JOGJAOKE.COM, JOGJA – Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP Gerakan Pemuda Marhaenis Antonius Fokki Ardiyanto menegaskan GPM tetap independen secara organisasi.
Penegasan itu disampaikan untuk meluruskan persepsi setelah Ketua Umum DPP GPM Arya Wedakarna bertemu Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Fokki mengatakan pertemuan tersebut tidak otomatis mencerminkan sikap resmi organisasi, karena GPM tidak berafiliasi dengan partai politik maupun tokoh tertentu di tengah dinamika.
“Secara organisasi, GPM jelas. Sesuai AD/ART, GPM adalah organisasi kepemudaan independen, tidak berafiliasi dengan partai politik,” tegas Fokki.
Menurut Fokki, afiliasi ideologis GPM hanya kepada Marhaenisme serta ajaran perjuangan Bung Karno sebagai pijakan utama gerakan organisasi kepemudaan tersebut dalam garis perjuangan.
“Afiliasi ideologis GPM adalah kepada Marhaenisme dan ajaran perjuangan Bung Karno,” ujarnya menegaskan posisi organisasi secara terbuka di tingkat nasional.
Ia menjelaskan, kehadiran Arya Wedakarna di kediaman Joko Widodo harus dipahami dalam kapasitas pribadi sekaligus sebagai anggota DPD RI tanpa pengecualian.
“Jika terdapat pernyataan menyebut posisi atau nama GPM, hal tersebut merupakan pernyataan pribadi, bukan keputusan resmi organisasi,” katanya secara kelembagaan.
Fokki menegaskan tidak pernah ada pleno DPP GPM yang memberikan mandat melakukan afiliasi atau sikap politik tertentu kepada tokoh di hadapan publik.
“Tidak pernah ada pembahasan maupun keputusan dalam pleno DPP GPM yang memberikan mandat organisasi kepada Ketua Umum,” jelasnya dalam forum resmi organisasi.
“Karena itu, tidak tepat jika pertemuan tersebut kemudian ditafsirkan sebagai sikap resmi organisasi GPM,” lanjutnya kepada wartawan.
Ia mengingatkan GPM tidak boleh terseret menjadi alat kepentingan politik praktis yang berpotensi mengaburkan identitas perjuangan organisasi selama ini.
“GPM bukan organisasi yang mencari perlindungan politik kepada siapa pun. GPM berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya demi kepentingan rakyat.
“Bung Karno adalah sumber inspirasi ideologis dan historis perjuangan kami,” katanya, menegaskan Marhaenisme sebagai dasar gerakan seluruh kader.
Fokki juga memastikan kader GPM di Daerah Istimewa Yogyakarta tetap solid, meski dinamika personal muncul setelah pertemuan tersebut berlangsung di tengah masyarakat.
“Kami kader-kader GPM se-DIY masih solid. Kami tetap satu barisan, satu garis perjuangan, yaitu barisan Marhaenisme,” tegasnya hingga saat ini.
Menurutnya, perbedaan pandangan personal merupakan hal wajar, namun tidak boleh mencampuradukkan sikap pribadi dengan keputusan resmi organisasi GPM dalam setiap langkah organisasi.
“Perbedaan pandangan personal adalah sesuatu yang wajar, tetapi jangan sampai mencampuradukkan sikap pribadi dengan keputusan organisasi,” ujarnya.
Ke depan, GPM akan memperkuat kaderisasi, hubungan kelembagaan, serta kehadiran organisasi di tengah persoalan rakyat dengan landasan Marhaenisme untuk masa depan organisasi.
“GPM akan terus bergerak bukan karena siapa tokoh berkuasa, tetapi karena keyakinan ideologis dan mandat organisasi,” pungkas Fokki. (ady)






