JENDELANUSANTARA.COM, Magelang — Upaya mendorong kopi Indonesia menembus pasar global tak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Kualitas, manajemen usaha, hingga kelembagaan agribisnis menjadi fondasi yang menentukan keberlanjutan. Atas dasar itu, Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menggandeng University Community Transformation Centre (UCTC) Universiti Putra Malaysia dalam program pengabdian kepada masyarakat di Kelompok Tani Kopi Sumber Berkah, Desa Citrosono, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Senin (16/2/2026).
Grabag dipilih karena dikenal sebagai salah satu sentra kopi robusta yang terus berkembang di Kabupaten Magelang. Potensi tersebut dinilai perlu diiringi penguatan kapasitas petani dan tata kelola usaha agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Ketua Program Studi Agribisnis UMY, Zuhud Rozaki, mengatakan daya saing kopi tidak hanya ditentukan oleh volume panen, melainkan juga kualitas produk, standar mutu, serta strategi hilirisasi. “Petani perlu memahami pengolahan dan pemasaran, bukan hanya produksi. Kolaborasi internasional ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas sekaligus kelembagaan agribisnis,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Kerja sama ini dirancang berkelanjutan. Pendampingan mencakup penguatan rantai pasok, penerapan standar mutu, serta pengembangan model agribisnis berbasis komunitas. Ketua pelaksana kegiatan, Oki Wijaya, menegaskan bahwa program tidak berhenti pada pelatihan teknis. “Fokus kami juga pada pendampingan intensif dan pengembangan pasar agar petani memperoleh nilai tambah yang lebih besar,” katanya.
Delegasi UPM dipimpin Profesor Norsida Man, Timbalan Pengarah UCTC UPM Bidang Pengembangan Pertanian. Ia menilai pendekatan agribisnis terintegrasi dan pertukaran pengetahuan lintas negara dapat membuka peluang inovasi sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha tani.
Sinergi tersebut mendapat dukungan pemerintah daerah. Perwakilan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang menekankan pentingnya konsistensi mutu dan stabilitas produksi agar memenuhi standar pasar. Sementara Bappeda dan Litbangda Kabupaten Magelang menilai kolaborasi ini selaras dengan penguatan indikasi geografis Kopi Magelang, yang diharapkan membuka peluang ekspor, termasuk ke Malaysia.
Dalam kegiatan lapangan, peserta meninjau kebun robusta dan unit pengolahan milik kelompok tani. Diskusi mencakup praktik budidaya, adaptasi terhadap perubahan iklim, serta peningkatan kualitas pascapanen. Tim UPM juga melatih pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi pupuk organik guna menekan biaya produksi sekaligus mendukung pertanian ramah lingkungan.
Sebagai dukungan hilirisasi, kelompok tani menerima bantuan mesin grinder dan mesin espresso untuk memperkuat pengolahan dan pemasaran kopi olahan.
Melalui kolaborasi ini, UMY menargetkan lahirnya model agribisnis kopi berbasis kompetensi petani yang dapat direplikasi di berbagai daerah. Pendekatan kolaboratif antara perguruan tinggi, pemerintah, dan mitra internasional diharapkan memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar global sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. (aga/ihd)






