Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, dan Bandara Husein Sastranegara di Bandung kembali aktif mulai pukul 00.01 WIB. Dua bandara lainnya, yakni Bandara Budiarto Curug dan Bandara Pondok Cabe, menyusul dibuka pada pukul 02.25 WIB.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, keputusan pembukaan kembali dilakukan berdasarkan hasil pemantauan kondisi abu vulkanik dan keselamatan ruang udara.
“Per tanggal 8 September pukul 00.01 WIB, Bandara Soekarno-Hatta Banten, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dan Bandara Husein Sastranegara Bandung dinyatakan aktif kembali. Menyusul Bandara Budiarto Curug Banten dan Bandara Pondok Cabe Banten juga kembali dibuka pada pukul 02.25 WIB,” ujar Dudy.
Kementerian Perhubungan sebelumnya memperpanjang penutupan bandara terdampak hingga Senin (7/9/2026) pukul 23.59 WIB. Kebijakan tersebut merupakan langkah mitigasi untuk memastikan keselamatan penerbangan setelah abu vulkanik terdeteksi di sejumlah wilayah udara dan bandar udara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan hasil verifikasi lapangan pada Selasa menunjukkan ruang udara dan area landasan sejumlah bandara telah aman dari sebaran material abu vulkanik. Pengujian paper test di lima bandara juga menunjukkan hasil negatif terhadap abu vulkanik.
Sebelumnya, BMKG mencatat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai ketinggian hingga sekitar 15.000 kaki atau 4,57 kilometer pada Senin (7/9). Abu bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 15 knot. Pada lapisan yang lebih tinggi, hingga 50.000 kaki atau sekitar 15,24 kilometer, material abu terpantau meluas ke Samudra Hindia dan menjauhi wilayah Indonesia.
Delapan Bandara Terdampak
Penutupan sementara sebelumnya mencakup delapan bandara di Jawa dan Sumatera. Bandara tersebut ialah Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Radin Inten II di Lampung, Muhammad Taufiq Kiemas di Pesisir Barat, Lampung, serta Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Atung Bungsu menjadi bandara pertama dalam daftar tersebut yang kembali beroperasi. Bandara itu dibuka pada Senin (7/9) pukul 09.00 WIB.
Dengan dibukanya lima bandara pada Selasa, masih terdapat dua bandara yang belum kembali beroperasi, yakni Radin Inten II dan Muhammad Taufiq Kiemas di Lampung. Keduanya berada relatif lebih dekat dengan sumber erupsi sehingga pembukaan operasional tetap menunggu perkembangan sebaran abu dan hasil evaluasi keselamatan penerbangan.
Secara keseluruhan, erupsi Anak Krakatau sejak akhir pekan lalu telah memberikan dampak besar terhadap konektivitas udara. Data yang dihimpun Reuters menyebut lebih dari 340.000 penumpang terdampak akibat penundaan, pengalihan, maupun pembatalan penerbangan. Gangguan terjadi pada hampir 3.000 penerbangan.
Pemulihan Penerbangan Tidak Seketika
Dibukanya kembali bandar udara juga tidak serta-merta membuat seluruh jadwal penerbangan kembali normal. Maskapai membutuhkan waktu untuk menata ulang rotasi pesawat, awak kabin, rute, serta jadwal penerbangan yang sebelumnya terganggu akibat penutupan.
Di Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, sebanyak 178 pesawat yang sempat terdampak penutupan harus diperiksa kelayakannya sebelum kembali digunakan. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan pesawat tidak mengalami dampak akibat paparan abu vulkanik.
Gangguan penerbangan juga memiliki efek berantai. Keterlambatan satu pesawat dapat memengaruhi beberapa penerbangan berikutnya karena pesawat yang sama digunakan untuk melayani sejumlah rute. Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) memperkirakan maskapai dapat menanggung kerugian hingga sekitar Rp19 miliar atau 1 juta dollar AS per hari selama gangguan berlangsung.
Karena itu, penumpang tetap diminta memeriksa kembali status penerbangan kepada maskapai masing-masing meskipun bandar udara tujuan maupun keberangkatan telah dinyatakan dibuka.
Erupsi Masih Berlangsung
Pemulihan operasional penerbangan berlangsung ketika aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya berhenti. Pada Selasa pagi, gunung api di Selat Sunda tersebut kembali mengalami beberapa kali erupsi.
Badan geologi menyatakan erupsi terbaru relatif lebih kecil dibandingkan erupsi sebelumnya. Namun, potensi gangguan terhadap penerbangan tetap bergantung pada tinggi kolom abu serta arah dan kecepatan angin. Kondisi tersebut membuat pemantauan terhadap ruang udara harus terus dilakukan.
BMKG sebelumnya juga menerbitkan puluhan informasi meteorologi penerbangan (Significant Meteorological Information/SIGMET) sejak erupsi pertama pada 4 September 2026. Informasi tersebut digunakan untuk memantau perkembangan sebaran abu dan menjadi salah satu dasar bagi otoritas penerbangan dalam menentukan langkah operasional.
Kondisi itu menunjukkan bahwa pembukaan kembali bandara merupakan keputusan yang bersifat dinamis. Jika arah angin berubah atau sebaran abu kembali memasuki jalur penerbangan, otoritas dapat melakukan penyesuaian terhadap operasi penerbangan demi keselamatan.
Pemerintah pun menempatkan keselamatan penerbangan sebagai pertimbangan utama. Dengan masih berlangsungnya aktivitas erupsi, pemulihan penerbangan dilakukan secara bertahap sambil terus mengevaluasi kondisi atmosfer dan sebaran abu vulkanik.
Bagi masyarakat, terutama calon penumpang, situasi tersebut berarti perjalanan udara masih berpotensi mengalami perubahan jadwal. Informasi dari maskapai, pengelola bandara, BMKG, serta otoritas penerbangan perlu menjadi rujukan utama sebelum melakukan perjalanan. (ihd)






