Menikmati Puisi Kritis ” TETAPLAH BODOH”, Karya Fathul Wahid

Jumat, 2 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Wartawan Senior, Marah Sakti Siregar

Foto : Wartawan Senior, Marah Sakti Siregar

JOGJAOKE.COM, DULU, waktu masih duduk di kelas 4 SD, aku suka baca buku silat bersambung karya Kho Ping Hoo. Salah satunya berjudul: “Pendekar Bodoh”.

Sekarang saya suka sekali puisi “Tetaplah Bodoh,” karya Fathul Wahid, yang dibacakan secara berantai oleh Bung Firdaus, Ketua Umum SMSI dan kawan-kawan SMSI pada acara tutup tahun yang mereka gelar pada tanggal 31 Desember 2025 lalu.

“Tetaplah Bodoh” adalah puisi kritis terbaru Prof Fathul Wahid, rektor UII, Yogyakarya. Rektor ini memang kerap menulis puisi bertema ktitik sosial. Sebelumnya, dia pernah menulis puisi sejenis yang menyuarakan penolakannya terhadap RUU TNI. Judulnya: ” Kami Malu Pak Dirman.”

Dalam ” Tetaplah Bodoh”, Prof Fathul secara tajam menyindir pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terutama berkaitan dengan penanganan bencana banjir di Sumatera.

Sepenangkapanku– karena aku bukan pengamat puisi– pesan utama puisi itu adalah ajakan untuk kita agar tidak tetap bodoh. Tapi bangkit dari kebodohan yang ditanamkan. Yakni, semacam pembodohan yg dilakukan oleh penguasa, melalui media –via buzzer dan influencer bayaran– atau sistem pendidikan yang gonta-ganti terus.

Prof Fathul dengan berani, lewat puisinya menyerukan kita untuk tetap kritis, berani bersuara, dan melawan ketidakadilan.
Puisi ini bertema kritik sosial-politik melalui sarkasme terhadap “kepintaran” palsu. Fathul Wahid menggunakan kata “bodoh” secara ironis. Bukan ajakan untuk benar-benar bodoh. Tapi sindiran bahwa “pintar” di negeri ini sering berarti setuju dengan manipulasi fakta, korupsi, dan ketidakadilan.

Tema-tema spesifik yang disebutnya dalam “Tetaplah Bodoh”, meliputi ihwal
kerusakan ingkungan dan eksploitasi alam/hutan.
Misalnya, kritik terhadap deforestasi dan konversi hutan menjadi perkebunan sawit. Dia menyindir pernyataan Presiden Prabowo dan beberapa pejabat berkaitan dengan kayu gelondongan yang tumbang sendiri”.

“Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri,
kebetulan saja sebagian diberi nomor
agar tak tersesat pulang.”

He he he ini sindiran atas penebangan ilegal yang dibuat seolah-olah alami. Dan pernyataan Prabowo yang pernah menyerukan langkah ekstensifikasi penanaman “kelapa sawit, karena sawit juga pohon yang punya daun hijau”.

Prof Fathul dengan cerdas mengeritik kebijakan alih fungsi hutan yang merusak ekosistem yang menyebabkan terjadinya banjir. Tapi realitas ini kemudian oleh pembantu presiden seperti mau ditutup-tutupi dengan kata “takdir”.

Salah satu poin yang membuat puisi ini viral karena disambut dukungan para netizen adalah bait Fathul meledek kebijakan Prabowo seperti menolak bantuan asing jika menyatakan bencana banjir Sumatera sebagai “bencana nasional”.

“Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing
yang tak seberapa itu berbahaya,
bisa meruntuhkan martabat bangsa…”
Baiklah, kawan-kawan terutama di SMSI: Selamat Tahun Baru 2026.
Aku suka pada puisi pilihan Anda.
Agar kita bisa sama-sama menikmati puisi kritis Prof Fathul itu, aku share isi lengkap puisi tersebut:

Rektor Universitas Islam Indonesia membacakan puisi ini pada Kenduri dan Doa Ibu-ibu Berisik, kemarin sore (22/11/2025) di Bundaran UGM.

TETAPLAH BODOH

Karya: Fathul Wahid

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri,
kebetulan saja sebagian diberi nomor
agar tak tersesat pulang.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengharuskan kita sepakat
bahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau,
cukup untuk mengganti nama hutan,
meski akarnya tak lagi sudi menahan air.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar berarti curiga pada suara kritis,
dianggap menggiring opini,
menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna,
dan empati harus menunggu siaran media.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing
yang tak seberapa itu berbahaya,
bisa meruntuhkan martabat bangsa
yang konon berdiri tegak—tanpa bantuan siapa-siapa.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mensyaratkan
bantuan bencana dari diaspora
perlu dipajaki dulu,
agar duka ikut menyumbang penerimaan negara.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar berarti setuju
cukup menteri memanggul karung bantuan,
sementara empati dianggap bonus,
tak wajib, apalagi tulus.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa ribuan korban hanyalah angka,
terlalu kecil untuk disebut bencana nasional,
hanya cukup jadi catatan kaki laporan tahunan.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menganggap alih hutan ke sawit
adalah keniscayaan,
dan banjir selalu bisa kita titipkan
pada takdir—
agar tangan manusia tetap tampak tak ternoda.

Mari, tetap bodoh, kawan.
Sebab di negeri ini,
terlalu sering, yang disebut pintar
justru adalah kelihaian
melawan akal sehat,
menyembunyikan fakta,
dan memperdayai sesama.

Kawan, mari, tetap bodoh.

Sleman, 22 Desember 2025

(*)

Berita Terkait

Warga Aceh Besar Nikmati Fasilitas Air Bersih Berkat Sinergi ABPEDNAS dan SUCOFINDO
Lewat Diplomasi Aktif Prabowo, Gerindra Sebut Posisi Tawar Indonesia Semakin Diperhitungkan Dunia
Maknai Hari Lahir Pancasila, Rutan Manna Tanamkan Nilai Kebangsaan dalam Sistem Pemasyarakatan
‎Mukernas Arimatea Perkuat Mualaf, Rajut Toleransi dan Persaudaraan Bangsa
RT.03 Pagar Agung Siap Jadi Kampung Tertib Lalu Lintas Kabupaten
Banten Jadi Incaran Raksasa Baja Tiongkok, Andra Soni Dorong Percepatan Investasi
Masa Depan Negara Hukum Bergantung pada Integritas Advokat Indonesia
Shamsi Ali: Populasi Muslim di Amerika Capai 15 Juta Jiwa, Dua Kali Lipat Data Resmi

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 16:16 WIB

Warga Aceh Besar Nikmati Fasilitas Air Bersih Berkat Sinergi ABPEDNAS dan SUCOFINDO

Selasa, 2 Juni 2026 - 13:09 WIB

Lewat Diplomasi Aktif Prabowo, Gerindra Sebut Posisi Tawar Indonesia Semakin Diperhitungkan Dunia

Senin, 1 Juni 2026 - 14:13 WIB

Maknai Hari Lahir Pancasila, Rutan Manna Tanamkan Nilai Kebangsaan dalam Sistem Pemasyarakatan

Minggu, 31 Mei 2026 - 17:14 WIB

‎Mukernas Arimatea Perkuat Mualaf, Rajut Toleransi dan Persaudaraan Bangsa

Jumat, 29 Mei 2026 - 20:01 WIB

RT.03 Pagar Agung Siap Jadi Kampung Tertib Lalu Lintas Kabupaten

Berita Terbaru