JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Dinkes kabupaten/kota melakukan pelacakan aktif terhadap penderita tuberkulosis (TBC) guna menekan potensi penularan yang lebih luas di masyarakat.
Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan, sepanjang 2025 tercatat sekitar 6.360 orang di DIY terdiagnosis TBC. Seluruh kasus tersebut menjadi sasaran pelacakan oleh Dinkes kabupaten/kota dengan pendampingan provinsi.
“Yang 6.360 orang itu tentu akan dilakukan tracing. Fokusnya pada orang-orang terdekat yang memiliki kontak erat, terutama anggota keluarga satu rumah,” kata Anung di Yogyakarta, Selasa.
Pelacakan dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan dan skrining TBC terhadap mereka yang berisiko. Langkah ini ditempuh untuk memutus mata rantai penularan sedini mungkin.
Menurut Anung, bila dari hasil penelusuran ditemukan adanya kontak dengan penderita TBC, maka yang bersangkutan akan diberikan terapi pencegahan. Terapi ini bertujuan mencegah kuman penyebab TBC berkembang menjadi penyakit aktif.
“Gejala TBC biasanya baru muncul sekitar dua hingga tiga bulan setelah tertular, itu pun sangat bergantung pada daya tahan tubuh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada orang dengan imunitas tubuh yang baik, kuman TBC dapat berada dalam kondisi laten atau “kuman tidur” tanpa menimbulkan gejala. Namun, ketika daya tahan tubuh menurun, kuman tersebut dapat aktif dan memicu penyakit.
Karena itu, Anung mengimbau masyarakat untuk menghindari kontak erat dengan penderita TBC yang sudah terkonfirmasi positif serta mendukung upaya pelacakan yang dilakukan petugas kesehatan.
“Kami sudah memiliki alamat penderita dan bekerja sama dengan kabupaten/kota untuk melakukan tracing. Di Kulon Progo, misalnya, pelacakan sudah berjalan. Ini dilakukan secara aktif untuk menemukan masyarakat berisiko dan segera dilakukan pemeriksaan,” katanya. (ihd)






