WHO: 1,4 Juta Nyawa Bisa Diselamatkan, KDS Tegaskan Sanitasi Kunci Kesehatan Bangsa

Senin, 28 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dadang Supriatna berfoto bersama jajaran usai meresmikan Nota Kesepakatan Sinergitas Pelayanan Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Bandung

Dadang Supriatna berfoto bersama jajaran usai meresmikan Nota Kesepakatan Sinergitas Pelayanan Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Bandung

JOGJAOKE.COM, KAB BANDUNG – Bagi Bupati Bandung Kang Dadang Supriatna, kepedulian terhadap lingkungan hidup dan sanitasi bukan lagi sekadar program pelengkap, melainkan kebijakan mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar.

Demikian ditegaskan Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, dalam kajiannya yang menyoroti peran Bupati Bandung Dadang Supriatna di bidang sanitasi dan pelestarian lingkungan.

Ada alasan mendasar mengapa Bupati yang akrab disapa KDS itu menjadikan program pelestarian lingkungan dan pembangunan sanitasi seagai program prioritasnya.

“Sebab, kerusakan lingkungan saat ini telah berhadapan langsung dengan keselamatan manusia,” ujar Toto Izul Fatah kepada awak media, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, bencana banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan, pencemaran sungai, krisis air bersih, dan menumpuknya sampah bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.

Sebagian, kata Toto, merupakan konsekuensi dari perubahan iklim, tetapi sebagian lainnya lahir akibat tindakan manusia.

Mulai dari alih fungsi lahan, rusaknya kawasan resapan air, pembangunan yang tidak terkendali, pembuangan limbah, serta tata kelola sampah dan sanitasi yang belum memadai.

Dalam konteks itulah, lanjut dia, peran Dadang Supriatna sebagai Bupati Bandung sekaligus Ketua Umum Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) menjadi sangat strategis.

Ia menyebut, KDS bukan hanya memimpin salah satu kabupaten dengan penduduk terbesar di Indonesia, tetapi ia juga mengemban tanggung jawab moral untuk menggerakkan seluruh daerah di Indonesia agar menempatkan sanitasi sebagai agenda utama pembangunan.

Sebab, kemajuan daerah tidak diukur dari banyaknya jalan, gedung, atau pertumbuhan ekonomi semata.

“Rakyat yang dapat menghirup udara bersih, mendapatkan air minum yang aman, memiliki jamban yang sehat, bebas dari pencemaran, itulah indikator kemajuan sejati,” kata Toto mengutip kebijakan KDS.

Infrastruktur megah akan kehilangan makna jika sungai berubah menjadi saluran limbah. Pertumbuhan ekonomi menjadi semu jika masyarakat harus menanggung biaya pengobatan yang sebenarnya dapat dicegah melalui air bersih dan sanitasi layak.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, air tercemar dan sanitasi buruk berkaitan erat dengan penularan kolera, diare, disentri, tifus, hingga polio. Setiap tahun, sekitar 1,4 juta kematian di dunia sebenarnya dapat dicegah dengan air bersih dan sanitasi yang memadai.

Lebih jauh, lanjut Toto, sanitasi berhubungan langsung dengan penurunan stunting, kualitas pendidikan, produktivitas, dan pengentasan kemiskinan.

Oleh karena itu, ujar Toto, membangun sanitasi bukan sekadar membangun jamban atau saluran pembuangan. Sanitasi merupakan investasi untuk kesehatan, kecerdasan, produktivitas, dan masa depan bangsa.

Dalam konteks inilah keberadaan AKKOPSI menjadi penting dan relevan untuk saat ini. Ia memiliki peran strategis sebagai ruang bersama pemerintah kabupaten dan kota untuk bertukar pengalaman, memperkuat komitmen politik, mendorong pembiayaan, dan mempercepat pembangunan sanitasi.

“Kami sangat gembira karena KDS berhasil mendorong setiap daerah agar memiliki peta jalan, target yang terukur, basis data yang akurat, serta sistem pemantauan yang terbuka kepada publik,” ungkap Toto.

Melalui AKKOPSI, kata dia, KDS mendorong empat agenda strategis yakni mengawal RUU Air Bersih dan Sanitasi agar memiliki landasan hukum yang kuat dan menjadikan sanitasi bagian dari ketahanan pangan nasional.

Selain itu, ketiga, KDS juga ingin memperkuat kolaborasi lintas sektoral dari pemerintah hingga masyarakat serta memastikan dukungan anggaran yang proporsional dan terukur.

Toto Izul Fatah menegaskan, menjaga lingkungan juga memiliki dasar spiritual yang kuat. Al-Qur’an melarang berbuat kerusakan di bumi (QS. Al-A’raf: 56) dan menegaskan bahwa air adalah sumber segala kehidupan (QS. Al-Anbiya: 30).

“Menjaga air berarti menjaga kehidupan. Ini bukan sekadar tugas teknis, melainkan amanah kemanusiaan sekaligus ibadah ekologis,” ujar Toto.

Kepemimpinan Dadang Supriatna di Kabupaten Bandung dan AKKOPSI, kata Toto, menjadi jembatan yang menyatukan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan nilai keagamaan.

“Sanitasi bukan proyek pinggiran. Ia adalah fondasi peradaban. Menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan kewajiban. Dan menyelamatkan air adalah bagian dari ibadah kita kepada Tuhan,” pungkas Toto Izul Fatah.(gla)

Sumber : Diskominfo Bandung

Berita Terkait

KDS Tekankan Percepatan Koperasi Desa Merah Putih dan Peningkatan Kesejahteraa
Bina Wilayah Karang Taruna 2026 Jadi Momentum Evaluasi Organisasi dan Penguatan Ekonomi Pemuda
KDS Dorong Program Pentahelix Terus Dikembangkan di Kabupaten Bandung
KDS: Kualitas Layanan Kesehatan Tak Cukup dengan Fasilitas, SDM Jadi Penentu
“Bupatinya Gila Bola”, KDS Dipuji Erick Thohir Atas Kesiapan Si Jalak Harupat Gelar FIFA Asian Cup 2026
KDS Soroti Kepastian Tata Ruang dalam Penerapan Kebijakan LSD
KDS: Produk Hukum Daerah Harus Implementatif, Bukan Sekadar Aturan
Pemkab Bandung Buka Peluang Pagelaran Pencak Silat Nasional Digelar di Kabupaten Bandung

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 13:41 WIB

WHO: 1,4 Juta Nyawa Bisa Diselamatkan, KDS Tegaskan Sanitasi Kunci Kesehatan Bangsa

Jumat, 25 September 2026 - 16:55 WIB

KDS Tekankan Percepatan Koperasi Desa Merah Putih dan Peningkatan Kesejahteraa

Jumat, 25 September 2026 - 16:02 WIB

Bina Wilayah Karang Taruna 2026 Jadi Momentum Evaluasi Organisasi dan Penguatan Ekonomi Pemuda

Jumat, 25 September 2026 - 15:00 WIB

KDS Dorong Program Pentahelix Terus Dikembangkan di Kabupaten Bandung

Jumat, 25 September 2026 - 09:01 WIB

KDS: Kualitas Layanan Kesehatan Tak Cukup dengan Fasilitas, SDM Jadi Penentu

Berita Terbaru

Yogyakarta

PBJT Prambanan Dibagi, Sleman-Klaten Bidik PAD dan Wisata

Senin, 28 Sep 2026 - 15:23 WIB