‎Mr. Assaat Minang Pendiri UGM Pernah Pimpin RI, Mengapa Terlupakan?

Rabu, 31 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Jogja – Tidak banyak yang mengetahui bahwa Mr. Assaat Datuk Mudo, tokoh Minangkabau sekaligus pendiri Universitas Gadjah Mada (UGM), pernah memegang kendali pemerintahan sebagai Presiden Republik Indonesia.

‎Fakta ini kerap luput dari ingatan publik karena namanya jarang disebut dalam narasi resmi sejarah nasional. “

‎Assaat memang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia dalam kapasitas pemangku jabatan di Yogyakarta,” ujar sejarawan UGM, menegaskan peran penting Assaat di masa krisis bangsa.

‎Mr. Assaat lahir di Banuhampu, Agam, Sumatera Barat, pada 18 September 1904 dan wafat pada 16 Juni 1976.

‎Jejak pendidikannya panjang dan berliku, dimulai dari Perguruan Adabiah dan MULO Padang, lalu STOVIA Jakarta, hingga akhirnya menempuh pendidikan hukum di Rechtshoogeschool te Batavia.

‎“Assaat adalah contoh intelektual pejuang yang tidak hanya berpikir, tetapi juga bergerak,” kata peneliti sejarah pergerakan nasional.

‎Aktivismenya di Jong Sumatranen Bond bahkan membuat studinya sempat terhambat oleh tekanan kolonial Belanda.

‎Peran Assaat kian krusial ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II tahun 1948 dan menawan para pemimpin nasional.

‎Dalam situasi genting itu, pemerintahan Republik Indonesia tetap berjalan di Yogyakarta.

‎“Assaat dipercaya sebagai simbol keberlanjutan republik,” ungkap seorang akademisi hukum tata negara.

‎Pasca Konferensi Meja Bundar 1949, ia ditunjuk sebagai Acting President Republik Indonesia di Yogyakarta hingga Agustus 1950, sembari terus mengabdikan diri bagi lahirnya UGM sebagai universitas nasional pertama Indonesia.

‎Namun, kontribusi besar itu tidak selalu berbanding lurus dengan pengakuan. Assaat memilih bersikap kritis terhadap Demokrasi Terpimpin yang digaungkan Presiden Soekarno.

‎“Sikap politiknya membuat Assaat tersisih dari panggung kekuasaan dan narasi sejarah arus utama,” kata pengamat politik.

‎Meski demikian, jejak pengabdiannya tetap nyata. Assaat bukan sekadar pemangku jabatan presiden, melainkan teladan integritas dan pengabdian yang layak dikenang sebagai bagian penting sejarah Republik Indonesia.

(waw)

Berita Terkait

‎Lokakarya BMT 2026 Percepat Digitalisasi, Ketua ABSINDO Baru Terpilih
Pemimpin Kampus Jangan Simbolis, Prof Edy Tegas Soroti Transformasi
Harda Resmikan Jembatan Jatra Winongo, Dorong Ekonomi Warga Sinduadi
PPP DIY Sambangi PWNU Perkuat Silaturahmi Jelang Muscab Serentak
Kementerian HAM Targetkan 1.500 Kampung REDAM, Yogyakarta Masuk Tahap Awal
Pick Up Tahu Bulat Terbakar Hebohkan Jalan Kerto Siang Hari
Khudazi Aulawi Resmi Pimpin AIPNI Regional VIII Periode Baru
Pengusaha Rokok Bangun Masjid Kenang Istri Tewas Kecelakaan Tragis

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 19:32 WIB

‎Lokakarya BMT 2026 Percepat Digitalisasi, Ketua ABSINDO Baru Terpilih

Sabtu, 18 April 2026 - 19:26 WIB

Pemimpin Kampus Jangan Simbolis, Prof Edy Tegas Soroti Transformasi

Sabtu, 18 April 2026 - 12:35 WIB

PPP DIY Sambangi PWNU Perkuat Silaturahmi Jelang Muscab Serentak

Sabtu, 18 April 2026 - 12:28 WIB

Kementerian HAM Targetkan 1.500 Kampung REDAM, Yogyakarta Masuk Tahap Awal

Sabtu, 18 April 2026 - 08:05 WIB

Pick Up Tahu Bulat Terbakar Hebohkan Jalan Kerto Siang Hari

Berita Terbaru