Hasto Ajak Warga Berpolitik Suci, Tolak Praktik Politik Uang

Jumat, 30 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎JOGJAOKE.COM, Jogja – Pemerintah Kota Yogyakarta menggencarkan pendidikan politik berbasis kemantren melalui program Cakrawala Politik yang digelar bersama Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat di Kotagede, Kamis malam kemarin.
‎
‎Kegiatan tersebut dirangkai dengan Kunjungan Malam Pos Kamling atau Kampas Kopling, sekaligus menjadi ruang dialog langsung antara pemerintah dan warga untuk memperkuat demokrasi.
‎
‎Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan, politik sejatinya merupakan upaya mengatasi persoalan yang tampak mustahil diselesaikan melalui pola pikir biasa dan linier.
‎
‎”Politik itu mengatasi masalah yang sebetulnya tidak mungkin dapat diatasi. Politisi sering bisa mengatasi karena cara berpikirnya tidak linier,” ujar Hasto kepada warga.
‎
‎Ia menilai, pandangan negatif terhadap politik perlu diubah karena proses berpolitik seharusnya membentuk kedewasaan, keberanian mencari solusi, serta tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
‎
‎”Politik itu seolah-olah kotor. Padahal berpolitik itu mendewasakan orang,” kata Hasto saat berdialog dengan warga di Gedongan, Purbayan, Kotagede, malam itu.
‎
‎Hasto kemudian mencontohkan Jenderal Soedirman sebagai negarawan yang menjaga kesucian niat, spiritualitas, dan kecermatan strategi ketika memimpin perjuangan gerilya menghadapi Belanda di Yogyakarta.
‎
‎Ia mengisahkan, Soedirman pernah mengumpulkan warga satu kampung di Pare, Kediri, ketika Belanda berupaya menangkapnya dalam situasi pengepungan yang sangat sulit saat itu.
‎
‎Seluruh warga mengenakan blangkon dan surjan, pakaian yang juga biasa dipakai Soedirman, sehingga pasukan Belanda kesulitan mengenali sosok sang jenderal di tengah kerumunan.
‎
‎Menurut Hasto, strategi tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan membutuhkan cara berpikir di luar dugaan, tetapi tetap harus disertai keyakinan dan tawakal kepada Tuhan.
‎
‎”Satu hal harus dilengkapi dengan bertawakal. Dalam keadaan berperang, Soedirman selalu menjaga kesucian karena Tuhan berpihak kepada yang suci,” ucapnya dalam kesempatan tersebut.
‎
‎Pesan itu, lanjut Hasto, relevan diterapkan masyarakat ketika menghadapi pemilihan kepala daerah maupun pemilihan legislatif agar kompetisi politik tetap berjalan secara bermartabat dan damai.
‎
‎”Saat pilkada dan pileg, warga seperti berperang harus menjaga kesucian. Jangan berpolitik uang, jangan politik wani piro,” tegas Hasto di hadapan warga.
‎
‎Ia mengingatkan praktik politik uang dapat merusak demokrasi dan membuat masyarakat bergantung pada transaksi, bukan gagasan, integritas, maupun kualitas calon pemimpin yang dipilih.
‎
‎Kepala Badan Kesbangpol Kota Yogyakarta Nindyo Dewanto menyebut Cakrawala Politik sebagai pemanasan edukasi menjelang tahapan pemilu yang diperkirakan berlangsung pada 2027 mendatang nanti.
‎
‎Nindyo menyampaikan, indeks demokrasi Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 89,79 dan menjadi yang tertinggi secara nasional, tetapi capaian tersebut perlu dijaga bersama seluruh elemen.
‎
‎Menurut dia, capaian tersebut bergantung pada kualitas demokrasi di kabupaten, kota, kemantren, hingga kampung, sehingga warga perlu mendapat ruang pendidikan politik berkelanjutan.
‎
‎”Cakrawala Politik menjadi ruang edukasi demokrasi, sedangkan Kampas Kopling menghidupkan semangat ronda untuk menjaga keamanan lingkungan,” jelas Nindyo dalam kegiatan tersebut kepada wartawan.
‎
‎Ketua DPRD Kota Yogyakarta FX Wisnu Sabdono Putro menegaskan pendidikan politik juga harus menumbuhkan nasionalisme, kepedulian wilayah, serta semangat gotong royong masyarakat setempat.
‎
‎Wisnu menilai, nasionalisme dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk kecintaan terhadap kampung halaman, kemantren, dan Kota Yogyakarta sebagai bagian identitas kebangsaan.
‎
‎”Ini sederhana. Sebelum bicara nasionalisme Indonesia, bicara tentang Yogyakarta. Sebelumnya bicara tentang Kotagede, Purbayan dan Gedongan,” ungkap Wisnu.
‎
‎Ia mengajak masyarakat membuktikan kecintaan terhadap daerah melalui kepedulian lingkungan, gotong royong, serta kebersamaan menghadapi berbagai tantangan di tengah derasnya arus digitalisasi.
‎
“Piye carane kalian mencintai wilayah kalian dengan cukup sederhana. Itulah nasionalisme yang diajarkan sebenarnya,” tandas Wisnu menutup pesannya kepada masyarakat.(waw)

Berita Terkait

PARFI DIY Satukan Insan Film, Siapkan Produksi Karya Nasional
Kontroversi Bundaran HI Meluas, Tiga Musisi Mundur dari RANS Carnival di Yogyakarta
Belajar Dakwah di Negeri Sakura, Mahasiswa KPI UMY Jalani Magang Internasional di Japan Da’wah Centre
GKR Hemas Dukung BIOSRA, Bioskop Rakyat Perluas Akses Hiburan
UMY Perkuat Sinergi Pendidikan Hukum melalui Kerja Sama dengan Peradi Profesional
‎Pasar Godean Berbagi 4.000 Porsi Makanan, Pedagang Gelar Aksi Kemanusiaan
‎UWM Bongkar Strategi Menulis Artikel Ilmiah Lewat Review dan Bibliometrik
Komisi B DPRD DIY Bidik Potensi Bordir Joho, Dorong IKM Naik Kelas

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:10 WIB

PARFI DIY Satukan Insan Film, Siapkan Produksi Karya Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:06 WIB

Kontroversi Bundaran HI Meluas, Tiga Musisi Mundur dari RANS Carnival di Yogyakarta

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:15 WIB

Hasto Ajak Warga Berpolitik Suci, Tolak Praktik Politik Uang

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:32 WIB

Belajar Dakwah di Negeri Sakura, Mahasiswa KPI UMY Jalani Magang Internasional di Japan Da’wah Centre

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:16 WIB

GKR Hemas Dukung BIOSRA, Bioskop Rakyat Perluas Akses Hiburan

Berita Terbaru

Yogyakarta

PARFI DIY Satukan Insan Film, Siapkan Produksi Karya Nasional

Sabtu, 31 Okt 2026 - 09:10 WIB