Home / UMY

Menjaga Tawa di Tenda Duka: Langkah Kemanusiaan Mahasiswa UMY di Sambi Rampas

Senin, 24 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto tim KKN PENA 11 UMY saat membersamai warga Sambi Rampas di posko pengungsian

Foto tim KKN PENA 11 UMY saat membersamai warga Sambi Rampas di posko pengungsian

JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 tidak hanya menjadi catatan bencana bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri 3T Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Peristiwa tersebut mengubah ruang pengabdian Tim Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) 11 menjadi ruang aksi kemanusiaan.

Program yang sebelumnya telah disiapkan pun disesuaikan dengan kebutuhan warga. Mahasiswa kini terlibat dalam pengelolaan dapur umum, pelayanan kesehatan, pendataan, distribusi logistik, hingga pendampingan anak-anak di pengungsian.

Tim PENA 11 merupakan salah satu kelompok KKN UMY yang ditempatkan di Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Sebelumnya, UMY mencatat sebanyak 35 mahasiswa PENA bertugas di wilayah tersebut ketika gempa utama terjadi.

Wakil Ketua PENA 11, Elsama Rene Arifial, mengatakan mahasiswa membagi diri ke sejumlah titik yang masih membutuhkan dukungan.

“Sejak pagi, kami fokus menjalankan program kemanusiaan dan bantuan pascabencana. Anggota kami sebar ke titik-titik rawan dan posko yang masih mengalami keterbatasan air, makanan, obat-obatan, hingga tenaga medis,” ujar Elsama, Senin (24/8).

Ketika Program KKN Berubah Menjadi Aksi Kemanusiaan

Kondisi pascagempa membuat berbagai program KKN harus menyesuaikan diri. Tim yang sebelumnya menjalankan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), misalnya, kini ikut membantu pelayanan kesehatan masyarakat. Mahasiswa lainnya terlibat dalam pendataan warga, distribusi logistik, dan pengelolaan kebutuhan posko.

Keterbatasan obat-obatan dan dukungan medis masih menjadi salah satu tantangan di lapangan. Sebelumnya, anggota PENA 11 juga melaporkan bahwa warga di Sambi Rampas membutuhkan dukungan medis, logistik, dan kebutuhan dasar lainnya.

“Khusus untuk lansia, ada penanganan tersendiri dari tim kesehatan kami. Tugas utama mereka adalah memantau dan memeriksa kondisi kesehatan para lansia di sekitar posko,” jelas Elsama.

Kebutuhan pangan juga harus dipenuhi setiap hari. Mahasiswa bersama warga menyiapkan dapur umum dengan memanfaatkan bahan pangan yang masih tersedia di sekitar lokasi. Ketika pasokan sayuran dan bahan makanan terbatas, mereka berupaya memanfaatkan hasil kebun atau ladang yang masih dapat digunakan untuk dimasak bersama.

Dukungan dari UMY dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) turut memperkuat penanganan di lapangan melalui bantuan logistik dan dukungan terhadap posko kemanusiaan. Penanganan kesehatan juga melibatkan tenaga medis dan tenaga kesehatan yang berkolaborasi dengan warga serta relawan.

Bertahan Bersama Warga

Bagi mahasiswa, mendampingi warga tidak selalu berarti melakukan pekerjaan besar. Ada anak-anak yang membutuhkan ruang bermain, lansia yang perlu diperiksa kondisi kesehatannya, hingga keluarga yang harus memastikan kebutuhan makan hari itu tetap terpenuhi.

“Kami hadir sekaligus untuk menghibur anak-anak. Kami melakukan pendekatan emosional terhadap masyarakat di sana dan beberapa tindakan promotif,” ujar Elsama.

Rasa kebersamaan semakin terasa ketika mahasiswa melebur dengan warga di dapur umum, posko pengungsian, dan lokasi ibadah sementara. Di Dusun Biting, misalnya, kerusakan bangunan masjid tidak menghentikan aktivitas keagamaan. Mahasiswa bersama warga membantu mendirikan musala sementara di halaman masjid agar salat berjemaah tetap dapat dilaksanakan.

