Tim Ekspedisi Sejarah Dorong Penelitian Ilmiah Situs Batu Lingga Abad ke-7 hingga ke-14

Jumat, 17 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Tasikmalaya — Sebuah situs bersejarah yang sarat nilai spiritual dan budaya kembali menjadi perhatian publik. Tim Ekspedisi Wisata Sejarah yang dipimpin oleh Abah H. Anton Charliyan mengunjungi Batu Lingga Gunung Payung yang terletak di Dusun Awiluar, Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Cineam, Manonjaya, Tasikmalaya. Situs ini berbatasan langsung dengan Desa Nagara Tengah, wilayah yang diyakini pernah menjadi pusat Kerajaan Nagara Tengah pada masa lampau.

Perjalanan menuju lokasi situs dimulai dari Lapangan Kiara Korsi, tempat tumbuhnya dua pohon kiara berusia ratusan bahkan ribuan tahun. Dari pusat Kota Tasikmalaya, perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit dengan kendaraan roda empat hingga titik tersebut. Setelah itu, tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 30 menit melalui jalur terjal dan licin, terutama saat hujan turun.

Di sepanjang jalur pendakian, terdapat sejumlah titik bersejarah. Bukit pertama menjadi lokasi Cai Kahuripan, tempat penyucian diri sebelum menuju puncak. Selanjutnya, pada bukit kedua, terdapat makam Kiayi Jaga Bejo Jaka Supena, dan sedikit lebih ke atas lagi terdapat Batu Pangasahan Si Belang. Setelah melewati tanjakan terakhir, tibalah tim di lokasi utama, yaitu Batu Lingga Yoni Gunung Payung.

Batu lingga tersebut berdiri di atas gundukan tanah di sisi kanan puncak bukit. Batu ini memiliki tinggi sekitar 80 sentimeter dan lebar 20 sentimeter dengan ujung berbentuk setengah lingkaran. Pada bagian bawah terdapat ukiran melengkung di empat sisi, yang menunjukkan bahwa batu ini adalah hasil karya manusia, bukan batu alami.

Sayangnya, batu yoni atau alas batu lingga kini telah hilang. Menurut keterangan warga dan perangkat desa, dulunya batu tersebut ada dan posisinya berada di tengah puncak, bukan di pojok seperti sekarang. Namun, tidak diketahui secara pasti alasan pemindahannya maupun keberadaan batu alas tersebut saat ini.

Pada masa kejayaan Kerajaan Nagara Tengah, situs Batu Lingga Gunung Payung merupakan tempat suci untuk berdoa, bertapa, dan meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Warga meyakini bahwa doa yang dipanjatkan dengan hati bersih dan tulus di tempat ini akan lebih mudah dikabulkan. Keyakinan ini terus hidup di masyarakat sekitar hingga kini.

Selain itu, kawasan Gunung Payung juga diyakini menjadi tempat pertapaan raja, pejabat kerajaan, dan sesepuh Kerajaan Nagara Tengah, Kabataraan Galunggung, dan Galuh Pakuan. Di puncak tertinggi, terdapat dua makam kuno yang diyakini sebagai makam Eyang Rama Gumulung Putih dan Eyang Ratu Gumulung Putih, leluhur dari Kerajaan Galunggung.

Menurut catatan naskah kuno, situs ini awalnya merupakan punden berundak. Namun, akibat letusan gunung berulang kali, bentuk aslinya tertimbun tanah. Para pemerhati sejarah menilai, diperlukan ekskavasi oleh tim ahli untuk mengungkap bentuk aslinya secara lebih mendalam.

Asal usul pasti batu lingga ini masih menjadi misteri. Sebagian sumber menyebut, batu ini dibuat pada masa awal Kerajaan Galuh sekitar abad ke-7. Ada pula yang meyakini dibuat pada masa Kabataraan Galunggung abad ke-9, atau pada masa Kerajaan Nagara Tengah sekitar abad ke-14. Untuk memastikan usia pastinya, para peneliti menyarankan dilakukan uji carbon dating secara ilmiah.

Tim Ekspedisi yang ikut dalam kegiatan ini antara lain Kapolsek Tanjungjaya Iptu Deny H., tokoh masyarakat H. Iyus, Tim Gasantana Hadi Permana dan Ambu Apong, Kades dan Sekdes Sirnajaya H. Asep Sopandi, Kadus Awiluar, Kapuskesmas Tanjungjaya dr. Kustiana, Karang Taruna, dan warga setempat. Total peserta ekspedisi sekitar 20 orang.

Kegiatan ekspedisi ini ditutup dengan botram (makan bersama) di Saung Haji Iyus, Karangjaya. Menu tradisional seperti ikan gurame bakar, pepes, ayam kampung goreng, sambal lalap pedas, asin peda, jengkol, dan pete menjadi pelengkap suasana kebersamaan usai napak tilas sejarah panjang Gunung Payung.(*)

Berita Terkait

Diskusi Publik di Universitas Padjadjaran Tegaskan Urgensi Pengesahan RUU Masyarakat Adat
Sebar Tajil Kurma dan Musabaqoh, Ramadhan Expo Cibatu Hadirkan Ragam Kegiatan Sosial-Religi
Seminar Nasional di Garut Soroti Kemandirian Ekonomi Umat
Catatan Akhir Sekolah Perkuat Silaturahmi dan Pembinaan Pelajar di Kota Bogor
Menko AHY Soroti Pentingnya Konsistensi Kebijakan dalam Rakornas 2026
Presiden Prabowo Tegaskan Pentingnya Sinergi Pusat dan Daerah pada Rakornas 2026
Wujud Kepedulian TNI AU, Personel Lanud Husein Sastranegara Bantu Pemulihan Pascabencana Longsor
Rakor Porprov XV Jawa Barat 2026, Bekasi Dorong Kolaborasi Lintas Perangkat Daerah

Berita Terkait

Rabu, 25 Februari 2026 - 18:19 WIB

Diskusi Publik di Universitas Padjadjaran Tegaskan Urgensi Pengesahan RUU Masyarakat Adat

Minggu, 22 Februari 2026 - 13:22 WIB

Sebar Tajil Kurma dan Musabaqoh, Ramadhan Expo Cibatu Hadirkan Ragam Kegiatan Sosial-Religi

Kamis, 19 Februari 2026 - 17:07 WIB

Seminar Nasional di Garut Soroti Kemandirian Ekonomi Umat

Jumat, 6 Februari 2026 - 21:17 WIB

Catatan Akhir Sekolah Perkuat Silaturahmi dan Pembinaan Pelajar di Kota Bogor

Senin, 2 Februari 2026 - 22:50 WIB

Menko AHY Soroti Pentingnya Konsistensi Kebijakan dalam Rakornas 2026

Berita Terbaru