Mahasiswa Psikologi UBP Karawang Dampingi Anak Panti Berekspresi dan Berbagi

Selasa, 11 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Karawang | 11 Agustus 2026 – Di tengah tantangan panti asuhan yang tidak hanya harus memenuhi kebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan dan tempat tinggal, tetapi juga menjaga perkembangan emosional anak, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi

Universitas Buana Perjuangan (BEM FPSI UBP) Karawang menggelar kegiatan SOULCARE (Spiritual and Emotional Care) di Panti Asuhan Daarul Hasanah, Jl. Suhud Hidayat No. 7 RT 01/RW 02, Gorowong, Adiarsa Timur,Karawang, pada Selasa, 11 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00-15.00 WIB yang melibatkan 39 peserta dan 11 anak asuh ini menghadirkan psikoedukasi emosi, art journey, melukis totebag, sesi berbagi, permainan ringan dan donasi sebagai cara memberi ruang yang aman bagi anak untuk berekspresi sekaligus menghubungkan pembelajaran mahasiswa psikologi dengan kebutuhan sosial di masyarakat.

Bagi Panti Daarul Hasanah, kegiatan semacam ini memiliki arti yang melampaui bantuan materi. Waktu yang diberikan untuk berbicara, mendengarkan, berkarya dan melakukan sesuatu bersama anak-anak membantu membuka pengalaman sosial baru, sekaligus membuat mereka merasa diperhatikan sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas.

SOULCARE dirancang oleh Departemen Sosial, Pengabdian Masyarakat dan Kerohanian BEM FPSI UBP sebagai kegiatan yang memberikan ruang kepada anak untuk mengenali dan mengekspresikan emosi melalui pendekatan seni. Bagi para mahasiswa psikologi, kegiatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan membawa pengetahuan yang mereka pelajari di kampus ke dalam interaksi langsung dengan masyarakat.

Pendekatan itu terlihat dari rangkaian kegiatan yang tidak berpusat pada seremoni. Setelah sesi pembukaan, anak-anak mengikuti psikoedukasi mengenai emosi dan art journey. Suasana kemudian dibuat lebih cair melalui perkenalan dan ice breaking,sebelum mereka masuk ke kegiatan utama berupa melukis totebag.

Anak-anak duduk dalam kelompok-kelompok kecil bersama para mahasiswa. Mereka melukis dan menghias totebag masing-masing, dengan pendampingan yang berlangsung secara dekat dan informal. Di akhir kegiatan, hasil karya yang berbeda-beda itu dibawa bersama dalam sesi foto. Bukan karya yang seragam, dan memang bukan itu tujuannya.

Setiap anak diberi kesempatan menghasilkan sesuatu berdasarkan ide dan ekspresinya sendiri. Setelah kegiatan melukis, anak-anak juga diajak menceritakan makna di balik karya mereka melalui sharing session. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan kuis dan permainan ringan sebelum kegiatan ditutup dengan doa dan dokumentasi bersama. Bagi Ketua Panti Daarul Hasanah, Runi Akmalia, kunjungan semacam ini menjadi penting karena pengasuhan anak tidak dapat dilihat hanya dari terpenuhinya kebutuhan sehari-hari.

“Anak-anak membutuhkan pendidikan, tempat tinggal dan kebutuhan hidup yang baik. Tetapi mereka juga perlu bertemu banyak orang, mendapatkan pengalaman baru, didengarkan dan mempunyai ruang untuk menunjukkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Ketika ada mahasiswa yang datang dan benar-benar meluangkan waktu melakukan kegiatan bersama mereka, bagi kami itu mempunyai nilai yang berbeda,” kata Runi pada Selasa (11/08/2026).

Menurutnya, salah satu tantangan lembaga pengasuhan adalah menjaga agar anak-anak tidak tumbuh dalam lingkungan yang terlalu terbatas. Panti menjadi rumah bagi mereka, tetapi kehidupan mereka tetap perlu terhubung dengan masyarakat di luar panti. Tantangan tersebut semakin relevan ketika banyak keluarga dan lembaga sosial juga harus berhadapan dengan meningkatnya kebutuhan hidup dan tekanan ekonomi.

Dalam kondisi seperti ini, keberlangsungan sebuah panti membutuhkan lebih dari kemampuan mengelola biaya operasional. Dibutuhkan pula jejaring sosial yang tetap hidup agar anak-anak mendapatkan kesempatan belajar dan berinteraksi dengan lingkungan yang lebih beragam.

Panti Daarul Hasanah sendiri tumbuh dari lingkungan Gorowong, Adiarsa Timur,Karawang. Panti ini dirintis pada 2010 oleh H. Mansyur bersama keluarga sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan pengasuhan dan dukungan pendidikan.

Dalam perjalanannya, pengelolaan kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya dengan mempertahankan fungsi panti sebagai tempat tinggal sekaligus ruang tumbuh bagi anak-anak.

Saat ini aktivitas pengasuhan berlangsung di fasilitas Panti Daarul Hasanah di Jl.Suhud Hidayat No. 7 RT 01/RW 02, Gorowong, Adiarsa Timur, Karawang 41313,  dengan sejumlah ruang yang digunakan untuk kegiatan anak, pembelajaran dan aktivitas bersama.

Bella Sandra Tiana, salah satu pengurus yang mendampingi kegiatan, melihat interaksi dengan  mahasiswa dari bidang psikologi sebagai pengalaman yang menarik bagi anak-anak karena mereka diajak terlibat, bukan hanya menjadi penerima dalam sebuah kegiatan.

“Yang kami harapkan dari setiap kunjungan memang ada interaksi. Anak-anak senang ketika ada kakak-kakak mahasiswa datang, berbicara dengan mereka dan mengajak melakukan sesuatu bersama. Kali ini mereka bisa melukis, memilih sendiri apa yang ingin dibuat, lalu menceritakan hasilnya. Pengalaman sederhana seperti itu bisa menjadi sesuatu yang mereka ingat,” ujar Bella.

Kunjungan BEM FPSI UBP juga menjadi contoh bagaimana kegiatan mahasiswa dapat dikembangkan sesuai dengan bidang ilmu yang mereka pelajari. BEM FPSI merupakan organisasi mahasiswa Fakultas Psikologi UBP Karawang yang antara lain menjalankan kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, program pengembangan mahasiswa serta kegiatan seni dan budaya.

Bagi panti, model kegiatan seperti ini membuka kemungkinan yang lebih luas. Mahasiswa pendidikan dapat berbagi pengalaman belajar, mahasiswa seni dapat membawa kegiatan kreatif, mahasiswa olahraga dapat mengajak anak bergerak bersama, sementara bidang lain dapat datang dengan pendekatan yang sesuai dengan kompetensinya. Artinya, kontribusi kepada panti tidak selalu harus dimulai dari pertanyaan tentang apa yang dapat diberikan dalam bentuk materi. Kadang yang dibutuhkan adalah beberapa jam untuk hadir.

Bagi anak-anak,beberapa jam tersebut bisa berarti bertemu orang baru, menemukan kegiatan yang belum pernah dicoba, berani bercerita tentang dirinya, atau bahkan mulai membayangkan dunia yang kelak ingin mereka masuki. (*)

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Mahasiswa Psikologi UBP Karawang Dampingi Anak Panti Berekspresi dan Berbagi

Berita Terbaru

Yogyakarta

OTT Rektor Unsoed Jadi Alarm Keras Kampus Negeri Yogyakarta

Sabtu, 22 Agu 2026 - 13:15 WIB