JOGJAOKE.COM, Yogyakarta —Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memproyeksikan sektor pangan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pariwisata sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah pada 2026. Proyeksi tersebut disusun di tengah keterbatasan ruang fiskal serta dinamika ekonomi nasional dan global yang masih berfluktuasi.
Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti menyatakan, kinerja perekonomian DIY hingga kini masih berada pada jalur positif. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang sektor-sektor produktif yang memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
“Kalau kita masih on track untuk pertumbuhan ekonomi. Masih positif, khususnya dari sektor-sektor produktif,” ujar Ni Made.
Ia menjelaskan, struktur PDRB DIY saat ini diperkuat oleh sektor makanan dan akomodasi, industri pengolahan, serta pertanian. Ketiga sektor itu dinilai saling berkaitan dan memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah.
Penguatan sektor pertanian, menurut Ni Made, juga sejalan dengan kebijakan nasional, antara lain melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jika dirancang secara komprehensif dari hulu hingga hilir, program tersebut dinilai mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi petani dan pelaku usaha lokal.
“Dengan perencanaan yang baik, keterlibatan seluruh elemen, serta kerja sama antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dengan komoditas petani, dampaknya bisa cukup kuat bagi ekonomi DIY,” katanya.
Namun demikian, Ni Made mengakui, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen pada 2026 bukan perkara mudah. Tantangan tersebut muncul di tengah keterbatasan fiskal daerah dan ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung.
Dalam konteks tersebut, Pemda DIY tetap menempatkan UMKM dan pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian daerah. UMKM dinilai berperan dominan karena mencakup berbagai mata rantai ekonomi, mulai dari produksi, pengolahan, hingga perdagangan.
“Perekonomian DIY ini mayoritas tumbuh dari UMKM, ditopang pariwisata yang sejak lama menjadi andalan,” ujarnya.
Selain UMKM dan pariwisata, sektor pertanian dan perikanan juga memiliki peran strategis, terutama dalam mendukung industri pengolahan dan perdagangan yang banyak berbasis usaha kecil dan menengah.
Terkait terobosan kebijakan pada 2026, Ni Made menyebut Pemda DIY masih menunggu arah kebijakan nasional. Meski begitu, penguatan produktivitas, optimalisasi komoditas pangan dan industri, serta perluasan kerja sama dengan pihak ketiga akan terus didorong.
“Pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada peran pemerintah. Kontribusi masyarakat dan swasta, terutama melalui investasi, menjadi faktor penting,” katanya.
Ke depan, Pemda DIY juga berharap penguatan ekspor, pengendalian impor, serta pengembangan ekonomi perdesaan dapat memberikan dampak berkelanjutan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY pada tahun-tahun mendatang. (ihd)






