Ekonomi Digital Makin Beragam, Pemkot Yogyakarta Masukkan Kreator Konten dalam Pendataan UMKM

Sabtu, 22 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA — Jangan kaget jika YouTuber, TikToker, hingga kreator konten ternyata masuk dalam kategori pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sebab, aktivitas membuat konten dan menghasilkan pendapatan dari platform digital pada dasarnya merupakan bagian dari kegiatan usaha jasa.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM (Disperinkop UKM) Kota Yogyakarta, Drs. Tri Karyadi Riyanto Raharjo, S.H., M.Si., saat jumpa pers terkait pendataan pelaku usaha mikro di Kota Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).

Tri mengungkapkan, perkembangan ekonomi digital membuat bentuk usaha masyarakat semakin beragam. Salah satunya adalah profesi kreator konten yang memperoleh penghasilan melalui YouTube, TikTok, maupun platform digital lainnya.

“Kadang-kadang mereka mengatakan, saya tidak pekerja kok. Padahal penghasilannya besar,” ujar Tri dalam pemaparannya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam proses pendataan pelaku usaha. Sebagian masyarakat belum menyadari bahwa aktivitas yang menghasilkan pendapatan secara rutin dapat masuk dalam kategori kegiatan usaha.

Persoalan lain yang dihadapi petugas pendataan adalah keterbukaan pelaku usaha dalam menyampaikan omzet. Tri menyebut masih ada pelaku usaha yang cenderung menyembunyikan atau memberikan informasi omzet yang tidak sesuai kondisi sebenarnya.

“Pada waktu updating kemarin, mereka mengungkapkan tidak sejujurnya omzetnya. Omzetnya itu hidden,” katanya.

Tri menilai kekhawatiran terhadap pajak menjadi salah satu alasan pelaku usaha enggan menyampaikan omzet sebenarnya. Mereka khawatir data yang diberikan kepada pemerintah akan berujung pada kenaikan kewajiban pajak.

Padahal, menurut Tri, pendataan UMKM yang dilakukan Pemkot Yogyakarta tidak secara otomatis membuat pajak pelaku usaha meningkat.

Ia menegaskan, petugas enumerator telah dibekali pemahaman untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa pendataan tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan kenaikan pajak.

“Ini tidak ada sangkut pautnya dengan kenaikan pajak yang melesat. Kalau berbicara kewajiban pelaku usaha untuk membayar pajak, itu memang kewajiban secara proporsional,” jelasnya.

Tri menambahkan, keterbukaan mengenai omzet justru penting karena data tersebut menjadi salah satu indikator dalam menentukan klasifikasi usaha, apakah masuk kategori mikro atau kecil.

Jika pelaku usaha memberikan data omzet yang lebih rendah dari kondisi sebenarnya, pemerintah berpotensi salah dalam menentukan bentuk intervensi maupun program pemberdayaan yang diberikan.

“Kalau kita sudah berbicara nominal, itu menentukan klasifikasi mereka, apakah dia mikro, apakah kecil. Kalau di-hidden, nanti kita mikro semua. Intervensinya jadi keliru,” ungkapnya.

Karena itu, Disperinkop UKM Kota Yogyakarta mendorong para pelaku usaha, termasuk pelaku ekonomi digital seperti YouTuber dan TikToker, agar terbuka saat mengikuti pendataan.

Data yang akurat dinilai penting agar kebijakan dan program pemerintah dapat diberikan sesuai kondisi nyata masing-masing pelaku usaha.

Tri juga menyebut pendataan turut menggali informasi terkait Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Namun, ia kembali menegaskan bahwa pendataan UMKM bukan mekanisme untuk secara langsung menaikkan pajak masyarakat.

“Pajak itu ada perhitungan pajaknya sendiri,” tegasnya.

Dengan semakin berkembangnya ekonomi digital, fenomena YouTuber dan TikToker sebagai pelaku usaha menunjukkan bahwa definisi UMKM kini tidak hanya berkaitan dengan toko, warung, atau usaha konvensional. Profesi berbasis jasa dan kreativitas digital pun berpotensi menjadi bagian dari ekosistem UMKM.

Jadi, jangan heran jika seorang YouTuber yang selama ini dikenal sebagai kreator konten ternyata juga merupakan pelaku UMKM. (Aga).

Berita Terkait

Langgeng Purnomo Jadi Kapolda DIY, Gantikan Anggoro Sukartono
‎Malioboro Run 2026 Meledak, 8.000 Peserta Taklukkan Ikon Budaya Yogyakarta
Susanto Dorong Honor RT RW Bulanan, Naik dan Transportasi Rapat
‎Haul HB IX Menggugah Yogyakarta Hidupkan Kembali Warisan Perjuangan Keraton
Lestarikan Budaya Banten, Andra Soni Ingin Karnaval Panjang Mulud Digelar Berkelanjutan
Lapangan Warak Diserbu Sampah Liar, Warga Desak Tindakan Tegas
Sidang Reno Bongkar Dugaan Sewa TKD, Negara Rugi Rp1,74 Miliar
‎Gusti Prabu Bongkar Polemik Bolosego, Parkir Alkid Disorot Publik

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 12:29 WIB

Langgeng Purnomo Jadi Kapolda DIY, Gantikan Anggoro Sukartono

Minggu, 4 Oktober 2026 - 12:25 WIB

‎Malioboro Run 2026 Meledak, 8.000 Peserta Taklukkan Ikon Budaya Yogyakarta

Minggu, 4 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Susanto Dorong Honor RT RW Bulanan, Naik dan Transportasi Rapat

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 19:20 WIB

‎Haul HB IX Menggugah Yogyakarta Hidupkan Kembali Warisan Perjuangan Keraton

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:55 WIB

Lapangan Warak Diserbu Sampah Liar, Warga Desak Tindakan Tegas

Berita Terbaru

Yogyakarta

Langgeng Purnomo Jadi Kapolda DIY, Gantikan Anggoro Sukartono

Minggu, 4 Okt 2026 - 12:29 WIB

Yogyakarta

Susanto Dorong Honor RT RW Bulanan, Naik dan Transportasi Rapat

Minggu, 4 Okt 2026 - 12:20 WIB