebih dianjurkan untuk mengamalkan dan merealisasikan perintah tersebut.

Allah SWT tidak menggunakan Ya’ An-Nida’ di awal ayat untuk Diri-Nya maupun para malaikat, karena Allah SWT dan malaikat sudah secara konstan melakukan shalawat (fi’il mudhari’: yushallūna). Maka, kehadiran Ya’ An-Nidā’ yang ditujukan kepada “orang-orang yang beriman” adalah bentuk penegasan mutlak: Hanya manusialah yang membutuhkan perintah ini dan wajib melaksanakannya. Panggilan ini seolah-olah mengetuk kesadaran mukmin bahwa jika Allah dan malaikat saja bershalawat, maka sungguh tidak ada alasan bagi orang yang mengaku beriman untuk berpaling dari amalan ini.

Aporia Teologis: Antara Yang Maha Sempurna dan Yang Membutuhkan.

Jika ditinjau melalui pendekatan rasionalitas teologis (kalam), fenomena Allah SWT dan malaikat bershalawat menghadirkan sebuah perbandingan yang sangat kontrastif sekaligus reflektif bagi eksistensi manusia.

Allah SWT adalah Dzat Al-Ghani (Maha Kaya, tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya). Demikian pula para malaikat yang diciptakan dalam keadaan suci, bebas dari dosa, serta telah dijamin tempatnya di sisi Allah. Baik Allah maupun para malaikat sama sekali tidak membutuhkan syafaat, pertolongan, maupun pembelaan dari Rasulullah SAW. Namun demikian, Allah SWT menjadikan Diri-Nya sendiri sebagai “Pelaku Utama” dalam memberikan pengagungan (ta’zhim) dan curahan rahmat tanpa batas kepada Nabi Muhammad SAW, yang kemudian diamini oleh seluruh entitas malaikat di alam Malakut.

Di titik inilah timbul sebuah argumen logis (qiyās aulawi) yang menohok kesadaran eksistensial manusia: Jika Dzat yang tidak membutuhkan syafaat saja bershalawat kepada Nabi, lantas bagaimana mungkin manusia—makhluk yang diliputi dosa, sarat kekurangan, dan sangat bergantung pada syafaat di akhirat kelak—bisa bersikap acuh dan enggan bershalawat kepadanya?

Manusia adalah makhluk yang rentan secara moral dan terbatas secara amal. Di Padang Mahsyar kelak, ketika setiap individu sibuk dengan urusan keselamatan masing-masing (nafsī nafsī), Rasulullah SAW adalah satu-satunya figur yang diberi otoritas oleh Allah SWT untuk memberikan Syafaatul ‘Uzhma (pertolongan terbesar). Logika teologisnya sangat sederhana: bagaimana mungkin seorang hamba mengharapkan pertolongan (syafaat) dari sosok yang namanya saja jika jarang ia sebut, perintahnya ia abaikan, dan shalawat kepadanya ia lupakan?

Relevansi Eksistensial pada Peringatan Maulid 1448 H.

Menjelang perayaan Maulid Nabi 1448 H / 2026 M, dialektika ini menemukan ruang perenungannya yang paling krusial. Shalawat tidak boleh direduksi sekadar sebagai komoditas verbal atau rutinitas seremonial tahunan. Membaca shalawat adalah wujud kesadaran posisi (positioning) manusia di hadapan Tuhan dan Rasul-Nya.

Ketika seorang muslim membasahi lidahnya dengan shalawat pada momentum Maulid ini, sejatinya ia sedang melakukan dua hal secara bersamaan:

1. Menjawab Panggilan Khithab Ilahi: Menjalankan kewajiban yang ditujukan khusus kepadanya setelah seruan Ya’ An-Nida’ yang jatuh di tengah-tengah ayat dalam Al-Qur’an;
2. Investasi Kebutuhan Eksistensial: Ia sedang mengetuk pintu syafaat untuk dirinya sendiri. Pada hakikatnya, manfaat shalawat itu tidak menambah keagungan Nabi (yang sudah dijamin oleh Allah), melainkan kembali kepada keselamatan diri si pembaca itu sendiri.

Dengan demikian, menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. harus dimaknai sebagai rekonstruksi kesadaran. Jika Allah SWT yang Maha Kuasa dan Malaikat yang tidak berdosa saja menghormati dan bershalawat kepada Baginda Rasulullah SAW, maka bagi manusia yang fakir akan pahala dan kaya akan dosa, shalawat bukanlah sekadar kewajiban agama, melainkan sebuah kebutuhan mutlak untuk keselamatan dunia dan akhirat.

Selamat memperingati perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1448 H. (*)

Berita Terkait

Dari TPA Sampah ke Bank Pakan: Jawaban Krisis Pakan Ternak
Ketika Sirkular Ekonomi, QRIS dan Dana Murah Bertemu Dalam Satu Skema
HUT KEMERDEKAAN: REFLEKSI RASA SYUKUR
Refleksi HUT RI ke-81 dan Cinta Bumi Pertiwi: Muara Moderasi sebagai Benih Kerukunan Bangsa
Menjaga Anugerah Kemerdekaan RI Ke-81: Reinterpretasi Penafsiran QS Ar-Rad Ayat 11
Pelecehan terhadap Hukum, Penegak Hukum: Ketidak Pedulian pada Kemanusiaan, Mengganggu Keteraturan Sosial dan Merusak Peradaban
Kekerasan Bukan Pendidikan: Praktik yang Menghancurkan Mental dan Karakter Peserta Didik
Mencari Makna di Hari Bhayangkara
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 06:05 WIB

Menyingkap Rahasia Kitab Ilahi dalam Peringatan Maulid Nabi 1448 H

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:57 WIB

Dari TPA Sampah ke Bank Pakan: Jawaban Krisis Pakan Ternak

Minggu, 23 Agustus 2026 - 12:07 WIB

Ketika Sirkular Ekonomi, QRIS dan Dana Murah Bertemu Dalam Satu Skema

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:06 WIB

HUT KEMERDEKAAN: REFLEKSI RASA SYUKUR

Jumat, 14 Agustus 2026 - 23:02 WIB

Refleksi HUT RI ke-81 dan Cinta Bumi Pertiwi: Muara Moderasi sebagai Benih Kerukunan Bangsa

Berita Terbaru

OPINI

Dari TPA Sampah ke Bank Pakan: Jawaban Krisis Pakan Ternak

Selasa, 25 Agu 2026 - 17:57 WIB