Home / UMY

Wisudawan UMY Asal Papua: Ketika Perbedaan Agama Bukan Batas untuk Belajar

Kamis, 17 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto wisudawan UMY asal Papua, Yongki Sostenes Yesyan saat memberikan sambutan kesan pesan selama menjalani studi di UMY pada  Wisuda Periode I Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (17/9/2026)

Foto wisudawan UMY asal Papua, Yongki Sostenes Yesyan saat memberikan sambutan kesan pesan selama menjalani studi di UMY pada Wisuda Periode I Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (17/9/2026)

JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA – Ada keraguan yang sempat dibawa Yongki Sostenes Yesyan ketika pertama kali memutuskan melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Berasal dari Sorong, Papua Barat Daya, dan beragama Kristen Protestan, ia akan menempuh studi di kampus yang dikenal membawa nilai-nilai Islam.

Keraguan itu muncul bukan karena pengalaman buruk, melainkan karena bayangan tentang bagaimana kehidupan akademik di kampus berbasis Islam yang selama ini ada dalam pikirannya. Namun, Yongki memilih untuk tidak berhenti pada asumsi. Ia mencoba datang, belajar, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa UMY.

Dua tahun kemudian, keraguan tersebut justru berubah menjadi pengalaman yang membuatnya melihat keberagaman dari perspektif berbeda.

“Awalnya saya memang agak sedikit ragu, tetapi saya memilih UMY karena yakin dengan toleransi keagamaan yang sangat kuat di sini. Setelah saya mencoba dan menjalani proses perkuliahan, ternyata tidak seperti yang ada dalam pikiran saya sebelumnya. Saya tetap bisa memegang kepercayaan saya, sementara proses belajar dan menerima teori selama kuliah juga berjalan dengan lancar,” ujar Yongki saat dihubungi secara daring pada Jumat (18/9).

Yongki merupakan salah satu wisudawan pada Wisuda Periode I Tahun Akademik 2026/2027 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berlangsung di Sportorium UMY, Kamis (17/9/2026).

Yongki menjadi salah satu wisudawan Magister Ilmu Pemerintahan UMY setelah memulai studinya pada 2024. Selama menjalani perkuliahan hingga menyelesaikan studi pada 2026, ia menemukan bahwa perbedaan keyakinan tidak serta-merta menciptakan jarak dalam kehidupan akademik.

Menemukan Ruang untuk Belajar

Hari-hari Yongki di kampus berjalan seperti mahasiswa lainnya. Ia mengikuti perkuliahan, berdiskusi dengan dosen, mengerjakan tugas, serta berbincang dengan teman-temannya.

Dalam keseharian itu, ia tidak merasa harus membatasi diri karena perbedaan agama. Justru melalui interaksi sederhana tersebut, Yongki menemukan bahwa keberagaman dapat hadir secara alami dalam kehidupan kampus.

“Selama berkuliah, saya ngobrol dengan teman-teman rasanya biasa saja, tidak terlalu tegang. Kami bisa membahas perkuliahan dan ngobrol santai. Jadi, suasana yang saya rasakan tidak seperti pandangan dari luar tentang kampus yang memiliki nilai-nilai Islam,” tandasnya.

Bagi Yongki, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar yang tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Bertemu dengan orang-orang dari latar belakang berbeda membuatnya memahami bahwa pendidikan juga memberi ruang untuk mengenal perbedaan dan membangun hubungan tanpa harus kehilangan keyakinan masing-masing.

Ia tetap memegang kepercayaannya, sementara di sisi lain ia dapat mengikuti proses akademik dan menyerap ilmu yang diberikan selama perkuliahan.

Dari situlah, pandangannya terhadap UMY perlahan berubah. Kampus yang sebelumnya ia lihat dari kejauhan dengan sejumlah keraguan, akhirnya menjadi tempat ia menyelesaikan pendidikan magister.

Dari Tidak Dikenal hingga Memiliki Karya

Perjalanan Yongki di UMY tidak berhenti pada pengalaman mengenai keberagaman. Studi magister juga memberinya kesempatan untuk berkembang dalam bidang akademik, termasuk menghasilkan karya ilmiah.

Ia mengenang bagaimana dirinya dahulu belum memiliki publikasi artikel. Kini, setelah menjalani proses akademik di UMY, namanya mulai dapat ditemukan melalui karya yang dihasilkannya.

