Pakar UMY: Lagu Domain Publik Bebas Diputar, Usaha Kecil Tak Perlu Bayar Royalti

Senin, 22 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakar hukum pidana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Trisno Raharjo (Dok UMY)

Pakar hukum pidana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Trisno Raharjo (Dok UMY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Lagu yang telah masuk ke ranah domain publik dapat diputar tanpa kewajiban membayar royalti. Hal ini ditegaskan pakar hukum pidana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Trisno Raharjo, dalam diskusi di Fakultas Hukum UMY, Senin.

“Jika sebuah lagu sudah menjadi public domain, dapat digunakan tanpa harus membayar royalti,” ujarnya. Trisno menjelaskan, perlindungan hak cipta memiliki batas waktu tertentu. Setelah masa berlaku habis, karya cipta otomatis bisa dimanfaatkan publik tanpa izin atau pembayaran.

Menurut dia, lagu-lagu klasik maupun sejumlah lagu populer lama kini sudah berstatus bebas hak cipta. Kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha kecil, seperti kafe dan restoran, yang sering keberatan dengan kewajiban membayar royalti musik.

Meski demikian, Trisno menegaskan, pemutaran musik di ruang privat berbeda dengan ruang publik. “Kalau musik diputar di rumah, itu hak pribadi. Namun jika diputar di kafe atau mal, ada nilai komersial. Musik digunakan untuk menarik konsumen agar betah. Maka wajar pencipta berhak atas royalti,” katanya.

Ia menambahkan, sengketa hak cipta kerap terjadi akibat kontrak yang tidak rinci antara pencipta, penyanyi, dan industri musik. Ketidakjelasan isi kontrak sering memicu gugatan ketika sebuah lagu menjadi populer. “Revisi UU Hak Cipta harus memberi kepastian hukum agar tidak menimbulkan kontroversi baru,” ujarnya.

Trisno menilai ketentuan pidana dalam UU Hak Cipta penting untuk melindungi pencipta sekaligus memberi efek jera. Namun, ia mengingatkan penegakan hukum jangan sampai berlebihan hingga menimbulkan kriminalisasi terhadap konsumen maupun pelaku usaha kecil. “Hukum pidana seharusnya menjadi pilihan terakhir dalam penyelesaian pelanggaran hak cipta,” tuturnya. (ihd)

Berita Terkait

Geger Pantai Wediombo! Warga Berburu Teri, Sekali Pulang Bawa 4 Kilogram
Dirgahayu Kota Yogyakarta ke-270. Yogyakarta Otentik-Konkret, Maju dan Sejahtera.
Korem 072/Pamungkas Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta “Otentik, Konkret, dan Terus Bergerak untuk Jogja yang Semakin Istimewa.”
Pemkab Bandung Perjuangkan Tambahan Anggaran PBI Rp50 Miliar demi Layanan Kesehatan 12 Bulan Penuh
‎HUT Kota Yogyakarta ke-270 Memanas, 118 Pelajar Taman Dewasa Ramaikan Karnaval Budaya
MRC No One Knows dan Perjalanan Panjang dari Rakit Bambu ke Gelaralam
Suahasil Jadi Menkeu Gantikan Purbaya, Pasar Menanti Gebrakan Bereskan Fiskal Nasional
Adu Racik Barista Lampung Meriahkan Festival Krakatau XXXV

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:59 WIB

Geger Pantai Wediombo! Warga Berburu Teri, Sekali Pulang Bawa 4 Kilogram

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:03 WIB

Dirgahayu Kota Yogyakarta ke-270. Yogyakarta Otentik-Konkret, Maju dan Sejahtera.

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Korem 072/Pamungkas Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta “Otentik, Konkret, dan Terus Bergerak untuk Jogja yang Semakin Istimewa.”

Rabu, 30 September 2026 - 15:12 WIB

Pemkab Bandung Perjuangkan Tambahan Anggaran PBI Rp50 Miliar demi Layanan Kesehatan 12 Bulan Penuh

Rabu, 30 September 2026 - 12:52 WIB

‎HUT Kota Yogyakarta ke-270 Memanas, 118 Pelajar Taman Dewasa Ramaikan Karnaval Budaya

Berita Terbaru