Tuwanggana Diminta Adaptif, Sri Sultan Dorong Sinergi Pemerintahan Kalurahan

Jumat, 14 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengukuhkan Pirukunan Tuwanggana masa bakti 2025–2030 di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis.(13/11/2025). (Dok Pemda DIY)

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengukuhkan Pirukunan Tuwanggana masa bakti 2025–2030 di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis.(13/11/2025). (Dok Pemda DIY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Tuwanggana di lima kabupaten/kota memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintahan kalurahan dengan cara bekerja lebih adaptif, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan warga.

“Tuwanggana harus memiliki wawasan adaptasi dan kapasitas daya tahan. Karena itu, lembaga ini dituntut mampu berpikir melampaui kebiasaan, melakukan lompatan pemikiran nonlinier, dan bertindak out of the box,” ujar Sultan saat mengukuhkan Pirukunan Tuwanggana masa bakti 2025–2030 di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis.

Tuwanggana selama ini berfungsi menyerap aspirasi masyarakat serta melakukan pembinaan dan pengawasan pembangunan di tingkat kalurahan hingga kabupaten/kota. Di DIY, istilah “kalurahan” digunakan untuk menggantikan desa atau kelurahan, kecuali di Kota Yogyakarta.

Sultan menekankan pentingnya koordinasi jejaring Tuwanggana di seluruh DIY agar bekerja selaras dan kompak. Pemda DIY setiap tahun mengalokasikan hibah Rp225 juta untuk mendukung operasional Pirukunan Tuwanggana.

Menurut Sultan, keberhasilan Tuwanggana tidak ditentukan oleh jumlah kegiatan, melainkan oleh kedalaman dampak yang dirasakan warga, seperti meningkatnya kemandirian sosial, ekonomi, serta penguatan kebudayaan lokal.

“Tuwanggana adalah pilar menuju cita-cita untuk ikut menentukan arah pembangunan, mendayagunakan potensi, serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kebudayaan,” ujar Sultan. Ia menambahkan, Tuwanggana harus menjadi pengikat hubungan harmonis dengan lurah dan perangkat kalurahan lainnya. “Bukan lagi waktunya bersaing, melainkan bersinergi.”

Ketua Pirukunan Tuwanggana DIY, KPH Notonegoro, mengatakan istilah Tuwanggana mulai diberlakukan pada 2025. Sebelumnya lembaga ini dikenal sebagai Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMK). Memasuki periode kedua kepemimpinannya, ia menyebut telah mengidentifikasi sejumlah persoalan, termasuk soal kepastian regulasi.

“Yang saya coba atasi di periode pertama itu adalah permasalahan regulasi,” ujarnya. (ihd)

Berita Terkait

WFH ASN DIY Berlaku Setiap Jumat, Layanan Publik Dijaga Tetap Optimal
Pemda DIY Kaji Skema WFH ASN, Belum Diberlakukan dalam Waktu Dekat
ASN DIY Diminta Langsung Ngantor dan Tancap Gas Usai Lebaran, WFA Maksimal 25 Persen
Anggaran Terbatas, Pemda DIY Prioritaskan Tambal Jalan Provinsi Jelang Mudik Lebaran
Dana Desa DIY Anjlok 74 Persen, Pemda Kucurkan BKK Rp132,5 Miliar untuk Kalurahan
Harga Sembako di Gunungkidul Naik Bertahap, TPID DIY Pastikan Stok Aman
Pemda DIY Perkuat Sinergi dengan Komisi V DPR RI, Dorong Infrastruktur Berdampak Nyata
Manunggal Raharja Disiapkan Jadi Pusat Integrasi Data Kemiskinan DIY, Target Tuntas 2026

Berita Terkait

Selasa, 7 April 2026 - 21:42 WIB

WFH ASN DIY Berlaku Setiap Jumat, Layanan Publik Dijaga Tetap Optimal

Rabu, 1 April 2026 - 19:22 WIB

Pemda DIY Kaji Skema WFH ASN, Belum Diberlakukan dalam Waktu Dekat

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:20 WIB

ASN DIY Diminta Langsung Ngantor dan Tancap Gas Usai Lebaran, WFA Maksimal 25 Persen

Jumat, 6 Maret 2026 - 17:08 WIB

Anggaran Terbatas, Pemda DIY Prioritaskan Tambal Jalan Provinsi Jelang Mudik Lebaran

Jumat, 27 Februari 2026 - 02:56 WIB

Dana Desa DIY Anjlok 74 Persen, Pemda Kucurkan BKK Rp132,5 Miliar untuk Kalurahan

Berita Terbaru

Foto: istimewa

Jogja

‎Brutal! Geng Motor Ngamuk di Baciro Dua Warga Terluka

Sabtu, 25 Apr 2026 - 13:57 WIB