“Saya dulu tidak punya publikasi artikel. Seolah Google saja tidak tahu siapa saya. Sekarang saya bersyukur, ketika nama saya ditulis di Google, sudah ada karya saya. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada UMY,” ungkap Yongki.

Bagi Yongki, perubahan tersebut menjadi salah satu hal yang paling ia syukuri dari perjalanan studinya. Pendidikan tidak hanya memberinya gelar, tetapi juga pengalaman dan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dikenali sebagai bagian dari perjalanan akademiknya.

Di tengah pengalaman tersebut, keberagaman justru menjadi warna yang menyertai proses belajarnya. Perbedaan agama yang pada awalnya sempat menjadi sumber keraguan, pada akhirnya tidak menghalanginya untuk belajar dan berkembang.

Kini, setelah menyelesaikan pendidikan magisternya, Yongki membawa pengalaman tersebut sebagai pesan bagi calon mahasiswa yang mungkin memiliki keraguan serupa, khususnya mereka yang berasal dari latar belakang non-Islam.

Ia mengajak calon mahasiswa untuk tidak membentuk pandangan hanya berdasarkan apa yang didengar dari orang lain. Baginya, pengalaman langsung dalam mencari ilmu jauh lebih penting daripada sekadar menilai sesuatu dari kejauhan.

“Jangan kita pandang dari jauh, intinya kita mencoba dulu. Jangan hanya mendengar cerita orang, tetapi kita sendiri yang mencoba. Yang paling penting adalah rasa penasaran terhadap ilmu. Di kampus mana pun ilmu itu berada, kita tetap harus berjuang,” tuturnya.

Bagi Yongki, pada akhirnya pendidikan adalah tentang keberanian untuk mencoba dan kemauan untuk terus belajar. Perbedaan latar belakang tidak harus menjadi dinding yang memisahkan seseorang dari kesempatan memperoleh ilmu.

Dari Sorong hingga Yogyakarta, perjalanan Yongki menjadi cerita tentang bagaimana keraguan dapat berubah menjadi pengalaman, dan bagaimana ruang belajar dapat mempertemukan orang-orang dengan keyakinan yang berbeda dalam tujuan yang sama. Berkembang melalui ilmu. (gla)

Sumber : humas umy

Berita Terkait

Student Fair 2026, UMY Dorong Mahasiswa Bangun Jejaring dan Kembangkan Potensi
Wacana Parliamentary Threshold Naik 5 Persen, Akademisi UMY Soroti Risiko Suara Pemilih Terbuang
Pengawasan Kepala Daerah Dinilai Belum Seimbang di Tengah Dominasi Eksekutif
Dua Kepala Daerah Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Pakar UMY Soroti Titik Rawan Kewenangan
Habis Karhutla Terbitlah Sawit, Pakar UMY Ingatkan Risiko Alih Fungsi Kawasan Lindung
PUSDHAM UMY Resmi Layangkan Amicus Curiae Perkara PHPU Pilpres 2024 ke MK
Pelunasan BLBI Selesai, Ekonom UMY Ingatkan Risiko Ketergantungan pada Surplus BI
Ekonom UMY Bedah Mekanisme Surplus Bank Indonesia di Balik Pelunasan Utang BLBI

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 13:18 WIB

Student Fair 2026, UMY Dorong Mahasiswa Bangun Jejaring dan Kembangkan Potensi

Rabu, 30 September 2026 - 12:30 WIB

Wacana Parliamentary Threshold Naik 5 Persen, Akademisi UMY Soroti Risiko Suara Pemilih Terbuang

Rabu, 30 September 2026 - 11:38 WIB

Pengawasan Kepala Daerah Dinilai Belum Seimbang di Tengah Dominasi Eksekutif

Rabu, 30 September 2026 - 11:32 WIB

Dua Kepala Daerah Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Pakar UMY Soroti Titik Rawan Kewenangan

Rabu, 30 September 2026 - 09:13 WIB

Habis Karhutla Terbitlah Sawit, Pakar UMY Ingatkan Risiko Alih Fungsi Kawasan Lindung

Berita Terbaru

Yogyakarta

Pemkab Sleman Serahkan Santunan Rp74 Juta, Lindungi Pekerja

Jumat, 16 Okt 2026 - 11:26 WIB