JOGJAOKE.COM, Jogja – Forum 2045 menggelar Orasi Epistemologi di University Club Hotel Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (26/2).
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid pukul 15.30–18.00 WIB ini menghadirkan akademisi, tokoh masyarakat, dan aktivis untuk membahas krisis pengetahuan, demokrasi, serta masa depan Indonesia.
Orasi utama disampaikan Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., dengan pembukaan oleh Prof. Muhammad Baiquni, M.A., dan Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum.
Dalam orasinya, Arie Sujito menilai Indonesia tengah menghadapi kolonialisasi pengetahuan yang terjadi bersamaan dengan stagnasi perkembangan ilmu.
Menurutnya, hegemoni rezim global memengaruhi kebijakan nasional hingga memicu ketergantungan.
“Indonesia sedang mengalami kolonialisasi pengetahuan yang masif sekaligus stagnasi perkembangan ilmu pengetahuan,” ujar Arie.
Ia juga menyoroti kampus yang kini terjebak dalam teknokratisasi dan birokrasi sehingga hanya menjadi pusat keahlian yang melayani kepentingan pemerintah maupun pasar.
Arie menegaskan bahwa kebebasan epistemologi merupakan fondasi penting bagi kedaulatan rakyat.
Ia menilai pengetahuan tidak hanya lahir dari ruang akademik, tetapi juga dari pengalaman hidup masyarakat.
“Pengetahuan bukan hanya akumulasi teori dari kampus, tetapi juga pengetahuan masyarakat yang lahir dari pengalaman dan cara bertahan hidup,” tegasnya.
Dalam sesi pembukaan, Prof. Siti Murtiningsih mengingatkan bahwa erosi epistemologi di kampus berdampak luas pada kehidupan berbangsa.
“Erosi epistemologi tidak hanya terjadi pada level akademik, tetapi juga pada kehidupan berbangsa,” katanya.
Sementara itu, Prof. Muhammad Baiquni menyebut forum ini sebagai langkah awal inisiasi gerakan nasional.
“Perubahan teknologi yang masif membawa risiko baru yang harus direspons secara kolektif,” ujarnya.
Sesi penanggap menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain Prof. Winda Mercedes Mingkid, Yanuar Nugroho, Romo Charles Beraf, Panji Dafa Amrtajaya, Prof. Wahyudi Kumorotomo, dan Sudirman Said.
Yanuar menegaskan bahwa krisis demokrasi tidak terlepas dari stagnasi pengetahuan.
“Pengetahuan tidak bersifat netral, selalu berelasi dengan kekuasaan,” katanya.
Di akhir forum, Ketua Forum 2045 Pinurba Parama Pratiyudha menyatakan pihaknya mendorong kebebasan epistemik serta mengajak berbagai daerah di Indonesia menggelar forum serupa.
“Kami berharap orasi epistemologi ini memicu diskusi luas dan gerakan pengetahuan di berbagai daerah,” ujarnya.(waw)






