Adaptasi Metabolik Saat Puasa, Dosen UMY Jelaskan Proses “Metabolic Switching” di Awal Ramadan

Kamis, 26 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Akhmad Edy Purwoko, M.Kes. (Humas UMY)

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Akhmad Edy Purwoko, M.Kes. (Humas UMY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Rasa lemas yang kerap muncul pada hari-hari awal Ramadan sering dianggap semata akibat lapar dan haus. Namun, secara biologis, tubuh sejatinya tengah menjalani proses adaptasi metabolik yang kompleks.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Akhmad Edy Purwoko, M.Kes., menjelaskan, ketika seseorang mulai berpuasa dan menghentikan asupan makanan, tubuh segera memasuki fase transisi metabolik.

Dalam 4 hingga 6 jam pertama setelah makan terakhir, kadar glukosa darah mulai menurun. Seiring itu, hormon insulin juga ikut turun. “Penurunan insulin menjadi kunci karena insulin adalah hormon penyimpanan energi. Saat insulin turun, tubuh berhenti menyimpan energi dan mulai menggunakan cadangan yang sudah ada,” ujar dr. Edy saat dihubungi, Kamis (26/2/2026).

Pada kondisi normal setelah makan, insulin membantu memasukkan glukosa ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi atau disimpan sebagai cadangan. Sebaliknya, saat puasa, tubuh mengaktifkan hormon lain, seperti glukagon, guna menjaga kestabilan kadar gula darah.

Menurut dia, ketika gula darah menurun, kadar glukagon meningkat dan hati mulai memecah glikogen, yakni simpanan gula dalam tubuh. Setelah sekitar 8 hingga 12 jam, tubuh mulai beralih dari pembakaran glukosa ke pembakaran lemak. Proses inilah yang dikenal sebagai metabolic switching, yaitu peralihan sumber energi dari gula ke lemak.

Ia menambahkan, setiap jaringan tubuh memiliki strategi adaptasi berbeda sesuai fungsi sel yang telah mengalami diferensiasi. Sel otak, misalnya, pada awalnya sangat bergantung pada glukosa karena tidak memiliki cadangan energi. Namun, setelah tubuh beradaptasi, otak dapat memanfaatkan badan keton sebagai sumber energi alternatif yang dinilai lebih efisien bagi kerja mitokondria.

Sementara itu, sel otot mula-mula menggunakan glikogen sebelum kemudian beralih ke pembakaran lemak. Jika puasa berlangsung terlalu lama tanpa asupan memadai, tubuh bahkan dapat memecah protein sebagai sumber energi terakhir.

Setelah proses adaptasi berlangsung di tingkat sel, pola asupan menjadi faktor penentu agar mekanisme tersebut berjalan optimal. Karena itu, kualitas makanan saat sahur dan berbuka menjadi krusial untuk mendukung ketahanan sel selama puasa.

Dr. Edy mengingatkan, lonjakan gula dan lemak secara drastis saat berbuka justru dapat memicu stres metabolik dan mengurangi manfaat puasa. Sebaliknya, pola makan seimbang dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan efisiensi kerja sel.

“Puasa yang benar dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mendukung mekanisme perbaikan sel. Namun, jika tidak terkontrol, bisa terjadi hipoglikemia, dehidrasi, atau ketidakseimbangan elektrolit. Karena itu, penting dilakukan dengan cara yang tepat,” katanya.

Ia menegaskan, puasa merupakan proses biologis alami yang selaras dengan sistem tubuh manusia. Dengan pemahaman yang baik serta pola makan seimbang, puasa tidak hanya menjadi ibadah spiritual, tetapi juga momentum untuk memperbaiki metabolisme dan kesehatan sel secara menyeluruh. (aga/ihd)

Berita Terkait

Langkat Gelar Sugiat Santoso Cup, Dorong Semangat Sportivitas Sambut HUT RI
‎FJI Desak Aparat Usut Dugaan Tukar Hafalan Dengan Miras
AMPHIBI Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Dini Lewat Sosialisasi dan Aksi Penghijauan di SDN 013829 Ledong Timur
Yusharto Huntoyungo: Kolaborasi Jadi Kunci Penguatan Inovasi Daerah di Bantul
48 Pelajar Wonosobo Digembleng Jadi Paskibra Tangguh Berkarakter Nasionalis
Polemik Konferensi Sungai Trawas, Kritik Mengarah pada Kepatutan dan Tata Kelola Prosedur
Motor Tabrak Mobil Box, Dua Kendaraan Terbakar Hebat di Magelang
BRI: Kemudahan Finansial untuk Semua Kalangan

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:06 WIB

Langkat Gelar Sugiat Santoso Cup, Dorong Semangat Sportivitas Sambut HUT RI

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:12 WIB

‎FJI Desak Aparat Usut Dugaan Tukar Hafalan Dengan Miras

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:04 WIB

AMPHIBI Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Dini Lewat Sosialisasi dan Aksi Penghijauan di SDN 013829 Ledong Timur

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:24 WIB

Yusharto Huntoyungo: Kolaborasi Jadi Kunci Penguatan Inovasi Daerah di Bantul

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:08 WIB

48 Pelajar Wonosobo Digembleng Jadi Paskibra Tangguh Berkarakter Nasionalis

Berita Terbaru

Sumatera Utara

BPDP Asah Skill 87 Pekebun Sawit Labusel, Produktivitas Melonjak

Senin, 24 Agu 2026 - 18:31 WIB

Yogyakarta

Danrem Gerak Cepat, DIY Siapkan Bantuan Gempa untuk NTT

Senin, 24 Agu 2026 - 18:29 WIB