JOGJAOKE.COM, Jakarta — Konsorsium Resilient Indonesian Slums Envisioned (RISE) meneliti persoalan banjir, kekeringan, dan sanitasi buruk di tiga kota rawan bencana air sepanjang 2021–2025, yakni Pontianak, Manado, dan Bima. Ketiga kota dinilai menghadapi tekanan urbanisasi dan perubahan iklim yang kian intens.
Principal Investigator RISE, Bagus Takwin, mengatakan riset ini bertujuan memetakan persoalan air di kawasan perkotaan sekaligus menyusun peta jalan tata kelola inklusif untuk memperkuat ketangguhan dan kebahagiaan warga. Proyeksi menunjukkan 70 persen penduduk Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan pada 2045, sebagian besar di kawasan pinggiran (peri-urban).
Temuan sementara menunjukkan warga di kawasan rawan relatif tangguh dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, kemampuan mempertahankan kesejahteraan dan mitigasi bencana dinilai belum kuat.
Riset transdisipliner yang melibatkan peneliti dari Indonesia, Belanda, Amerika Serikat, dan India ini telah menghasilkan artikel ilmiah, buku, ringkasan kebijakan, hingga model sosial-ekologi. Principal Investigator dari Radboud University, Edwin de Jong, menyebut capaian publikasi melampaui ekspektasi awal dengan keterlibatan 40–50 peneliti aktif.
Sejumlah organisasi masyarakat sipil di Pontianak dan Manado menilai hasil riset penting sebagai dasar advokasi kebijakan. Pemerintah Kota Pontianak menyatakan akan menggunakan rekomendasi berbasis prinsip ekologis tersebut sebagai rujukan perumusan program daerah.
Proyek RISE didanai Dewan Riset Belanda (NWO) dan Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN melalui program MERIAN, dengan dukungan sejumlah lembaga nasional dan internasional. (red)