JOGJAOKE.COM, JENEWA, SWISS- Jogjaoke.com Memasuki hari ke-10 pelaksanaan International Labour Conference (ILC) Session 114 pada Rabu (10/6/2026), pengamanan di kawasan internasional Jenewa, khususnya kompleks Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), semakin diperketat menjelang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang dijadwalkan berlangsung pada 15–17 Juni 2026.
Pengetatan pengamanan dilakukan otoritas Swiss bersama aparat keamanan internasional seiring meningkatnya aktivitas diplomatik dan mobilitas para delegasi, diplomat, pejabat negara, serta perwakilan organisasi internasional yang berada di Jenewa.
ILC sendiri merupakan forum ketenagakerjaan terbesar di dunia yang diikuti delegasi tripartit dari 187 negara anggota Organisasi Perburuhan Internasional (ILO). Negara peserta berasal dari berbagai kawasan dunia, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Tiongkok, India, Australia, Korea Selatan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Turki, Brasil, hingga sejumlah negara di Afrika dan Eropa.
Menjelang KTT G7, seluruh peserta yang memasuki area sidang diwajibkan menjalani pemeriksaan identitas lebih ketat. Pemeriksaan kartu akses, pemindaian barang bawaan, hingga verifikasi keamanan dilakukan secara intensif guna menjamin kelancaran agenda internasional yang berlangsung di Jenewa.
Salah seorang delegasi pekerja Indonesia dari Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Dewa Sukma Kelana, mengatakan peningkatan pengamanan tersebut merupakan langkah yang wajar mengingat padatnya agenda internasional yang berlangsung di Swiss.
“Saya melihat adanya peningkatan pemeriksaan identitas dan pengamanan di sejumlah akses menuju gedung pertemuan. Namun seluruh proses berjalan tertib dan profesional sehingga tidak mengganggu jalannya sidang maupun aktivitas para delegasi. Fokus kami tetap mengikuti seluruh pembahasan dan memperjuangkan kepentingan pekerja Indonesia dalam forum internasional ini,” ujarnya.
Dewa yang juga dosen Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang, Banten, serta mahasiswa Program Doktor Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung menjelaskan bahwa seluruh delegasi Indonesia tetap menjalankan agenda konferensi sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Ia memaparkan, pada hari ke-10 pelaksanaan ILC, sejumlah komite masih melanjutkan pembahasan berbagai isu strategis ketenagakerjaan global, mulai dari penguatan dialog sosial, perlindungan pekerja, hingga penyusunan standar internasional terkait pekerjaan layak dalam ekonomi platform digital.
“Hasil-hasil pembahasan ini sangat penting karena akan menjadi rujukan bagi banyak negara dalam menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis,”tuturnya.
Menjelang berakhirnya rangkaian sidang ILC, delegasi Indonesia yang terdiri dari unsur pemerintah, pengusaha, dan pekerja bersiap kembali ke Tanah Air dengan membawa berbagai hasil pembahasan, rekomendasi, konvensi, serta standar internasional ketenagakerjaan yang dihasilkan selama konferensi berlangsung.
Dewa menilai berbagai keputusan yang dihasilkan dalam forum tersebut dapat menjadi referensi penting bagi pemerintah dalam menyusun dan menyempurnakan regulasi ketenagakerjaan nasional.
“Saya berharap berbagai hasil yang dibahas dan disepakati dalam ILC dapat segera ditindaklanjuti oleh Pemerintah Indonesia menjadi kebijakan dan peraturan yang memberikan manfaat bagi semua pihak,” harapnya.
Menurut dia, konvensi, rekomendasi, dan standar internasional yang lahir dari forum ILC diharapkan mampu memperkuat perlindungan pekerja, meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja, menjaga hubungan industrial yang harmonis, sekaligus mendorong produktivitas dunia usaha.
“Sinergi antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah menjadi kunci untuk mewujudkan hubungan industrial yang berkeadilan dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Di sela aktivitas konferensi yang semakin padat, para delegasi tetap menunjukkan optimisme terhadap hasil akhir sidang. Beberapa peserta tampak berdiskusi hingga malam hari guna menyelaraskan berbagai usulan yang akan menjadi bagian dari rekomendasi konferensi.
“Semoga seluruh pembahasan yang dilakukan selama dua pekan ini benar-benar menghasilkan manfaat nyata bagi pekerja di seluruh dunia,” gumamnya saat meninggalkan ruang sidang.
Ia menambahkan, partisipasi Indonesia dalam ILC tidak hanya menjadi bagian dari diplomasi ketenagakerjaan internasional, tetapi juga momentum untuk membawa pulang berbagai praktik terbaik yang dapat diterapkan di dalam negeri.
“Dengan membawa hasil-hasil sidang ini, kami berharap Indonesia dapat semakin maju dalam membangun sistem ketenagakerjaan yang adil, produktif, dan berdaya saing,” ruahnya.
Dengan kehadiran delegasi dari 187 negara anggota ILO, Jenewa kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat diplomasi dunia. Di tengah pengamanan yang semakin ketat menjelang KTT G7, para delegasi tetap fokus menyelesaikan agenda sidang guna menghasilkan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih baik bagi pekerja dan dunia usaha di masa mendatang.
“Partisipasi Indonesia dalam ILC 2026 merupakan investasi pemikiran bagi masa depan hubungan industrial nasional. Hasil yang dibawa pulang harus mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.
(Yuyi Rohmatunisa)