Di balik aktivitas kemanusiaan tersebut, mahasiswa juga menghadapi tekanan psikologis akibat gempa susulan yang masih terjadi. BMKG mencatat hingga 20 Agustus 2026 terdapat ribuan aktivitas gempa susulan setelah gempa utama M7,7, dengan magnitudo terbesar mencapai M6,2. Sambi Rampas juga masih merasakan sejumlah guncangan susulan.

“Skalanya tidak kecil, beberapa kali di atas magnitudo 5,” ungkap Elsama. “Itu membuat kami sering kali cemas dan waswas, terutama saat guncangan kembali terasa ketika kami sedang berada di dalam bangunan.”

Meski ikut merasakan kekhawatiran, mahasiswa memilih tetap mendampingi warga. PENA 11 terus menyesuaikan kegiatan berdasarkan kebutuhan di lapangan, termasuk membantu distribusi bantuan yang dititipkan keluarga besar PENA.

Bagi Elsama dan rekan-rekannya, KKN pada akhirnya tidak lagi hanya tentang menjalankan program yang telah dirancang sebelum keberangkatan. Pengabdian justru menemukan bentuknya dalam aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan warga, mulai dari memasak bersama, mendirikan tenda, memeriksa kesehatan lansia, menemani anak-anak, hingga tetap hadir ketika masyarakat membutuhkan dukungan.

“Terlepas dari rasa takut yang kami miliki, kami ingin terus bertahan mendampingi warga. Bagi kami, hadir di sini bukan sekadar memberi bantuan, melainkan tentang menjaga tawa dan menghadirkan rasa aman di tengah duka mereka,” tutur Elsama. (GLA)

 

Sumber : humas umy 

Berita Terkait

Desil DTSEN Bisa Berubah, Pakar UMY: Jangan Dianggap Label Mutlak Kesejahteraan
Pasien BPJS Tunggu 8 Jam di IGD RSCM, Dosen UMY Soroti Patient Flow Rumah Sakit
Bed Occupancy Rate Tinggi Belum Tentu Kekurangan Kapasitas, Ini Penjelasan Dosen UMY
Mahasiswa UMY Ubah Limbah Popok Jadi Pupuk, Raih Pendanaan beVisioneers Mercedes-Benz
Mahasiswa Manajemen UMY Raih Dua Bronze Medal di International Future Leader Competition 2026
Pakar UMY Dorong ASEAN Bentuk Satuan Tugas Bersama Hadapi Scam Center Lintas Negara
UMY Luluskan 126 Ners Baru, Peluang Kerja Perawat Terbuka hingga Jepang dan Jerman
Indonesia Desk Dibentuk di Kamboja, Pakar UMY Soroti Batas Yurisdiksi Penanganan Online Scam

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:54 WIB

Desil DTSEN Bisa Berubah, Pakar UMY: Jangan Dianggap Label Mutlak Kesejahteraan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:47 WIB

Pasien BPJS Tunggu 8 Jam di IGD RSCM, Dosen UMY Soroti Patient Flow Rumah Sakit

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Bed Occupancy Rate Tinggi Belum Tentu Kekurangan Kapasitas, Ini Penjelasan Dosen UMY

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Mahasiswa UMY Ubah Limbah Popok Jadi Pupuk, Raih Pendanaan beVisioneers Mercedes-Benz

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:44 WIB

Mahasiswa Manajemen UMY Raih Dua Bronze Medal di International Future Leader Competition 2026

Berita Terbaru

Yogyakarta

Danrem Pamungkas Dorong PKK Perkuat Ketahanan Keluarga DIY Kini

Senin, 24 Agu 2026 - 13:36 WIB

Konferensi Pers Jogja Book Fair, Senin (24/8/2026) (foto : Julius)

Yogyakarta

Jogja Book Fair 2026 Bongkar Memori Keistimewaan Lewat Arsip

Senin, 24 Agu 2026 - 13:30 WIB

Yogyakarta

UWM Bekali Warga Binaan Lapas Wirogunan dengan Literasi Hukum

Senin, 24 Agu 2026 - 13:00 WIB