UMY Dorong Indonesia Beralih ke Tata Kelola Maritim Kolaboratif, Pendekatan Hierarkis Kurang Adaptif

Jumat, 31 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi - Pengejaran kapal asing penangkap ikan ilegal. (Joke)

Ilustrasi - Pengejaran kapal asing penangkap ikan ilegal. (Joke)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Indonesia dinilai masih mengandalkan pola tata kelola keamanan maritim yang bersifat hierarkis dan terpusat, terutama dalam menghadapi praktik penangkapan ikan ilegal atau Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah masih menempatkan isu IUU Fishing bukan semata persoalan ekonomi dan sumber daya laut, melainkan sebagai ancaman terhadap kedaulatan nasional.

Pandangan tersebut disampaikan dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Rafyoga Jehan Pratama Irsadanar, dalam Joint Dissemination Seminar bertema “Maritime Security Governance against IUU Fishing: Comparative Study on Japan and Indonesia” yang diselenggarakan di Kyoto University, Jepang, Rabu (29/10).

Menurut Rafyoga, model tata kelola yang digunakan Indonesia saat ini masih berorientasi pada komando tunggal di bawah otoritas pusat. “Indonesia masih menggunakan model hierarchical cooperative governance, di mana koordinasi antarlembaga berjalan di bawah kendali pemerintah pusat. Keputusan strategis tetap ditentukan oleh lembaga dengan kewenangan langsung,” ujarnya.

Ia mencontohkan pembentukan Satuan Tugas 115 pada 2015 melalui Keputusan Presiden sebagai bukti pendekatan hierarkis dalam menghadapi IUU Fishing. Satgas yang melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), TNI Angkatan Laut, Badan Keamanan Laut (BAKAMLA), Kepolisian Perairan, dan Kejaksaan Agung itu bertujuan memusatkan koordinasi dan mengurangi tumpang tindih kewenangan. “Namun, pola ini juga memperlihatkan bahwa negara menempatkan IUU Fishing sebagai isu keamanan nasional, bukan semata urusan administratif,” lanjutnya.

Rafyoga menilai, Indonesia kini memasuki fase penting dalam merancang tata kelola maritim yang lebih adaptif terhadap dinamika regional, terutama setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 yang memperkuat peran BAKAMLA sebagai lembaga koordinatif utama.

“Sekuritisasi isu maritim di Indonesia masih tinggi sehingga fokus kebijakan lebih pada aspek keamanan dan kedaulatan. Ini berbeda dengan Jepang yang menerapkan polycentric collaborative governance, yakni model yang membagi peran antarlembaga secara seimbang tanpa komando tunggal,” paparnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem tata kelola maritim yang lebih inklusif dan kolaboratif tanpa mengorbankan efektivitas koordinasi di tingkat pusat. “Pendekatan kolaboratif dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan keamanan dan efisiensi pemerintahan,” kata Rafyoga.

Kegiatan diseminasi ini merupakan bagian dari kolaborasi riset antara UMY dan Kobe City University of Foreign Studies, bekerja sama dengan Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University serta didukung oleh The Sumitomo Foundation.

Rafyoga menutup paparannya dengan menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat sekuritisasi isu maritim, semakin besar kecenderungan negara membangun sistem yang terpusat dan hierarkis. “Pola ini efektif untuk ancaman jangka pendek, tetapi untuk jangka panjang, Indonesia perlu mekanisme tata kelola kolaboratif agar koordinasi lintas lembaga dapat berlangsung lebih berkelanjutan,” pungkasnya. (ihd)

Berita Terkait

Mataf UMY: 7.131 Mahasiswa Memulai Perjalanan: Belajar Ilmu sekaligus Kehidupan 
Ketika Cita-cita Menjadi Dokter Harus Diperjuangkan hingga ke Ujung Sinyal
UMY Siapkan Sustainability Center, Belajar dari Smart Eco Campus ITS
HMI Tunas Bangsa UMY Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di NTT
Jawab Keresahan Soal LKS Mahal, Bupati Aep Gratiskan Modul Siswa SD-SMP di Karawang
Kreatif dan Bernilai Jual, Singkong Jadi Sushi di Program Pengabdian Untirta
UMY Perkuat Reputasi Global di Tengah Ketatnya Persaingan Kampus Asia
UMY Ubah Pola Konsumsi Rapat, 1.500 Pegawai Makan Siang Gratis Terpusat

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 15:15 WIB

Mataf UMY: 7.131 Mahasiswa Memulai Perjalanan: Belajar Ilmu sekaligus Kehidupan 

Minggu, 6 September 2026 - 18:32 WIB

Ketika Cita-cita Menjadi Dokter Harus Diperjuangkan hingga ke Ujung Sinyal

Sabtu, 5 September 2026 - 18:20 WIB

UMY Siapkan Sustainability Center, Belajar dari Smart Eco Campus ITS

Selasa, 1 September 2026 - 21:09 WIB

HMI Tunas Bangsa UMY Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di NTT

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:07 WIB

Jawab Keresahan Soal LKS Mahal, Bupati Aep Gratiskan Modul Siswa SD-SMP di Karawang

Berita Terbaru

Yogyakarta

Lapangan Warak Diserbu Sampah Liar, Warga Desak Tindakan Tegas

Sabtu, 3 Okt 2026 - 14:55 WIB

Yogyakarta

Sidang Reno Bongkar Dugaan Sewa TKD, Negara Rugi Rp1,74 Miliar

Sabtu, 3 Okt 2026 - 14:36 WIB